Koran Jakarta | June 25 2018
No Comments

Kisah Inspiratif Para Ibu yang Bekerja dari Rumah

Kisah Inspiratif Para Ibu yang Bekerja dari Rumah
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Chicken Soup for the Soul Ibu Hebat

Penulis : Jack Canfield, Mark Victor

Hansen, Wendy Walker

Penerbit : Gramedia

Terbit : Cetakan 1, 2017

ISBN : 978-602-03-7806-0

Disebut apa para ibu yang meninggalkan pekerjaan berbayar untuk membesarkan anak-anak? Jika tetap mempertahankan pendapatan dan berangkat ke kantor, apakah mereka ibu bekerja? Apakah setiap ibu benar-benar tinggal di rumah? Bukankah semua ibu bekerja? Apa sih ibu penuh waktu itu? Apakah ada orang tua paruh waktu?

Ketika bergulat dengan kata-kata seperti ini, kemungkinan besar orang sedang bergulat dengan sesuatu yang secara emosional sudah terbentuk. Sementara itu, manusia paham bahwa orang seharusnya jangan pernah menggunakan kata ibu rumah tangga ketika berbicara mengenai ibu masa kini. Setiap frase lain tampaknya membebani. Ini tidak hanya mencerminkan betapa sangat pribadi pilihan yang dibuat, tetapi juga bahwa orang menilai atas pilihan. Alasan perempuan memilih bervariasi. Kebanyakan merupakan kombinasi berbagai pertimbangan.

Disebut apa perempuan yang membuat pilihan terbaik untuk anak-anaknya? Mari sebut dia Ibu Lisa Belkin (halaman xiv). Buku ini berisi 10 subtema dengan total 101 esai tentang alasan perempuan meninggalkan pekerjaan. Sebagian mengaku jenuh. Ada kegembiraan, penyesalan, kepuasan, frustrasi, dan perasaan saling bertentangan di ruangan juga saat yang sama. Buku digagas tiga tokoh besar pendiri Chicken Soup for The Soul, yang disebut majalah Time sebagai “fenomena penerbitan dekade ini.” Mereka adalah Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Wendy Walker. Ketiganya mengumpulkan momen Chicken Soup for The Soul dari setiap kontributor agar kisah inspiratif mereka dapat dibaca dunia.

Esai berjudul Penghargaan yang Sungguh Kuinginkan bercerita tentang kisah Terri Major-Kincade, seorang dokter anak yang mendedikasikan diri pada sebuah rumah sakit di Dallas, Texas. Ia tetap bekerja sebagai neonatologis bahkan di hari Thanksgiving dan Natal. Dia ‘mengabaikan’ suaminya yang mulai menumbuhkan jenggot, juga kedua anaknya, Stevi dan Terrence.

Di bulan Januari 2002, Kincade terpilih menjadi dokter terbaik, juga tercatat sebagai orang Afrika-Amerika pertama, termuda di rumah sakit itu. Kincade tersadar ketika mendengar pidato CEO rumah sakit di podium. Ia merasa tersinggung dengan orang yang tetap bekerja pada hari Thanksgiving dan Natal ketika mereka bisa saja menikmati waktu bersama keluarga.

Kincade memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya. Keputusan itu menuai banyak kritik. Dia dianggap menyia-nyiakan karier. Namun Kincade bahagia atas pilihannya. Dia menukar pekerjaan dengan karier baru yang lebih baik: menjadi power mom.

Tetapi pembaca harus mengambil langkah pertama, walau terkadang berarti meninggalkan sebuah penghargaan besar demi sejuta penghargaan harian lainnya (halaman 19). Artikel Aku Seorang Ibu dan Menulis Takkan Menghentikanku berkisah tentang Pam Bostwick, seorang penderita buta parsial dengan lima anak. Temannya, Jenny, menawarkan Pam menulis. Semula Pam menolak, tetapi Jenny terus memberi semagat hingga Pam berubah pikiran. Pam mulai menulis saat semua anaknya sudah tidur. Cacat mata tidak menjadi penghalang.

Ketekunan Pam terbayar. Karyanya diterbitkan saat anak terakhirnya masuk sekolah. Ketika anak bungsunya hampir lulus SD, pandangan parsial Pam mulai memburuk dan berimbas pada kegiatan menulisnya. Hidung Pam menyapu layar komputer saat mencoba membaca huruf. Namun alasannya terus menulis untuk merayakan potongan-potongan kehidupannya bersama orang lain, terutama anak-anak.


Diresensi Arinhi Nursecha, Alumna SMAN 1 Cikarang Utara, Bekasi

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment