Kornea Buatan Bisa dari Sisik Ikan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Teknologi Kesehatan

Kornea Buatan Bisa dari Sisik Ikan

Kornea Buatan Bisa dari Sisik Ikan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

SURABAYA - Tim peneliti Universitas Airlangga (Unair) dan RSU Dr Soetomo berhasil menciptakan kornea buatan dari sisik ikan untuk mengatasi kebutaan akibat ulkus kornea. Demikian dikatakan salah satu peneliti Unair, Prihatini Widiyanti, Jumat (14/2), di Surabaya.

Menurutnya, gangguan penglihatan atau kebutaan masih menjadi masalah serius. Pada periode 2014-2016 terdapat 6,4 juta penderita gangguan mata. Mereka tersebar di 15 provinsi. Di mana 1,3 juta di antaranya buta.

Kebutaan dapat disebabkan beberapa faktor. Salah satunya ulkus kornea yang merupakan kelainan pada mata yang dapat mengganggu penglihatan. Untuk mengatasinya, Prihartini Widiyanti, dokter spesialis mata, dan tim Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Dr Soetomo menciptakan “Hidrogel Kornea Berbasis Kolagen sebagai Alternatif untuk Kebutaan Akibat Ulkus Kornea.”

Prihatini menjelaskan, penelitian sejak 2015 tersebut terus berkembang dengan membuat variasi material untuk mendapat karakterisitik kornea artifisial agar lebih mendekati kebutuhan klinis. Contoh keadaan harus lembab yang memfasilitasi pertumbuhan sel untuk mendukung penyembuhan.

Katanya, dalam pengembangan hidrogel kornea terdapat beberapa bahan seperti kolagen dan kitosan. Kolagennya tipe 1 yang banyak ditemukan di tubuh makhluk hidup dengan mayoritas menggunakan kolagen sapi. “Sumber kolagen ada beberapa macam seperti sisik ikan kakap merah, kolagen sapi, dan kaki ayam. Kolagen tipe 1 terdapat di seluruh vertebrata dan karakteristiknya berbeda-beda,” terangnya.

Dia melanjutkan, kitosan yang digunakan berasal dari ekstraksi makhluk hidup, yakni cangkang udang dan kepiting. Tidak hanya itu, karena hidrogel kornea tersebut sintetik, maka, ada campuran dari bahan kimia. Tergantung karakteristik yang dituju. Misalnya, untuk menguatkan kejernihan, lebih memerlukan material sintetik. Sebab bahan alam relatif lebih banyak pengotornya. “Namun, kalau kita mau fokus pada biokompatibilitasnya atau tingkat penerimaan, tentu dipakai bahan alam,” ungkapnya.

Dalam uji in vitro (lab), banyak tahapan mulai dari uji kimia, fisika, dan biologi. Selanjutnya, in vivo atau uji biologis di dalam makhluk hidup dilakukan bersama tim dokter spesialis mata untuk insersi /mengimplankan ke hewan uji.

Selanjutnya, ada konfirmasi fisik, mekanik, kimia, dan biologi untuk mengetahui apakah material aman untuk diaplikasikan ke tubuh. Kemudian menuju uji in vivo pada makhluk hidup (uji biologis). “Jadi, penelitian sudah sampai tahap implan ke hewan. Namun masih memerlukan langkah panjang untuk dapat diaplikasikan,” ujar Prihatini.

 

SB/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment