Koran Jakarta | July 19 2019
No Comments
Pesta Demokrasi

Koalisi Konservatif Menangi Pemilu Australia

Koalisi Konservatif Menangi Pemilu Australia

Foto : AFP/Saeed KHAN
Pidato Kemenangan l PM Australia, Scott Morrison (tengah), didampingi anggota keluarganya saat menyampaikan pidato kemenangan di Sydney, Sabtu (18/5) malam. Kemenangan koalisi Konservatif Australia disebut-sebut mengejutkan karena sebagian besar lembaga jajak pendapat justru menjagokan kubu oposisi dalam pemilu federal ini.
A   A   A   Pengaturan Font

SYDNEY - Koalisi partai berkuasa di Australia pimpin­an Perdana Menteri Scott Mor­rison diwartakan berhasil me­menangi pemilu federal 2019. Kemenangan itu menjadikan koalisi Liberal-National akan kembali memerintah untuk ke­tiga kalinya berturut-turut.

Saat menyampaikan pidato kemenangan pada Sabtu (18/5) malam, PM Morrison menga­takan bahwa ia selalu percaya mukjizat, terkait kemenangan mengejutkan Liberal-Nasional dalam pemilu tahun ini.

“Betapa baiknya Australia!” kata PM Morrison, yang baru menduduki kursi PM Australia selama sembilan bulan, sete­lah terjadi kudeta politik terha­dap pendahulunya, Malcolm Turnbull.

Sejauh ini masih belum diketahui apakah Partai Liberal pimpinan Morrison dan mitra politiknya, Partai Nasional, bisa memenangkan cukup kursi agar bisa membentuk pemerintahan mayoritas di parlemen.

Namun yang jelas pemim­pin oposisi dari Partai Buruh mengakui bahwa kubunya te­lah kalah dalam pemilu ka­li ini setelah Komisi Pemilihan Australia menghitung tiga per­empat suara yang masuk dan hasilnya menyatakan Partai Koalisi Liberal meraih 74 kur­si dari 151 kursi di parlemen. Minimal kursi yang harus di­raih agar bisa membentuk pe­merintahan mayoritas adalah 76 kursi.

“Sudah jelas bahwa Partai Buruh tak bisa membentuk pe­merintahan berikutnya,” kata Bill Shorten di hadapan pendu­kungnya di Melbourne, sem­bari menambahkan bahwa ia juga akan mundur sebagai pe­mimpin partainya setelah ke­kalahan mengejutkannya.

Di Luar Dugaan

Kemenangan koalisi Konser­vatif ini diluar dugaan bagi se­jumlah lembaga jajak pendapat yang sejak beberapa bulan lalu meramalkan kemenangan ba­kal diraih Partai Buruh yang te­lah selama 6 tahun jadi oposisi. Beberapa pekan seebelumnya, Morrison pun diperkirakan a­kan tercatat dalam buku seba­gai salah satu perdana menteri yang berumur pendek dalam sejarah politik Australia.

Kemenangan koalisi diduga akibat terpecahnya dukungan dimana banyak pemilik suara mendukung partai-partai ke­cil, sehingga kubu Konservatif mendulang kemenangan di se­jumlah distrik utama di timur laut Australia.

Dalam kampanye poli­tiknya, Morrison fokus pada isu-isu pemotongan pajak pen­dapatan, upah buruh, serta re­formasi kebijakan perubahan iklim. Namun ia pun berha­sil menutup kesenjangan de­ngan kampanye negatif dan dukungan dari organisasi me­dia terbesar di negara itu yang dimiliki oleh Rupert Murdoch, terutama menargetkan pemi­lih yang lebih tua dan lebih ka­ya serta khawatir tentang ren­cana Partai Buruh untuk me­motong berbagai celah pajak untuk mendanai pengeluaran untuk pendidikan, perawatan kesehatan, dan inisiatif iklim.

“Partai Buruh berkampa­nye amat keras soal strategi be­sar dengan serangkaian target konsesi pajak utama, yang pa­da akhirnya tampaknya tidak beresonansi dengan pemilih,” kata Rob Manwaring, seorang dosen politik di Flinders Uni­versity, Adelaide. “Meskipun ada fragmentasi hak yang lebih luas di Australia, mereka tam­paknya menang,” pungkas dia. ang/AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment