Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Jelang KTT Hanoi

Korut Minta Bantuan PBB Atasi Krisis Pangan

Korut Minta Bantuan PBB Atasi Krisis Pangan

Foto : AFP/MANAN VATSYAYANA
AKSI PENIRU l Russel White (kiri), seorang peniru sosok Presiden AS, Donald Trump, berjabat tangan dengan Howard X, peniru dari sosok pemimpin Korut, Kim Jong-un, di luar Gedung Opera di Hanoi, Jumat (22/2). Kehadiran dua peniru ini sempat memicu kehebohan di Hanoi jelang pertemuan tingkat tinggi antara dua pemimpin negara dari AS dan Korut ini pada 27-28 Februari mendatang.
A   A   A   Pengaturan Font

NEW YORK – Pyongyang diwartakan telah meminta lembaga-lembaga yang berada dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membantu mengatasi krisis pangan di Korea Utara (Korut). “Bantuan diajukan Korut setelah perkiraan bahwa akan terjadi penurunan produksi panen pada tahun ini,” demikian diumumkan oleh juru bicara PBB, Stephane Dujarric, Kamis (21/2).

Dalam laporannya, Pyongyang mengatakan pada PBB bahwa negaranya mengalami kekuarangan produksi pangan sebesar 1,4 juta ton yang meliputi panen beras, gandum, kentang, dan kedelai.

“Pemerintah Korut telah meminta bantuan pada organisasi-organisasi kemanusiaan internasional untuk membantu dampak situasi keamanan pangan,” imbuh Dujarric.

Ditambahkan oleh Dujarric bahwa lembaga-lembaga PBB sedang melakukan perundingan dengan Pyongyang untuk membahas pelaksanaan aksi bantuan awal untuk mengatasi kebutuhan dasar di Korut.

Menurut data yang dipegang PBB, sekitar 10,5 juta warga Korut, atau 41 persen dari total populasi, amat membutuhkan bantuan pangan.

Permintaan dari pemerintah Korut itu diajukan selang beberapa hari dilaksanakannya pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan pemimpin Korut, Kim Jong-un, yang akan terlaksana pekan depan di Hanoi, Vietnam. Adapun KTT di Hanoi ini akan membahas langkah-langkah untuk mengakhiri program nuklir dan misil balistik Korut.

Korut menuntut diperlunaknya sanksi-sanksi internasional setelah menghentikan uji coba nuklir dan misilnya dan menjalin saling kepercayaan dengan AS lewat dialog diplomasi. Saat Trump dan Kim bertemu untuk pertama kalinya dalam KTT di Singapura tahun lalu, Korut setuju untuk melaksanakan denuklirisasi di Semenanjung Korea, namun sejauh ini belum ada langkah-langkah yang kongkret terkait perlucutan program persenjataan Korut.

PBB menyatakan akan tetap menerapkan tekanan sanksi hingga Korut benar-benar telah melucuti keseluruhan persenjataan militernya.

Pertemuan Empat Mata

Pada bagian lain dilaporkan oleh seorang narasumber pejabat AS bahwa Presiden Trump akan melakukan pertemuan empat mata dengan Kim Jong-un pada KTT di Hanoi yang digelar pada 27-28 Februari.

“Pertemuan pekan depan memiliki format yang sama dengan KTT Singapura pada Juni lalu. Akan ada kesempatan bagi kedua pemimpin negara untuk melaksanakan pertemuan empat mata sebelum menggelar pertemuan kelompok dari masing-masing delegasi negara,” kata narasumber itu.

Saat ini utusan khusus AS untuk Pyongyang, Stephen Biegun, sudah ada di Hanoi untuk melakukan pertemuan dengan mitranya dari Korut, Kim Hyok-chol. Narasumber pejabat AS tak mau menyatakan spekulasi apakah akan terjadi sebuah kesepakatan bersama pada akhir KTT ini.

Sebelumnya pada Rabu (20/2), Presiden Trump melontarkan pujian atas semakin baiknya hubungannya dengan pemimpin Korut dan juga kembali menegaskan bahwa dirinya ingin melihat ada itikad yang berarti dari Korut terkait perlucutan senjata, agar sanksi bisa dicabut.

AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment