Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments
PERADA

Korupsi Itu Perilaku Amoral

Korupsi Itu Perilaku Amoral

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

 

 

Kata “korupsi” sangat sering dijumpai, didengar, bahkan disaksikan melalui radio, televisi, dan media lain. Apalagi dekade ini banyak media menurunkan berita dan liputan seputar korupsi. Maka, di benak masyarakat, korupsi mempunyai arti konotasi negatif. Jika terdengar kata korupsi, secara spontan pikiran memvisualisasikan tumpukan uang dalam koper yang ditaruh rapat-rapat dalam lemari dengan gembok bersandi yang mustahil dibuka, kecuali oleh pemiliknya.

Korupsi tidak melulu deskripsi tentang uang yang ditimbun dengan cara haram untuk kepentingan hidup pribadi. Korupsi memiliki arti luas dari berbagai sudut pandang, mulai dari sofis hingga level agraris, sehingga dari berbagai definisi itu memunculkan konklusi yang berbeda pula. Buku ini menjadi jalan tengah memberi pemahaman makna dan arti yang sesungguhnya dari kajian dan metodologi ilmiah yang terangkum tentang korupsi.

Harapannya, selaku pembaca masyarakat akan merasa lebih hati-hati agar tidak menjadi bagian atau mitra korupsi. Kata korupsi berasal dari bahasa Latin yang memiliki fungsi sebagai kata benda, kata kerja, pelaku, dan kata sifat. Tapi, dia memiliki arti sama: rusak, busuk, hancur, tidak murni, palsu, tergantung konteks kalimatnya.

Sedangkan secara etimologis, dia memiliki pengertian adanya kondisi keutuhan, kebenaran asli-asali yang telah merosot– karena perbuatan seperti menyuap, menipu, memalsukan, merusak bentuk, dan lainnya (hal 23). Ternyata, korupsi tidak sesempit yang didefinisikan kebanyakan orang–yang hanya terpaku pada uang yang jadi alat korupsi.

Suap adalah praktik korupsi, walaupun masuk kategori kasus sendiri. Demikian pula dengan laku lainnya yang bila menimbulkan kerugian fisik maupun nonfisik tetap masuk dalam kategori korupsi. Pelakunya disebut koruptor.

Penulis bertanya, apakah korupsi merupakan persoalan moral atau tidak. Namun yang jelas jika ditelisik dari definisi, akan bisa diambil kesimpulan korupsi merupakan perilaku amoral yang berbenturan dengan hukum. Memang ada kasus-kasus suap seperti di Amerika dan Jerman pada dekade tahun 70-an yang memperlihatkan praktik suap dalam bidang kontrak. Namun, tidak dinyatakan sebagai korupsi.

Dalam perkembangan, akhirnya setelah dekade 80-an ditetapkan sebagai korupsi dan dinyatakan melanggar UU Antikorupsi (hal 449). Setelah terdapat UU Antikorupsi, praktik yang merugikan pihak lain dari berbagai kerusakan dan penyelewengan merupakan tindak korupsi.

Jadi, yang perlu diketahui, korupsi tidak hanya berkenaan dengan uang. Tidak melaksanakan sebuah kinerja yang telah diwajibkan juga bagian dari korupsi. Bahkan, waktu yang dimiliki tiap-tiap orang jika tidak digunakan untuk yang produktif bermanfaat juga bagian dari korupsi. Hanya, menurut hukum, korupsi masih terbatasi jangkauannya, sebatas yang merugikan negara dari segi keuangan.

Gejala korupsi yang kian kencang merupakan dekadensi moral sebuah bangsa. Ini seolah-olah tindak korupsi merupakan dosa keturunan dan mata rantai yang sukar diputus. Hingga kini, praktik korupsi mudah ditemukan dalam artian mainstream. Apalagi korupsi dalam arti bahasa mungkin sestiap orang termasuk koruptor yang senantiasa membuat kemerosotan, kerusakan, dan berbagai kerugian lainnya.

Buku dengan kajian yang komprehensif ini sangat membantu menyadarkan dan menambah wawasan ihwal korupsi dan sejarahnya. Dengan wawasan itu diharapkan membantu membenahi atau minimal mengurangi tindak laku korupsi.

 

Diresensi Rofiqi Suhram,Alumnus Pascasarjana STIE Mahardhika Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment