Koran Jakarta | November 20 2018
No Comments
Konflik Semenanjung Korea

Korsel dan Korut Segera Gelar KTT

Korsel dan Korut Segera Gelar KTT

Foto : AFP/Dong -AIlbo
A   A   A   Pengaturan Font

SEOUL – Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) akan menggelar pertemuan tingkat tinggi pekan depan untuk mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi ke-3 antara Presiden Korsel, Moon Jae-in, dan pemimpin Korut, Kim Jong-un. Informasi ini diumumkan Seoul pada Kamis (9/8).

“Dua Korea akan menggelar pertemuan tingkat tinggi di Desa Panmunjom, Korut, pada Senin (13/8), untuk membahas persiapan terkait akan dilaksanakannya KTT Selatan-Utara,” demikian pernyataan Kementerian Unifikasi Korsel.

Walau Kementerian Unifikasi Korsel sama sekali tak menyebut dimana KTT Selatan-Utara akan digelar, Presiden Moon pada pertemuan bersejarah pada April lalu telah setuju untuk mengunjungi Kim di Pyongyang pada musim gugur.

“Usulan (pertemuan tingkat tinggi) datang dari Pyongyang,” kata Seoul sembari menjelaskan bahwa dua pihak kemungkinan akan meninjau progres usai KTT April lalu yang berujung dengan hasil terjadinya pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Kim Jong-un, di Singapura, pada 12 Juni lalu.

“Kami akan berdiskusi secara mendalam dengan Korut demi kesuksesan pelaksanaan KTT Selatan-Utara,” imbuh Kementerian Unifikasi Korsel.

Pertemuan antara Korsel-Korut semakin intens sejak pertemuan di Singapura dan terakhir dua negara itu sepakat untuk kembali menggelar reuni keluarga yang terpisah akibat Perang Korea 1950-1953 pada Agustus ini. Reuni keluarga Korea itu yang pertama setelah terhenti 3 tahun lalu.

Dalam pertemuan pertemuan tingkat tinggi Senin nanti, delegasi Korsel akan dipimpin oleh Menteri Unifikasi Cho Myoung-gyon. Menteri Cho bulan lalu berkunjung ke Pyongyang untuk menyaksikan laga tanding bola basket persahabatan antar-Korea.

 

Mediasi Moon

Saat hubungan antara Korsel-Korut semakin membaik, namun progres dari isu penting denuklirisasi Korut masih lambat. Karena alasan itu, AS telah menyerukan pada komunitas internasional agar tetap menerapkan sanksi Pyongyang.

Presiden Moon yang memprioritaskan perbaikan hubungan dengan Korut, bisa jadi pemeran kunci bagi mendamaikan Washington DC dan Pyongyang, setelah Trump mengancam akan mengembargo dan menyerang Korut.

Salah satu prestasi yang dicetak Presiden Moon terjadi saat pertemuan dengan Kim pada Mei lalu, dimana Presiden Korsel itu berhasil menyelamatkan rencana KTT Trump-Kim setelah Presiden AS menyatakan batal untuk hadir.

Menurut profesor dari Korea National Diplomatic Academy, Kim Hyun-wook, semakin baiknya hubungan Korsel-Korut bisa jadi dilema dan berakibat buruk bagi Seoul karena bisa mengancam retaknya hubungan Seoul-Washington DC. “Seoul bisa menghadapi dilema apakah harus menempuh peningkatan hubungan antara Korsel-Korut, atau mengikuti Washington DC dengan semakin memperkuat tekanan pada Pyongyang (agar segera melakukan denuklirisasi),” kata Kim.

Walau begitu jika terjadi KTT antara Moon dan Kim, satu hal yang pasti akan dibahas yaitu fokus pada putusan final konsensus yang bisa mengakhiri Perang Korea 1950-1953 yang bukan hanya berakhir dengan gencatan senjata, namun ditandatanganinya sebuat traktat perdamaian. 

 

AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment