Koran Jakarta | August 21 2019
No Comments
Kebijakan Moneter | Bank Sentral Tahan BI 7 Days Reverse Repo Rate di Level 6 Persen

Kredibilitas BI Diuji Stabilisasi Rupiah

Kredibilitas BI Diuji Stabilisasi Rupiah

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Saat ini, Bank Indonesia harus menggunakan cadangan devisa dan membiarkan suku bunga acuannya tidak berubah untuk stabilisasi rupiah.

 

JAKARTA – Kepala Kajian Makro dan Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Ma­syarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Febrio Kacaribu di Jakarta, Kamis (16/5) men­gatakan kredibilitas Bank In­donesia (BI) saat ini akan diuji dalam menstabilkan nilai tukar rupiah. Hal itu disampaikan ter­kait dengan pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan­an BI yang dalam keputusannya tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 days Reverse Repo Rate di level 6 persen.

“Untuk saat ini, bank sentral harus menggunakan cadan­gan devisa dan membiarkan suku bunga acuannya tidak berubah,” kata Febrio.

Menurut dia, tantangan bagi perekonomian saat ini yaitu investasi melambat se­bagai akibat dari sikap wait and see investor di tengah pe­milihan umum dan tren penu­runan harga komoditas telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari perkiraan pada triwulan-I 2019. Secara sektoral, pertum­buhan yang lebih rendah se­cara signifikan disumbang oleh kelanjutan dari melambatnya pertumbuhan manufaktur di tiga kuartal berturut-turut.

Inflasi bulan lalu tetap ren­dah di 2,83 persen (yoy), diban­dingkan dengan inflasi 3,41 per­sen pada bulan sama tahun lalu, memperkuat asumsi bahwa permintaan domestik belum se­penuhnya merespons perayaan demokrasi dan bulan Ramadan.

Demikian juga perbaikan defisit transaksi berjalan di triwulan-I 2019 terbukti ma­sih sangat rentan. Dengan de­fisit neraca transaksi berjalan kurang dari 3 persen PDB di 2019 masih cukup menantang. Selain itu, ketegangan perda­gangan yang semakin mem­buruk antara AS dan Tiongkok akan terus berlanjut.

“Hal ini telah meningkatkan sentimen negatif terhadap ru­piah yang menyebabkan flight to safety di pasar obligasi dan saham,” kata Febrio.

Setelah sempat terapresiasi hingga minggu kedua April 2019 akibat kenaikan aliran modal asing, kini rupiah mulai kembali terdepresiasi perla­han pada kisaran level 14.400. Ketidakpastian yang semakin meningkat utamanya dipicu oleh tensi perang dagang yang terus memburuk, seiring den­gan pernyataan Trump yang meningkatkan tarif impor ter­hadap produk negara Tiongkok sehingga mengganggu ekspe­ktasi pasar.

Di tengah persepsi pasar ter­kait dengan peringkat obligasi pemerintah Indonesia yang masih bernilai BBB-, fenomena flight-to-safety kembali terjadi. Investor global menghindari aset berisiko, termasuk Ru­piah, yang mendorong mereka untuk memindahkan kembali asetnya ke investasi yang lebih aman, sehingga memicu lebih banyak aliran keluar untuk in­vestasi portofolio.

Sesuai Perkiraan

Sementar itu, Kepala Eko­nomi Bank BNI, Ryan Kiryanto mengatakan keputusan BI mempertahankan BI 7-day Re­verse Repo Rate (BI7DRR) se­besar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lend­ing Facility sebesar 6,75 persen sesuai perkiraan karena dimak­sudkan untuk menjaga sta­bilitas eksternal perekonomian Indonesia di tengah ketidakpas­tian pasar keuangan global yang meningkat serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

“BI harus terus mencermati perkembangan pasar keuan­gan global agar pengelolaan stabilitas eksternal perekono­mian Indonesia dapat dilaku­kan dengan efisien dan efektif,” kata Ryan.

BI sendiri menyatakan akan terus mencermati kondisi pa­sar keuangan global dan sta­bilitas eksternal perekonomian Indonesia dalam mempertim­bangkan terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan eko­nomi di dalam negeri. bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment