Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments
Kasus Makar

Kivlan Beri Rp25 Juta untuk Mata-matai Wiranto

Kivlan Beri Rp25 Juta untuk Mata-matai Wiranto

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Stra­tegis Angkatan Darat, Mayjen (Purn) Kivlan Zen, disebutkan menyerahkan uang 25 juta ru­piah kepada seseorang berna­ma Tajudin melalui orang lain bernama Helmi Kurniawan. Uang yang diberikan untuk me­mata-matai Wiranto dan Luhut itu diungkap dalam sidang pembacaan dakwaan yang di­lakukan oleh jaksa penuntut umum Fahtoni.

“Saksi Helmi Kurniawan menyerahkan uang sebesar 25 juta rupiah yang berasal dari terdakwa (Kivlan) kepada saksi Tajudin sebagai biaya operasio­nal survei dan pemantauan un­tuk memata-matai Wiranto dan Luhut Binsar Panjaitan,” kata Fahtoni, di Gedung Kusuma Atmaja I, Pengadilan Negeri Ja­karta Pusat, Selasa.

Fahtoni mengatakan dana yang diberikan Kivlan kepada Tajudin berasal dari Habil Marati. Habil memberikan uang 15.000 dollar Singapura kepada Kivlan. Kemudian, Kivlan me­nukarkan uang tersebut ke kurs rupiah melalui Helmi di tempat penukaran uang dan menerima 151,5 juta rupiah.

Kivlan mengambil uang 6,5 juta rupiah dari total uang tersebut dan menyerahkan kembali sisanya sebesar 145 juta rupiah kepada Helmi. Saksi Helmi kemudian mem­bagi uang itu untuk membayar senjata api yang dipesan hingga menyerahkan uang tersebut kepada saksi yang lain.

Dalam sidang perdana Kiv­lan, jaksa penuntut umum me­lakukan dua kali pembacaan dakwaan. Dakwaan pertama Kivlan dijerat pidana dengan Pasal 1 Ayat 1 UU No 12/1951 jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Se­dangkan pada dakwaan kedua, Kivlan dijerat pidana dengan Pasal 1 Ayat 1 UU No 12/1951 jo Pasal 56 Ayat (1) KUHP. Kivlan didakwa menguasai senjata api ilegal. Dia disebut menguasai empat pucuk senjata api dan 117 peluru tajam.

Sidang Ditunda

Sidang perdana Habil Marati atas kasus dugaan makar dan rencana pembunuhan empat tokoh nasional ditunda oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pu­sat karena absennya tim kuasa hukum dalam persidangan ini.

“Kami kasih kesempatan Bapak ya, Bapak didampingi pe­nasihat hukum, untuk itu sidang kita tunda hari Kamis yang akan datang, jadi bukan seminggu, namun menjadi 9 hari sehingga kita lanjutkan tanggal 19 Sep­tember,” ucap majelis hakim, di Ruang Kusuma Atmaja I, Selasa.

Absennya kuasa hukum disebabkan oleh ketidaktahuan Habil mengenai sidang pemba­caan dakwaan yang ditujukan kepadanya. “Saya baru tahu ada sidang dakwaan tadi pagi, makanya kuasa hukum saya ti­dak ada,” kata Habil Marati di depan persidangan.

Sebelumnya, polisi menang­kap Habil Marati pada 29 Mei 2019 di rumahnya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Menurut polisi, Habil ber­peran memberikan sejumlah uang untuk membeli senjata kepada tersangka lain yaitu Kivlan Zen. Karena itu, Habil ditetapkan sebagai tersangka penyandang dana dalam kasus dugaan rencana pembunuhan terhadap empat pejabat tinggi negara.  Ant/P-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment