Konsolidasi BUMN Terus Didorong | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments
Restrukturisasi Bisnis - Sekitar 90% Dividen BUMN Disumbang oleh 10 dari 142 Perusahaan

Konsolidasi BUMN Terus Didorong

Konsolidasi BUMN Terus Didorong

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Untuk melakukan restrukturisasi BUMN secara bertahap, pemerintah mengaku kini tengah melakukan pemetaan.

JAKARTA – Kondisi sebagian besar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpuruk akibat penurunan kinerja bisnis di tengah pandemi virus korona baru atau Covid-19. Bahkan, kompleksitas gurita bisnis di beberapa BUMN membuat perusahaan berpelat merah kian obesitas sehingga kesulitan keluar dari keterpurukan saat ini. Salah satu BUMN yang sangat terpukul oleh kondisi saat ini adalah di sektor pariwisata.

Meskipun pemerintah telah menyuntikkan stimulus sektor pariwisata untuk memompa lalu lintas wisata, namun tetap tak terlihat hasil nyatanya. Alhasil, hotel-hotel milik anak usaha BUMN kini sekarat, sama dengan swasta. Kondisi tersebut hanya memberi beban pada perusahaan induk. Menyikapi hal itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengungkapkan perusahaan pelat merah yang tak terdampak selama pandemi hanya Telkomsel, industri sawit serta kesehatan.

Di luar itu, semua mengalami tekanan. Saat ini, jumlah BUMN tercatat sebanyak 142 perusahaan. Sayangnya, 90 persen dividen BUMN hanya disumbang oleh 10 perusahaan. Karena itu, Kementerian BUMN hendak mengonsolidasikan 70 persen dari ratusan anak usaha BUMN tersebut. Untuk melakukan restrukturisasi BUMN tersebut, Erick mengaku pihaknya tengah melakukan pemetaan. Menurutnya, proses ini akan dilakukan secara bertahap.

“Kita ingin bangun supply chain. Bangun ekosistem agar ke depan lebih terintegrasi. Kita tak perlu lagi impor. Momentum korona ini menjadi pemicu untuk bergerak lebih cepat,” jelas Erick dalam diskusi daring soal BUMN di Jakarta, Rabu (20/5).

Sayangnya, pembangunan supply chain dan ekosistem itu saat ini dinilai terlambat. Pasalnya, bahan baku untuk industri farmasi dan kesehatan masih bergantung pada impor. Sekitar 90 persen bahan baku dan alat kesehatan didatangkan dari luar negeri. Tingginya kebergantungan ini semakin kelihatan saat pandemi. Negara dianggap tak siap dan terkesan kelabakan. Di sisi lain, kebutuhan melonjak dratis.

“Saya tidak bermaksud menyalahkan menteri-menteri sebelumnya. Tapi, kita harus mulai dari sekarang. Mungkin menteri setelah saya nanti perbaiki yang saya buat,” kata Erick. Erick mengaku telah memulai restrukturisasi perusahaan negara saat awal-awal menakhodai Kementerian BUMN. Rencananya, seluruh perusahaan dikelompokkan dalam beberapa subholding, kemudian membentuk 14 klaster dari 27 klaster. Perbaikan juga akan dilakukan di sektor pelabuhan. Tidak semuanya diborong BUMN. Berbagi juga ke swasta. Sesama BUMN tidak boleh ikut tender. Demikian juga di sektor pangan perlu ada integrasi.

Serukan Integrasi

Sementara itu, Pengamat Energi dari Universitas Gajah Mada (UGM), Fahmi Radi, menilai pemerintah bisa saja bentuk BUMN baru untuk hotelhotel BUMN itu nanti. Hal serupa juga bisa dilakukan untuk rumah sakit-rumah sakit.

“Ini kan namanya integrasi yah. Ada integrasi vertikal yakni penggabungan hotel-hotel semua BUMN. Lalu, ada juga integrasi horizontal. Penggabungan dalam satu BUMN, seperti Saka dan Pertamina Hulu,” pungkas Fahmi.

ers/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment