Koran Jakarta | June 26 2019
No Comments
Intermediasi Perbankan

Korporasi Masih Potensial Diberi Tambahan Pembiayaan

Korporasi Masih Potensial Diberi Tambahan Pembiayaan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

YOGYAKARTA – Korporasi masih potensial mendapat tambahan pembiayaan dari lembaga keuangan, khususnya dari perbankan. Potensi pembiayaan ke perbankan itu terlihat pada rasio utang terhadap pendapatan atau debt to service ratio (DSR) perusahaan dan kemampuan membayar bunga cicilan atau interest coverage ratio (ICR) yang masih longgar.

“Jadi kalau bank bilang tidak ada demand, tunggu dulu,” kata Ita Rulina, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI), Ita Rulina dalam pelatihan wartawan ekonomi dan moneter di Yogyakarta, Sabtu (23/3). Menurut Ita, masih tersedianya ruang tersebut mendorong regulator mengeluarkan kebijakan insentif yang intinya agar perbankan lebih memaksimalkan fungsi intermediasi.

Makanya dalam rapat Dewan Gubernur BI, pekan lalu memutuskan merelaksasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif dengan menaikkan kisaran batasan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dari 80-92 persen menjadi 84- 94 persen. “Hal itu untuk mendukung pembiayaan perbankan bagi dunia usaha,” kata Ita.

Dengan insentif tersebut, bank sentral berharap target penyaluran kredit perbankan tahun ini di kisaran 10-12 persen bisa mendekati batas atas. Secara umum stabilitas sistem keuangan, kata Ita, tetap terjaga disertai fungsi intermediasi yang membaik dan risiko kredit yang terkendali.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/ CAR) perbankan Januari 2019 tetap tinggi yakni 23,1 persen dan disertai rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/ NPL) tetap rendah yakni 2,6 persen (gross) atau 1,2 persen (net). Dari fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit pada Januari 2019 tercatat 12,0 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit Desember 2018 sebesar 11,8 persen (yoy).

 

Kredit Bertumbuh

 

Sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Januari 2019 sebesar 6,4 persen, tidak berbeda jauh dibandingkan dengan pertumbuhan Desember 2018 sebesar 6,5 persen.

Sementara itu, kinerja korporasi go public membaik tercermin dari peningkatan keuntungan dan kemampuan membayar kewajiban. Ke depan, BI memandang ruang ekspansi pertumbuhan kredit terbuka tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan tetap terbuka.

Hal ini mempertimbangkan siklus kredit yang berada di bawah level optimum di tengah prospek permintaan yang tinggi. 

 

bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment