Konektivitas Infrastruktur Belum Optimal | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Akselerasi Pembangunan

Konektivitas Infrastruktur Belum Optimal

Konektivitas Infrastruktur Belum Optimal

Foto : ISTIMEWA
Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Konektivitas infrastruktur antar kawasan ekonomi khusus, kawasan industri serta pariwisata, dan ketersediaan infrastruktur layanan dasar seperti penyediaan air bersih dan sanitasi dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Bahkan, ketersediaan infrastruktur yang saling terhubung tersebut diperlukan Indonesia untuk keluar dari jebakan masyarakat berpenghasilan menengah (middle income trap).

“Langkah mengakselerasi pembangunan infrastruktur tersebut perlu didukung semua pihak,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam seminar internasional bertajuk The Pivotal Role of Infrastructure Financing to Advance Sustainable Growth di Jakarta, Senin (2/12).

Destry menyampaikan terdapat beberapa hal yang menjadi kunci percepatan pembangunan ke depan. Pertama, peningkatan peran private investor dan innovative financing. Kedua, peningkatan kualitas persiapan proyek infrastruktur atau feasibility study.

Ketiga, kolaborasi dan sinergi kebijakan pemerintah pusat, daerah dan otoritas terkait lainnya untuk mengharmonisasikan proyek infrastruktur dengan kawasan ekonomi khusus, kawasan industri dan pariwisata. Keempat, integrasi data dan informasi untuk meningkatkan monitoring dan evaluasi penyelesaian proyek infrastruktur Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Selanjutnya, dalam mendorong akselerasi pembiayaan infrastruktur, Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan kapasitas intermediasi perbankan melalui kebijakan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) yang akomodatif, mendorong penerbitan surat berharga komersial dan pemanfaatan instrumen hedging, serta memberikan pendampingan pada pemerintah daerah.

“Kebijakan BI tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata terhadap percepatan pembangunan infrastruktur menuju Indonesia Maju,” katanya.

 

Rasio Rendah

 

Lebih lanjut, Destry menyebutkan rasio infrastruktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih rendah dibandingkan beberapa negara maju lain yaitu sebesar 43 persen. Destry menuturkan hal tersebut berbeda dengan rasio pengeluaran logistik terhadap PDB Indonesia yaitu sebesar 24 persen atau tergolong paling tinggi dibandingkan dengan negara lain.

“Sayangnya, rasio infrastruktur kita terhadap PDB masih tergolong rendah yaitu 43 persen dibandingkan negara-negara maju lainnya yang bisa mencapai hingga 70 persen terhadap PDB,” katanya.

Beberapa pembangunan infrastruktur itu dapat dilihat pada akhir 2018 yaitu 11 bandara baru, 735 kilometer jalan kereta api baru, jalan baru sepanjang 3.432 kilometer, jalan tol 1.180 kilometer, pembangkit listrik 2.614 mega watt, dan palapa ring melintasi wilayah timur, barat serta tengah Indonesia.

 

bud/Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment