Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments
Kinerja Semester I-2017 - Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Meningkat saat Pengangguran Turun

Kondisi Fundamental Ekonomi Baik

Kondisi Fundamental Ekonomi Baik

Foto : Koran Jakarta/Wahyu AP
Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean (kiri) bersama Head of Marketing, Brand and Communicarion Slamet Sudijono saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk Meraih Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Jakarta, Senin (17/7). Perekonomian Indonesia sepanjang paruh pertama 2017 menunjukkan tren perbaikan dibandingkan pencapaian tahun lalu.
A   A   A   Pengaturan Font
Sejumlah indikator utama memberikan indikasi bahwa pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada triwulan kedua 2017 diperkirakan sedikit lebih baik dibandingkan periode tiga bulan sebelumnya.

JAKARTA – Perekonomian Indonesia hingga pertengahan tahun ini menunjukkan tren perbaikan dibandingkan pencapaian tahun lalu. Hal itu terlihat pada perbaikan pasar tenaga kerja, daya beli stabil dan pasar keuangan kondusif.

Chief Economist Bank CIMB Niaga, Adrian Panggabean, dalam diskusi bersama media bertajuk Meraih Pertumbuhan Ekonomi Nasional, di Jakarta, Senin (17/7), mengatakan dengan fundamental ekonomi yang baik tersebut memungkinkan perekonomian pada paruh kedua tahun ini atau semester II-2017 semakin baik.

“Perbaikan ekonomi mungkin belum terlalu kuat, namun lebih broad based (riil-red) dari diperkirakan sebelumnya. Data sepanjang semester I-2017 memberi gambaran bahwa secara fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi baik,” kata Adrian. Di pasar tenaga kerja, lanjut Adrian, tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat pada saat angka pengangguran terus menurun.

Sementara di pasar keuangan, arus masuk modal lebih tinggi dibandingkan 2016 sebagai respons dari valuasi aset yang menarik. Laju pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga perbankan pun terus meningkat. Faktor lainnya, persepsi risiko investor asing terhadap Indonesia, sebagaimana ditunjukkan angka credit default swap, juga terus menurun dibandingkan awal tahun.

Kondisi ini juga didukung pergerakan rupiah yang stabil di tengah fluktuasi pasar aset global. Secara year to date (tahun berjalan), rupiah telah terapresiasi sekitar 0,8 persen dibandingkan tahun lalu. Secara akumulasi dalam dua tiga tahun terakhir, rupiah jelasnya sudah terapresiasi hampir 4 persen atau 400 basis poin (bps).

Adapun di sektor riil, surplus pada neraca perdagangan menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar pada awal tahun. “Sejumlah indikator utama memberikan indikasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di kuartal kedua 2017 mungkin akan sedikit lebih baik dibandingkan kuartal pertama, sehingga kami optimistis pertumbuhan PDB sepanjang tahun 2017 bisa mencapai 5,1 persen,” ungkap Adrian.

 

Persepsi Investor

 

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, mengatakan credit default swap (CDS) Indonesia tahun ini dalam tren menurun seiring dengan predikat layak investasi atau investment grade yang disematkan lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P). Menurut Agus, saat ini CDS ada di level 120 basis poin atau separuh dari posisi awal 2016 yang sempat menyentuh level 240 basis poin.

“Hal utama membuat CDS turun adalah ketika S&P mengeluarkan investment grade sehingga persepsi investor tentang Indonesia lebih aman,” kata Agus. Sebagai informasi, CDS merupakan kontrak perlindungan bagi kreditur terhadap risiko gagal bayar (credit default). Investor akan mendapatkan hak memperoleh pembayaran bila terjadi kejadian gagal bayar kredit atau kejadian lain yang terkait kredit seperti restrukturisasi hingga kebangkrutan.

CDS Indonesia bahkan pernah menyentuh 114 basis poin pada beberapa pekan lalu, namun seiring dengan pernyataan pemerintah yang akan memperlebar defisit anggaran 2,9 persen lebih terhadap PDB menyebabkan CDS Indonesia kembali meningkat. Kenaikan tersebut menyebabkan kurs rupiah sempat mengalami tekanan terhadap dollar AS. Berdasarkan data Bank Indonesia, aliran modal masuk (capital inflow) per 6 Juli mencapai 117 triliun rupiah, hampir sama dengan tahun lalu sebesar 125 triliun rupiah. 

 

bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment