Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments
Debat Capres - Pendukung di Belakang Paslon Dinilai Mengganggu

KPU Menuai Pujian

KPU Menuai Pujian

Foto : ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan seusai mengikuti debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). Debat itu mengangkat tema energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastruktur.
A   A   A   Pengaturan Font
KPU meminta pendukung kedua paslon di lokasi debat selanjutnya mengikuti tata tertib.

JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) memiliki catatan-catatan yang akan menjadi bahan evaluasi saat debat calon presiden 2019 Minggu (17/2) lalu. Meski masih ada kekurangan, namun banyak pihak mengapresiasi jalannya debat kedua yang dianggap lebih baik penyajiaannya ketimbang debat pertama.

Anggota KPU, Viryan Azis. mengungkapkan, ketika debat (Minggu 17/2), di setiap sesi yang berlangsung, KPU telah mengidentifikasi beberapa hal penting yang akan dijadikan evaluasi untuk debat pilpres ketiga nanti. Beberapa di antaranya adalah jumlah pendukung kedua paslon yang hadir terlalu banyak sehingga mengganggu konsentrasi dua kandidat capres dalam berdebat.

Terkait hal itu, setidaknya ada dua hal yang akan dilakukan KPU. Pertama, pada saat debat ketiga nanti, jumlah pendukung kedua paslon yang berada di dalam ruangan dikurangi, atau yang kedua, tidak ada pendukung kedua paslon di lokasi debat sama sekali. Ia meminta pendukung kedua paslon di lokasi debat selanjutnya mengikuti tata tertib supaya kandidat bisa fokus menyampaikan ide dan gagasannya untuk membangun bangsa.

“Dan itu kami (KPU) melihat sendiri, kalau jumlah pendukung terlalu banyak, membuat kandidat tidak konsentrasi,” kata Viryan di KPU, Menteng, Senin (18/2). Dalam kesempatan itu, Viryan juga menampik adanya dugaan kebocoran soal/pertanyaan terkait teknis pengambilan pertanyaan dalam fishbowl, ada yang dilakukan terpisah dan ada yang digabung.

Menurutnya, seluruh teknis debat antarcapres sudah disepakati sebelumnya, baik oleh Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin dan Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno. Kemudian, juga ada isu capres nomor urut 01, Joko Widodo, menggunakan earpiece (alat pendengar yang disisipkan dalam telinga penggunanya).

Jika benar ditemukan hal semacam itu, maka Viryan, persilakan melapor kepada Badan Pengawas Pemilu. “Teknis pelaksanaan debat sudah dibahas sebelumnya bersama tim kampanye masing- masing pasangan calon. Dan jika memang ada temuan pelanggaran, silakan melaporkan kepada Bawaslu,” tegasnya.

Lebih jauh ia menegaskan, KPU akan secepatnya mengevaluasi berjalannya debat capres 17 Februari 2019 lalu itu bersama Bawaslu dan kedua tim pemenangan capres- cawapres. Namun, Viryan belum memastikan kapan evaluasi tersebut dilakukan.

 

Rekomendasi Bawaslu

 

Di tempat terpisah, anggota Bawaslu, Fritz Edward Siregar, mengapresiasi pelaksanaan debat capres itu. Bawaslu menilai KPU telah menjalankan beberapa rekomendasi Bawaslu semisal, debat pertama pendukung kedua paslon berada di belakang kedua paslon yang dinilai mengganggu, dan di debat kedua hal itu sudah tidak ada lagi.

Fritz belum mau menjabarkan apa saja kekurangan atau pelanggaran apa yang terjadi selama berjalannya debat capres. Namun, kata Fritz, ia mempersilakan kepada siapa pun yang melihat kecurangan atau kekurangan, baik yang dilakukan paslon maupun penyelenggara dalam hal ini KPU, kepada Bawaslu.

“Terus terang, saya tidak bisa berkomentar terkait pelaksanaan debat. Tapi kami mempersilakan kepada para pihak-pihak yang merasa apabila ada dugaan pelanggaran pemilu yang terjadi pada saat debat untuk melaporkannya kepada kami (Bawaslu),” kata Fritz. Sementara itu, Ketua Umum PKPI, Diaz Hendropriyino, menguraikan beberapa kejanggalan paparan capres nomor urut 02, Prabowo.

Parbowo dinilai lebih banyak mengurai mimpi dan tidak “nyambung” dengan substansi implementasi tema yang telah disodorkan oleh panelis. Mengenai substansi Unicorn misalnya, Diaz berpendapat Prabowo perlu belajar mengenai tren dunia yang semakin berubah ke arah digital.

Ketidaktahuan Prabowo dalam isu “unicorn” dan bahkan memiliki sikap sinis terhadap ekonomi digital ini menunjukkan ketidaksanggupan Prabowo dalam menghadapi perubahan paradigma dunia. 

 

rag/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment