Kisah Pejuang Pendidikan untuk Perempuan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Kisah Pejuang Pendidikan untuk Perempuan

Kisah Pejuang Pendidikan untuk Perempuan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Raden Dewi Sartika
Penulis : E Rokajat Asura
Penerbit : Imania
Cetakan : Pertama, Februari 2019
Tebal : 422 halaman
ISBN : 978-602-7926-47-9

Zaman dulu, kaum perempuan sulit bersekolah karena hanya untuk laki-laki. Hidup perempuan hanya berkutat pada pingitan di usia 12 hingga menunggu dilamar. Akibatnya, hampir sebagian besar kaum hawa kala itu buta huruf. Rupanya, itu mengusik benak Enden Uwi, panggilan Raden Dewi Sartika semasa kecil.

Buku ini mengisahkan perjuangan putri Raden Ayu Rajapermas dan Raden Somanagara untuk membuat sekolah bagi perempuan. Pada usia 9 tahun, perbedaan perlakuan antara putra dan putri mengganggu pikirannya. Anak itu tidak memahami alasan kaum hawa tidak memiliki kesempatan pendidikan seperti laki-laki.

Ayahnya mengambil sikap berbeda dengan menyekolahkannya di kelas satu, sehingga bisa membaca menulis dengan baik. Namun, selepas sang ayah melakukan pemberontakan, dia berhenti sekolah dan tinggal di kediaman Pamannya, Patih Cicalengka.

Di kediaman Pamannya, dia mendapati kenyataan yang cukup menyedihkan. Banyak teman sepermainannya buta huruf, sehingga mudah dikelabuhi. Hal itulah yang mendorong Enden Uwi untuk mengajari kawannya membaca dan menulis dengan cara bermain sasakolaan di belakang Gedung Kepatihan Cicalengka. Usahanya itu tidak lepas dari hambatan. Ia sempat ditegur sang Paman. Namun, dia tetap mengajar karena semangat dan kemauan teman-temannya untuk bisa membaca begitu tinggi.

Seiring bertambahnya usia, pandangan dan pemikiran Raden Dewi terhadap kehidupan sekelilingnya semakin berubah. Ia disadarkan betapa kaumnya tidak memiliki kesempatan sebaik laki-laki (hal 141). Banyak gadis tidak disekolahkan karena tidak ada gunanya. Apabila sudah menikah, mereka hanya akan berkutat di dapur sehingga ilmunya sia-sia.

Tercetus dalam benaknya untuk membuat sekolah bagi perempuan guna mengajarkan membaca, menulis, berhitung, dan keterampilan agar menjadi istri yang baik. Selama ini, dia merasa kaumnya terlalu bergantung pada pria. Putri pemberontak itu ingin membuat wanita berdiri di kakinya sendiri. Kelak, apabila ditinggal sang suami, istri tetap dapat melanjutkan hidup dengan baik karena sudah dibekali keterampilan.

Penolakan demi penolakan atas mimpinya diterima oleh Raden Dewi. Tak hanya oleh kerabat dekat, cita-citanya itu juga ditentang Kanjeng Dalem, petinggi Bandung kala itu. Mereka beranggapan, impiannya terlalu mengada-ada dan menentang adat wanita. Meskipun begitu, dia tak pernah menyerah. Dewi semakin gencar untuk menemui pihak yang kemungkinan dapat membantunya.

Setelah lama berusaha, wanita itu mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Inspektur Pengajaran Hindia Belanda. Semenjak itu, langkahnya semakin mudah. Akhirnya, pada 16 Januari 1904, diresmikan sekolah untuk anak perempuan dengan nama “Sakola Istri”. Kehadiran sekolah tersebut membuat semangat gadis-gadis untuk menuntut ilmu dan keterampilan meningkat. Para orang tua mau menangguhkan perkawinan putrinya untuk sekolah terlebih dulu (hal 304).

Buku ini menguraikan fakta tentang kehidupan Raden Dewi Sartika yang tidak banyak diketahui umum. Kisah hidupnya diceritakan secara mendalam, mulai dari asal usul, masa kecil di Cicalengka, perjuangan membuat “Sakola Istri”, kehidupan pernikahan dengan Raden Agah, hingga kisah pilunya sebelum wafat di Desa Cineam.

Banyak yang dapat dipetik dari perjalanan hidup sang pendidik bangsa, di antaranya pantang menyerah, kejujuran, kerja keras, empati, dan teguh pada prinsip. Raden Dewi tidak hanya pencetus pendidikan kaum hawa, tetapi juga aktivis berintegritas yang mewakafkan kehidupannya untuk pendidikan.

Kerja keras itu hendaknya menjadi cambuk bagi perempuan masa kini agar tidak membuatnya percuma. Caranya, dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menuntut ilmu secara maksimal. 

Diresensi Wening Niki Yuntari, Alumnus Universitas Negeri Yogyakarta

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment