Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

Kisah Sukses Asian Games 2018

Kisah Sukses Asian Games 2018

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Pesta olahraga terakbar se-Asia, Asian Games, yang berlangsung di Jakarta–Palembang, dan sekitarnya baru berlangsung seminggu. Atau, masih seminggu lagi.

Namun aura kesuksesan sudah terasakan, dan masih penuh pengharapan. Sukses bukan hanya karena perolehan medali atau peringkat yang didapat kontingen Indonesia—yang masih akan turun, dan kecil kemungkinan naik dari posisi ke-5 sekarang ini, melainkan karena kebanggaan, kemenangan, terus tergaungkan.

Kata-kata “Tiada hari tanpa medali emas”, menemukan buktinya sampai sekarang ini. Memang tidak selalu begitu, meskipun bisa keinginan maunya begitu, namun rasa-rasanya pantas dan beralasan memimpikan itu.


Terutama karena seminggu ini, semua media cetak, memberi tempat utama, headline, akan prestasi kontingen tuan rumah.

Bahkan, sedemikian utamanya berita dan skor olahraga, berita pilpers yang sering menusuk dan mencuri perhatian seakan berada di urutan dua atau tiga, atau malah berada di halaman berikutnya.

Demikian juga dengan media televisi yang stasiun siar biasa memanjakan sinetron, atau jenis variety atau serbahantu, memprioritaskan siaran, kadang live, dari lapangan.


Asian Games masih berlangsung seminggu ke depan. Namun kalau kita menjuluki sebagai kisah sukses, barangkali tak berlebihan. Banyak, untuk mengatakan semua momen, menyimpan gambaran dan kenangan yang akan melekat terus, ketika semua ini telah berlalu.

Kita ambil contoh pertandingan final bulu tangkis beregu putra, melawan Tiongkok—saya sering menyebutkan China, nama yang diambil dari dinasti Chin.

Anthony S Ginting sebagai pemain putra pertama yang cedera di set ke-3 mendapatkan simpati yang besar. Sesuatu yang sebelumnya kadang berarti cemooh atau bully-an.

Atau atlet panjat tebing putri, yang dalam final menampilkan dua nama Indonesia , Aries Susanti Rahaya serta Puji Lestari.

Tak pelak lagi, adegan keduanya berlomba merampas halaman satu media cetak. Dan pada kenyataannya, medali perunggu dipersembahkan Aspar Jailolo, untuk kecepatan pria.

Demikian juga kemenangan-kemenangan yang lain, pembalap sepeda downhill, rute turun gunung, baik putra maupun putri yang menyabet medali tertinggi.

Kisah awal pengenalan sepeda, upaya jatuh bangun, dan kesuksesan hari ini, memaknai bisa terus berlanjut. Oleh pelaku utama dan atau generasi berikutnya.


Asian Games yang awal-awalnya sepi promo, kini sudah menjadi bagian utama masyarakat, bahkan yang sehari-hari tidak memperioritaskan berita olahraga.

Bahkan, sejak pembukaan di mana Presiden Jokowi “ngebut dengan sepeda motor” sudah mengisyaratkan decak kagum.

Bahwa ada juga yang mengkritik semata-mata sebagai pencitraan, atau “mencuri panggung perhatian”, tak mengurangi pendapat lain yang justru merasa percaya diri: Indonesia mampu jadi penyelenggara Olimpiade bersama Singapura dan Malaysia!


Asian Games masih berlangsuang sampai Minggu depan, dengan segala drama dan kisah yang menyertai, dengan segala kepuasan dan “hampir”, namun kini pun kita mampu merasakan getaran kebersamaan itu.

Ini yang saya rasakan sebagai getar kebersamaan. Segala hal yang mencemaskan mengenai isu SARA, atau identitas justru mendapatkan suasana harmonis, dari unsur yang dicemaskan.


Ini yang saya nilai sebagai kisah sukses. Dan saya ingin menikmati sisa-sisa akhir, dengan segala kebanggaan (kadang juga air mata), termasuk menikmati “goyang dayung”, dan terkaman komentar di media sosial.

Saya ingin menikmati dengan kepenuhan, dan merasa bahagia, karena dulu, saya ke Jakarta pertama kali dari Solo dengan kereta api 20 jam. Kini masih bisa melihat, meskipun kebanyakan melalui media.


Berbahagialah mereka yang sekarang terlibat dalam pesta pora ini, dan nanti—entah kapan, Asian Games diselenggarakan lagi di sini

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment