Korona DKI Jakarta Bukan Salah Virus | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Korona DKI Jakarta Bukan Salah Virus

Korona DKI Jakarta Bukan Salah Virus

Foto : ANTARA/Muhammad Zulfikar.
Data sebaran kluster dengan 114 kasus di rumah ibadah yang tersebar di sejumlah titik Jakarta.
A   A   A   Pengaturan Font
Di sinilah bisa dibaca, rakyat Jakarta sesungguhnya banyak yang tidak peduli. Mereka hidup menurut ukuran sendiri. Belum ada kesadaran untuk hidup bersama.

Gonjang-ganjing kembali mewarnai kehidupan masyarakat Ibu Kota dan sekitarnya, setelah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, kembali bakal menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai Senin (14/9). Langkah ini diambil Anies karena dua pekan terakhir terjadi tren naik orang terinfeksi virus korona ­(Covid-19).

Semua aktivitas ke dan dari Jakarta dikembalikan seperti PSBB pertama kali. Banyak kantor diwajibkan kerja di rumah. Transportasi umum dibatasi. Tempat hiburan ditutup. Begitu antara lain yang akan dijalankan Jakarta. Menarik rem darurat, istilah yang dipakai Anies. DKI memang dalam keadaan ekstradarurat: jumlah kasus aktif korona terus meninggi, tempat tidur rumah sakit penuh, dan tempat pemakaman korban Covid-19 juga penuh.

Tambahan terinfeksi di DKI kemarin sore 1.450. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang terjadi pada Rabu (3/9) sebanyak 1.406 orang. Dengan demikian, jumlah akumulatif pasien positif Covid-19 di DKI Jakarta hingga kemarin 51.287 orang.

Mungkin langkah yang diambil Anies ini tidak dikomunikasikan dengan pemerintah pusat, sehingga tak heran, sejumlah menteri tidak setuju PSBB total di DKI. Para menteri menilai, perekonomian lagi mulai menggeliat. Mereka khawatir kebijakan Anies ini akan kembali meruntuhkan geliat perekonomian yang baru mulai tersebut.

Memang serbadilematis DKI karena posisinya sebagai Ibu Kota negara, tetapi juga daerah khusus. Jakarta menjadi sentra pemerintahan dan ekonomi. Maka setiap langkah yang diambil DKI jelas berimbas ke banyak sektor, terutama ekonomi nasional. Bursa, misalnya, langsung merespons langkah Anies karena sempat menghentikan perdagangan. Untuk itu, perlu diadakan komunikasi yang intens antara Anies dan para menteri ekonomi agar ada solusi bersama, tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pertanyaannya, bakal sukseskah PSBB total ini? Rasanya tidak! Ini terutama jika Anies gagal mendisiplinkan warganya. Kemelut Covid-19 di DKI yang salah bukan virus koronanya, tetapi masyarakatnya. Virus tak bisa disalahkan. Mereka instingtif saja menyebarkan diri. Tetapi, manusia yang bisa berpikirlah yang salah karena tidak mau memakai masker, tidak mau menjaga jarak, dan terus saja berkerumun.

Filsuf-psikolog Prancis, Piaget, mengatakan orang pandai (mestinya) tingkat moralnya demikian juga. Sayang, ini tidak berlaku di DKI. Orang-orang berpendidikan mestinya tahu bahwa mengenakan masker dan menjaga jarak adalah kewajiban moral, nyatanya itu tidak dilakukan. Banyak warga DKI menjalankan “kekhasan” orang Indonesia, yaitu kalau belum terinfeksi/ terkena/ mengalami, selalu menganggap enteng, sembrono, tidak acuh, dan masa bodoh.

Tidak mau mengenakan masker adalah bentuk ketidakpedulian. Tidak mau memakai masker adalah sikap tidak menghormati orang lain (yang memakai masker). Itulah kebanyakan warga DKI (dan orang Indonesia umumnya). Jadi, apa pun langkah yang diambil DKI, tidak akan pernah berhasil mengatasi Covid-19, andai tidak mampu meningkatkan kesadaran warganya yang tambeng-tembeng. Mau menarik rem darurat ataupun menubrukkan kendaraan tidak akan berarti apa-apa, sejauh penduduknya masih cuek.

Jadi, jangan salahkan virus korona karena yang salah warga DKI. Pertanyaan lain lagi, mampukah DKI menyadarkan warganya agar mengenakan masker dari dalam hati, bukan paksaan? Sebab, sejauh ini mengenakan masker (bukan dianggap sebagai normal baru) masih terpaksa. Sejauh mengenakan masker masih terpaksa, mustahil mengerem laju penularan persebaran virus korona.

Di sinilah bisa dibaca, rakyat Jakarta sesungguhnya banyak yang tidak peduli. Mereka hidup menurut ukuran sendiri. Belum ada kesadaran untuk hidup bersama. Kalau ada kesadaran kita hidup bersama, berarti harus mau bersama-sama melawan Covid-19. Saat ini, yang melawan Covid-19 hanya para tenaga medis dan sebagian (kecil) rakyat Jakarta yang sadar pentingnya mengenakan masker. Sebagian (besar) rakyat sebenarnya tidak mau bersama-sama melawan Covid-19 karena tidak mau memakai masker!! ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment