Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Ronggeng Kulawu

Kisah Perjuangan Perempuan yang Mengorbankan Mimpinya

Kisah Perjuangan Perempuan yang Mengorbankan Mimpinya

Foto : dok. galeri indonesia kaya
A   A   A   Pengaturan Font

Masih dalam semangat merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-73, Galeri Indonesia Kaya bersama Maudy Koesnaedi dan Andi Kanemoto mempersembahkan lakon bertajuk Ronggeng Kulawu.

 

Naskah yang ditulis oleh Endah Dinda Jenura dan disutradarai oleh Wawan Sofwan itu mengangkat kisah perjuangan seorang penari ronggeng yang mengorbankan mimpi dan harapannya di masa penjajahan Jepang.

“Sosok Maesaroh dalam lakon Ronggeng Kulawu ini, merupakan salah satu gambaran kehidupan perempuan Indonesia di masa penjajahan Jepang,” ujar Wawan Sofwan, sutradara pementasan Ronggeng Kulawu.

Ia bercerita pada masa itu, banyak perempuan yang dibawa dan dipaksa menjadi wanita penghibur dan diperlakukan secara tidak adil. Tidak hanya oleh tentara Jepang saja, para perempuan ini pun juga dipandang sebelah mata oleh orang-orang dari bangsanya sendiri. Mereka hanya dianggap sebagai perempuan yang mengkhianati bangsanya karena hidup bersama penjajah.

Ronggeng Kulawu mengisahkan tentang penari ronggeng dari Dusun Kulawu bernama Maesaroh yang diperankan Maudy Koesnaedi. Bertugas utama menjadi ronggeng adalah membuat suasana semarak dan ceria, dan itu merupakan hal yang mudah bagi Maesaroh. Hingga pada suatu ketika tentara Jepang datang dan memberikan janji-janji kemerdekaan dan harapan yang baru kepada Indonesia yang sebelumnya dijajah Belanda.

Namun ternyata kehidupan mereka tidak mengalami perubahan. Kemerdekaan pun tak kunjung datang, Jepang justru semakin merebut apa saja yang dimiliki Indonesia. Kedatangan Jepang justru semakin menambah petaka bagi bangsa ini, termasuk Maesaroh dan rombongan ronggeng lainnya.

Maudy mengatakan sosok Maesaroh yang diperankannya merupakan salah satu contoh kekejaman para penjajah, namun ia tetap berjuang memperoleh kemerdekaannya.

“Maesaroh merupakan satu dari ratusan perempuan yang menjadi korban kekejaman para penjajah di masa penjajahan Jepang di Indonesia. Banyak hal dan mimpi yang harus ia tinggalkan pada masa itu. Meskipun diperlakukan secara tidak adil, Maesaroh tumbuh menjadi perempuan yang tangguh dan ingin merdeka. Perjuangan Maesaroh tidak hanya untuk melawan penjajah Jepang, tapi juga untuk bangsanya dan dirinya sendiri,” ujar Maudy.

Maesaroh kemudian harus rela dipisahkan dengan Ayahnya dan Kang Uja, lelaki yang berjanji untuk menikahinya setelah Indonesia merdeka. Mereka pun lalu dibawa secara paksa dan dijadikan wanita penghibur bagi tentara Jepang. Mae yang dibawa pergi akhirnya bertemu dengan Kapten Kazuo Ito dan dijadikan gundik. Selama bersamanya ia diperlakukan secara baik. Hidup Mae bersama Kapten Kazuo menjadi jauh lebih baik. Begitupun sebaliknya. Kisah cinta mereka berdua pun dipenuhi latar politik dan kekuasaan antara negeri yang terjajah dan penjajah.

Kemerdekaan yang dirasakan saat ini meruakan hasil dari perjuangan para pahlawan yang telah gugur, namun di balik itu banyak perjuangan perempuan yang ikut memperjuangkan kemerdekaannya.

“Di antara itu semua, tak banyak yang tahu bahwa di balik perjuangan para pahlawan yang bertempur di medan perang, terdapat juga perjuangan para perempuan yang juga menjadi korban kekerasan penjajah. Kami mengajak para penikmat seni untuk menyaksikan perjuangan perempuan untuk merasakan kemerdekaan,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Maudy berharap para penonton yang hadir dapat menangkap pesan moral yang ia coba sampaikan pada lakon Ronggeng Kulawu ini. “Saya harap para penikmat seni dapat memahami pesan yang ingin kami sampaikan dalam lakon Ronggeng Kulawu ini,” tutupnya.

 

Musik Klasik untuk Semua Orang

Dalam sepuluh tahun terakhir telah banyak orkestra yang bermunculan di Indonesia. Tetapi, masih sangat sedikit orkestra alat musik gesek yang mampu memberikan kualitas musik yang mumpuni.

Telah lama berkiprah sebagai salah satu orkestra alat musik gesek di Indonesia, Capella Amadeus kembali menggelar konser string chamber orchestra sekaligus merayakan hari ulang tahunnya yang ke-25.

Tentunya mencapai angka 25 tidaklah mudah. Capella Amadeus banyak mengalami tantangan, salah satunya masalah dana. Menurutnya itu dikarenakan masih belum banyak orang Indonesia yang suka mendengarkan musik klasik.

“Karena orang-orang kan belum begitu mau dengan musik klasik. Waktu 25 tahun yang lalu juga belum ada orkestra-orkestra seperti sekarang ini sehingga kita sering datang ke sekolah-sekolah memberi wawasan kalau musik itu penting,” tutur Grace Soedargo saat ditemui Koran Jakarta beberapa waktu lalu.

Namun, meskipun saat ini telah banyak grup orkestra terbentuk, masih banyak pula yang harus meningkatkan kualitas musik mereka. Selain itu, pandangan orang mengenai musik klasik dan orkestra di Indonesia juga masih kurang baik. Tidak sedikit yang berpikiran bahwa musik klasik dan orkestra adalah sesuatu yang ekslusif, mahal, kaku, dan tidak semua orang dapat menikmatinya sehingga jenis musik tersebut sedikit yang menyukainya.

Grace membantah hal tersebut dengan mengatakan bahwa musik klasik adalah jenis musik yang dapat dinikmati semua orang. Ia menceritakan pengalamannya ketika membawakan musik klasik pada anak-anak jalanan dan mendapat respon yang cukup menarik.

“Pernah main untuk anak jalan, waktu itu kami memainkan lagunya Anthoni Vivaldi dan semuanya terdiam, berbeda dengan musik jenis lainnya yang kami bawakan. Itu merupakan bukti bahwa musik klasik untuk semua orang,” ceritanya.

Orkestra Gesek yang telah didirikan sejak 1993 ini, telah tampil di berbagai kota di dalam maupun luar negeri. Tidak hanya itu saja, sejak tiga tahun yang lalu pun mereka mendapat pengakuan sekolah musik pemerintah di Wina, Austria menjadi salah satu sekolah musik yang berkualitas, dan semenjak itu rutin mengadakan pertukaran murid sehingga dapat memperoleh ilmu musik tambahan yang dapat dibagikan dengan murid-murid lainnya.

Semenjak itu, Grace mengaku menjadi sedikit terbeban dengan pencapaian tersebut. “Jadi terbeban untuk memberikan kesempatan untuk anak-anak muda di Indonesia. Kita harus mendukung musisi muda yang berbakat sehingga standar musiknya dapat naik,” tutur Grace.

Pada konser perayaan ulang tahun Capella Amadeus yang ke-25, mereka membawakan lagu Divertimento in F Major K. 138 by Wolfgang Amadeus Mozart, Brandenburg Concerto No. 3 in G Major and BWV 1048 by Johann Sebastian Bach, and Ancient Airs and Dances dan Suite No. 3 by Ottorino Respighi.

Penampilan ditutup oleh Eine Kleine Nachtmusik by Wolfgang Amadeus Mozart yang dikolaborasikan oleh lagu Coldplay Viva La Vida. Grace mengatakan sengaja membawakan penampilan spesial tersebut pada penonton agar berbeda dengan penampilan lainnya. Dengan persiapan yang membutuhkan waktu tiga bulan, Capella Amadeus sukses meraih standing applause dari para penonton. 

 

gma/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment