Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments

Kratom Pohon Tropis Penghilang Rasa Sakit

Kratom Pohon Tropis Penghilang Rasa Sakit

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Kratom, pohon tropis yang semakin banyak digunakan di seluruh dunia sebagai obat penghilang rasa sakit dan pengganti opioid, kini menjadi sorotan di Barat. Namun di Desa Tuana Tuha, di pedalaman di Kalimantan Timur tumbuhan itu dianggap sebagai berkah dan menjadi mata pencaharian sebagian besar warga.

Kratom atau Mitragyna speciosa, tumbuh di Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Papua Nugini. Seperti morfin, tumbuhan ini mengandung senyawa yang bekerja di reseptor dan mempengaruhi pikiran. Kemampuan ini membuat kratom menjadi obat herbal yang populer. Saat ini, pihak berwenang AS, tengah meneliti kratom setelah lebih dari 130 orang meninggal setiap hari akibat penggunaan opioid yang overdosis.

Meskipun telah mencabut status kratom sebagai zat ilegal, Badan Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) tetap mengeluarkan peringatan dalam mengkonsumsi obat ini. Sementara BNN telah mengusulkan pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar mengklasifikasikan kratom sebagai psikotropika kelas satu, seperti heroin dan kokain. Pelanggaran narkoba dalam kategori ini dapat dikenai hukuman maksimal 20 tahun penjara. “Kami meminta Kemenkesuntuk mengklasifikasikannya sebagai obat terlarang kelas satu. Bahaya kratom sepuluh kali lipat dari kokain atau ganja.

Pembahasan masih berlangsung,” kata Wakil Kepala Rehabilitasi, BNN, Yunis Farida Oktoris Triana, baru-baru ini. Sementara American Kratom Association memperkirakan, pada Juni, terdapat 15,6 juta pengguna kratom di AS, dan industri ini memiliki nilai lebih dari satu miliar dolar AS. Pada 2016, Badan Administrasi Penegakan Narkoba AS (DEA), mengusulkan menaikkan status kratom ke obat Jadwal I, setara dengan heroin, LSD dan MDMA.

Namun setelah memantik kritik luas, akhirnya proposal itu ditarik. Kekhawatiran tentang dampak kratom, yang dapat membuat pengguna kecanduan atau efek samping lainnya masih ada. Bulan lalu, warga Florida ditangkap setelah seorang lelaki cacat yang ia rawat meninggal karena kepanasan dalam kendaraannya. “Pria itu tertidur di dalamnya setelah menelan dua paket bubuk kratom,” kata polisi AS. SB/R-1

Dikenal sebagai Kedemba

Baik di Barat, maupun di Indonesia, kratom mudah didapatkan dengan cara memesan di internet. Kratom dijual sebagai bubuk hijau, teh atau permen karet. Kratom adalah tanaman asli di Desa Tuana Tuha, yang berpenduduk 3.000 orang. Desa itu terletak sekitar empat jam perjalanan dari Samarinda. Pohon-pohon kratom yang dikenal sebagai kedemba, adalah bagian dari keluarga kopi dan tumbuh hingga ketinggian tujuh meter.

Pohon ini dengan cepat menjadi sumber pendapatan utama penduduk desa, menggantikan kelapa sawit dan perikanan. “Kratom adalah pohon liar yang tumbuh di halaman belakang kami dan di seluruh desa. Ada 1.200 hektar lahan yang dulunya merupakan perkebunan kelapa sawit, sekarang dipenuhi pohon kratom. Kami punya pepatah, dengan kedemba, jika kami menemukan pohon, kami menemukan uang,” kata Tommy, Kepala Desa Tuana Tuha.

Umumnya mata pencarian penduduk Desa Tuana Tuha adalah nelayan, tapi ketidakpastian dan biaya, memaksa mereka meninggalkan profesi itu. Pada akhir 2017, lelaki dari Pontianak, Kalbar, mengunjungi desa itu untuk membeli daun kratom, dan memberi tahu penduduk bahwa daun-daun itu sangat diminati di luar negeri. Menurutnya, daun tersebut telah dibudidayakan sejak 2004 di Pontianak. “Penduduk desa di sini selama beberapa generasi telah minum air rebusan kulit pohon kedemba, terutama untuk wanita seusai melahirkan untuk membersihkan darah kotor, dan mempercepat proses penyembuhan, tapi kami tidak pernah mengonsumsi daunnya.

Jadi kami percaya orang itu ketika dikatakan bahwa orang asing telah menggunakan kedemba sebagai obat herbal,” kata Tommy. Awalnya warga Tuana Tuha kesulitan memetik daun kratom karena tidak ada yang mengajari cara melakukannya. “Bentuk daun kratom sangat tipis dan berbeda dengan tanaman lain seperti padi dan jagung. Ketika saya pertama kali mulai, saya hanya mendapat 50 kilogram per hari karena tidak tahu cara memetik daun dengan cepat, jadi saya mengambilnya satu per satu,” kata Iksan Maulana, salah satu petani kratom di Tuana Tuha.

Iksan menjelaskan, dia takut memanjat pohon, tetapi harus melakukannya karena cara itu adalah satu-satunya jalan mendapatkan daun Kratom. “Dalam tiga hari, saya belajar bagaimana melakukannya dengan benar. Saya juga belajar daun tua lebih mudah dipetik daripada daun muda,” tuturnya. Sekarang Iksan dapat memanen daun hingga 200 kilogram per hari. Keahlian barunya itu telah menghasilkan 400.000 rupiah per hari. SB/R-1

Berusaha Yakinkan Pemerintah

Tahun ini, Desa Tuana Tuha mengalami puncak panen kratom antara Januari dan Mei. Dengan 300 pemetik kratom dapat memperoleh hingga 50 ton daun kratom per bulan, menghasilkan pendapatan satu miliar rupiah. Di bawah sinar matahari Kalimantan yang terik, daundaun itu kering hanya dalam enam jam, dan kemudian ditempatkan di gerinda. Langkah terakhir adalah penyaringan, di mana penduduk desa memisahkan daun dan tangkai.

Setelah itu daun dimasukkan ke karung dan dikirim dengan truk ke pembeli dan eksportir di Kalbar. Sementara pemetik kratom di Tuana Tuha masih mengandalkan pohon kratom yang ada, petani di Desa Sebelimbingan yang terletak sekitar 36 kilometer dari desa itu mulai menanam kratom. Sauqani, penjual bibit kratom berusia 44 tahun, sejak enam bulan lalu telah menanam 17.000 pohon di lahan seluas dua hektar.

Dia menargetkan panen pada akhir tahun ini, dengan hasil lima ton daun kratom kering. “Hasil yang baik untuk panen pertama. Seorang pembeli di Pontianak mengatakan kepada saya bahwa bisnis kratom ini sangat menjanjikan karena memiliki nilai jual yang baik dan siklus produksinya cepat, kami dapat memanen delapan bulan setelah penanaman. Ini lebih cepat daripada tanaman lain, seperti kelapa sawit yang membutuhkan waktu enam tahun untuk panen,” kata Sauqani. Menenangkan pengguna di luar negeri, dan regulator, akan sangat penting bagi petani seperti Sauqani. Namun, legalitas kratom yang belum jelas juga dapat menempatkan masa depan penduduk desa di Tuana Tuha dan petani di Sebelimbingan dalam ketidakapstian.

Desa Tuana Tuha hanya memetik daun kratom hanya ketika ada pesanan dari Kalbar. Hal itu membuat pemetik dan penggiling lebih banyak menganggur hampir sepanjang bulan. Sementara itu di Sebelimbingan, rencana BNN untuk memproses pengguna kratom telah menyebabkan Sauqani mempertanyakan masa depan perkebunan kratomnya yang baru. “Kami berusaha meyakinkan pemerintah bahwa kratom tidak akan disalahgunakan di Indonesia. Jika disalahgunakan di AS, itu bukan tanggung jawab petani kratom di Indonesia. Lihat rokok, jelas menyebabkan kanker dan serangan jantung, tetapi mereka masih dijual bebas, ini juga harus diterapkan pada kratom,” pungkas Sauqani. SB/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment