Kita Harus Mampu dan Kita Punya Kapasitas Menghasilkan Vaksin Sendiri | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio, tentang Vaksin Virus Covid-19

Kita Harus Mampu dan Kita Punya Kapasitas Menghasilkan Vaksin Sendiri

Kita Harus Mampu dan Kita Punya Kapasitas Menghasilkan Vaksin Sendiri

Foto : Foto: Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Negara-negara tengah berlomba mengembangkan vaksin virus Covid-19, begitu juga Indonesia. Vaksin itu akan menjadi solusi untuk mengakhiri pandemi yang memukul hampir seluruh sektor kehidupan.

 

Pada proses pengembangan vaksin Co­vid-19, Indonesia bekerja sama dengan beberapa pihak dari luar negeri. Bahkan, pemerintah juga tengah menindaklanjuti impor vaksin. Di sisi lain, Indonesia juga harus mampu mengembangkan vaksin sendiri sebagai bentuk kedaulatan negara.

Untuk mengupas terkait perkembangan vaksin, Koran Jakarta mewawancarai Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio. Berikut petikan wawancaranya.

Pemerintah mengimpor vaksin dari luar negeri. Bagaimana pendapat Anda?

Vaksin dari luar negeri kita bu­tuhkan untuk jangka pendek. Jadi ketika vaksin Indonesia belum siap, maka produksi yang mungkin bisa lebih dulu tersedia bisa diadopsi. Tapi, semua harus lewat uji klinis karena belum tentu cocok dengan virus di Indonesia, tapi mungkin juga bisa dipakai.

Di sisi lain, ada berita, ada vak­sin dari luar negeri yang sudah masuk ke Indonesia. Itu juga menimbulkan pertanyaan. Kapan Indonesia punya vaksin sendiri?

Apakah vaksin impor ini cukup mengatasi kebutuhan Indonesia?Kalau persentase kebutuhannya itu 70 persen dari sekitar 260 juta penduduk Indonesia atau kira-kira 170 juta penduduk Indonesia harus memiliki kekebalan terhadap virus Covid-19. Adapun proses vaksinasi membutuhkan dua kali vaksin.

Kalau semua mau impor, beli harga vaksin normalnya satu dollar AS, tapi kalau harga pan­demi jadi 10 dollar AS. Mari kita berhi­tung, 350 juta dikali 10 dollar AS. Itu angkanya bisa 52 triliun rupiah. Jadi sangat fantastis. Masa kita harus beli.

Belum lagi harus dipastikan suplai mencukupi untuk Indonesia karena pabrik di luar negeri harus menyuplai negara lain juga. Kalau Indonesia mendapat jatah satu juta dosis per minggu, maka kita butuh 350 minggu untuk vaksinasi atau dengan kata lain menunggu tujuh tahun sampai 70 persen terpenuhi.

Berarti pengembangan vaksin di Indonesia ini memang mendesak?

Tentu saja. Kita sudah bertekad bahwa kita harus mampu hidup berdampingan dengan virus. Kita tidak boleh dihentikan oleh virus ini. Tetapi, kita harus produktif dan tetap aman. Maka, saat ini meng­gantungkan terhadap vaksin.

Dengan kondisi vaksin impor tadi, tentu kita harus memiliki kedaulatan vaksin. Caranya bukan dengan menceburkan ke wabah, kemudian ada proses seleksi. Istilahnya yang lemah akan mati, bukan demikian. Tapi melalui vaksinasi.

Apakah mampu memenuhi ke­butuhan vaksin untuk penduduk Indonesia yang banyak?

Kita harus mampu, dan kita punya kapasitas menghasilkan vaksin sendiri. Sehingga kita punya kedaulatan dan perusahaan di In­donesia sudah mampu menghasil­kan 350 juta dosis per tahun.

Perlu diingat, 2045 itu adalah Indonesia Emas dan dari sekarang SDM harus dipersiapkan untuk pembangunan. Tapi, saat ini kita menghadapi suatu permasalahan yang tidak bisa dianggap enteng, walaupun musuh kita tidak terlihat.

Terkait pengembangkan vaksin merah putih sudah sejauh mana?

Saat ini kalau dilihat persentase­nya mungkin kita baru capai 20–30 persen. Tetapi 20–30 persen itu adalah fondasinya. LBM Eijkman memimpin proses pengembangan vaksin buatan Indonesia berdasar­kan protein rekombinan dan target­nya bibit vaksin potensial didapat pada 2021.

Adapun fondasi dari pengem­bangan vaksin tersebut bersifat krusial dan mendasar. Jika sudah melewati tahap itu dengan baik, selanjutnya akan lebih mudah. Selain itu, Eijkman sudah mengi­dentifikasi dari virus yang bersirku­lasi di Indonesia sehingga vaksin Merah Putih yang dikembangkan memenuhi persyaratan berdasar­kan informasi virus yang ada di Indonesia. n m aden ma’ruf/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment