Koran Jakarta | April 21 2019
No Comments
Penghitungan Suara Pemilu | Koordinasi Intens Dilakukan dengan Kementerian dan Lembaga

KPU Komit soal Transparansi

KPU Komit soal Transparansi

Foto : KORAN JAKARTA/TRISNO JULIANTORO
BAHAS ”SITUNG” | Peneliti Network for Democracy and Electoral Integrity (NETGRIT), Kurnia Rizkiyansyah, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Joko Widodo – Ma’ruf Amin, Lena Maryana Mukti, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Viva Yoga Mauladi, serta Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, saat Diskusi Publik ‘SITUNG’, di Media Center KPU, Imam Bonjol, Jakarta, Senin (17/12).
A   A   A   Pengaturan Font
Transparansi hasil penghitungan suara telah lama disuarakan peserta pemilu, karena itu KPU sebagai penyelenggara terus memperkuat sistem teknologi informasi untuk mendukung hal ini.

 

JAKARTA – Menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, kehadiran sistem aplikasi SITUNG kembali dibutuhkan untuk sarana informasi yang transparan. Aplikasi yang diluncurkan pada Pemilu 2014 tersebut mendapatkan apresiasi publik karena kemampuannya menampilkan data pemilu setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebagaimana adanya dalam bentuk gambar scan C1 serta dalam perkembangannya juga menampilkan hasil rekapitulasi.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah mempersiapkan aplikasi tersebut dan saat ini telah sampai ke tahap penyempurnaannya. Diharapkan, aplikasi tersebut dapat diujicoba tanggal 26-28 Desember 2018.

“KPU sedang proses menambah kemampuannya untuk menahan hacker-hacker, mulai dari hardware, software, dan SDMnya, ini sedang kami tingkatkan untuk mampu melawan itu. Kami menggunakan ahli dari dalam negeri, seratus persen dari dalam negeri bekerja sama dengan kampus-kampus ternama,” ujarnya saat Diskusi Publik ‘SITUNG dan Transparansi Hasil Pemilu 2019’, di Media Center KPU, Imam Bonjol, Jakarta, Senin (17/12).

Kemudian, Arief mengatakan pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, khususnya yang berhubungan dengan penggunaan teknologi informasi. Ia menyebutkan sudah berkomunikasi dengan Kementerian Informasi dan Komunikasi, Cyber Crime Mabes Polri, Badan Intelejen Negara, serta Badan Siber dan Sandi Negara.

Peneliti Network for Democracy and Electoral Integrity (NETGRIT), Ferry Kurnia Rizkiyansyah, mengatakan bahwa manfaat penerapan sistem informasi teknologi dalam Pemilu ini dapat mendorong transparansi proses dan hasil pemilu, serta mendorong efisiensi dan efektivitas proses dan hasil Pemilu.

“Ini yang penting, jadi bagaimana transparansi itu menjadi satu hal yang sangat penting sehingga semua pihak bisa mendapatkan informasi seluas-luasnya tentang hasil dan data Pemilu,” tuturnya.

Kerja Profesional

Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Joko Widodo – Ma’ruf Amin, Lena Maryana Mukti, mengharapkan aplikasi SITUNG tidak menjadi legitimasi terhadap hasil perolehan suara, karena ia mengaku pihaknya belum dijelaskan soal transparasi dan metode perhitungan suara yang dilakukan aplikasi tersebut. “Soalnya ada isu mobile bahwa KPU yang mengacak atau menyedot data itu, kalau tidak incumbent, itu dari pemenang,” cemasnya.

Kemudian, kata Lena, pihaknya tidak mau jika nantinya kemenangan Jokowi – Ma’ruf dianggap curang oleh kelompok tertentu sehingga dapat menimbulkan ketidakpercayaan publik. tri/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment