Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Kisi-kisi Debat - Publik Ingin Melihat Jawaban Spontan Paslon

KPU: Esensi Debat Capres Tidak Hilang

KPU: Esensi Debat Capres Tidak Hilang

Foto : ANTARA/DHEMAS REVIYANTO
A   A   A   Pengaturan Font
KPU tidak mengakomodasi tujuan debat yakni sebagai sarana bagi publik untuk mengetahui kemampuan pasangan capres dan cawapresnya menjawab permasalahan secara langsung.

 

JAKARTA - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, berpendapat diberi­kannya kisi-kisi pertanyaan ke masing-masing pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawa­pres) tujuh hari sebelum pelaksanaan debat pilpres tidak akan menghilangkan esensi debat. Dengan metode terse­but, menurut Arief, debat Pil­pres 2019 justru akan menjadi lebih menarik dibanding de­bat-debat sebelumnya.

“Debat kali ini sebetulnya lebih menarik dibanding debat-debat sebelumnya, karena de­bat yang dulu-dulu sesi debat baru terjadi di segmen-segmen terakhir,” kata Ketua KPU, Arief Budiman, di kantor KPU, Men­teng, Jakarta Pusat, Selasa (8/1).

Dalam debat kali ini, akan ada dua metode yang diter­apkan dalam empat segmen. Dua metode tersebut adalah metode terbuka, yakni kisi-kisi pertanyaan diberikan ke pasangan calon (paslon) se­belum debat. Sementara di dalam metode tertutup akan memungkinkan paslon saling melempar pertanyaan. Dua metode lontaran pertanyaan itu menyediakan waktu yang lebih panjang bagi kandidat untuk berdebat.

Arief menerangkan, meski­pun paslon sudah lebih dulu diberi tahu kisi-kisi debat, tetapi mereka tidak benar-benar tahu pertanyaan mana yang akan diajukan saat debat. Sebab, dari 20 kisi-kisi yang di­berikan, hanya akan muncul 1 pertanyaan per 1 tema untuk setiap paslon. Pertanyaan yang akan diberikan itu akan dipi­lih sendiri oleh paslon melalui sistem undian.

“Pasangan calon pun tidak tahu pertanyaan nomor bera­pa yang mereka jawab. Jadi sebetulnya ya masih setengah-setengah. Setengah terbuka,” ujar Arief.

Debat perdana Pilpres 2019 akan digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kamis, 17 Januari 2019. Tema yang diangkat adalah masalah hukum, HAM, terorisme, dan korupsi. Peserta debat pertama adalah pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Debat perdana ini akan disiarkan oleh empat lembaga penyiaran, yaitu TVRI, RRI, KOMPAS TV, dan RTV.

Setelah debat pertama, de­bat kedua rencananya akan diselenggarakan 17 Februari, debat ketiga 17 Maret, dan ke­empat 30 Maret. Sementara debat terakhir belum ditentu­kan tanggalnya lantaran KPU dan tim kampanye masih akan mengecek jadwal masing-masing pasangan calon.

Arief menegaskan, meski­pun pihaknya memberikan kisi-kisi pertanyaan ke kandidat tetapi format debat tidak akan berubah layaknya ujian sekolah.

Bukan Spontan

Di tempat terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritik kebijakan KPU yang memberi­kan kisi-kisi pertanyaan ke­pada masing-masing pasangan capres dan cawapres sepekan sebelum debat. Menurut Kalla, kebijakan KPU tersebut tidak mengakomodasi tujuan de­bat yakni sebagai sarana bagi publik untuk mengetahui ke­mampuan pasangan capres dan cawapresnya dalam men­jawab permasalahan secara langsung.

Ia mengatakan, jika KPU memberikan terlebih dahulu pertanyaan untuk debat maka tim sukses masing-masing pasangan calon akan merapat­kannya terlebih dahulu. Menurut Kalla, jawaban yang muncul saat debat adalah jawaban yang sudah disiapkan oleh timses, bukan spontan dari capres-cawapres.

Nah kalau itu dibuka du­luan, berarti yang menjawab­nya timses. Padahal yang mau diuji adalah capres-cawapres. Jadi, saya kurang pas kebijakan yang diputuskan KPU itu,” ujar Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa.

Ia berpendapat, seharusnya KPU tak perlu memberikan pertanyaan untuk dibahas ter­lebih dahulu oleh masing-mas­ing tim sukses pasangan calon. Yang ingin diketahui publik adalah kemampuan masing-masing pasangan calon un­tuk menyelesaikan masalah dengan menjawab pertanyaan dalam debat pilpres. Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment