Koran Jakarta | June 25 2017
No Comments
Instrumen Investasi - Sentimen The Fed Berpeluang Dongkrak Kinerja Reksadana

Kinerja Reksadana Pasar Uang Tidak Terlalu Tinggi

Kinerja Reksadana Pasar Uang Tidak Terlalu Tinggi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Pada 2017 diperkiraan return yang bisa diraih untuk reksadana pasar uang berkisar 4-6 persen.

JAKARTA - Kinerja reksadana pasar uang pada tahun ini diperkirakan tidak akan setinggi tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh suku bunga acuan yang belum ada perubahan signifikan.

Analis Infovesta Utama, Wawan Hendrawan, mengatakan di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, kinerja reksadana pasar uang berdenominasi rupiah tidak berpengaruh, namun untuk reksadana pasar uang denominasi dollar AS maka penguatan dollar AS dapat menguntungkan bagi investor yang mengkonversinya ke rupiah.

“Untuk tahun ini kinerja reksadana pasar uang diperkirakan tidak akan setinggi tahun lalu,” ungkapnya kepada Koran Jakarta, Kamis (16/2).

Wawan menjelaskan, belum ada perubahan yang signifikan terhadap suku bunga pada Januari 2017 sampai Februari 2017 membuat imbal hasilnya masih setara. Meskipun demikian kondisi pasar uang merupakan instrumen reksadana yang relatif paling aman.

“Digunakan sebagai instrumen untuk menjaga likuiditas dengan imbal hasil yang setara atau lebih tinggi dari deposito,” lanjutnya.

Menurut Wawan, sentimen yang memengaruhi kinerja reksadana pasar uang yakni, suku bunga dan inflasi mengingat sebagian besar portfolionya berupa penempatan pada deposito bank.

Pada 2017 diperkiraan return yang bisa diraih untuk reksadana pasar uang berkisar 4-6 persen. Return reksadana pasar uang tahun ini diperkirakan turun dibandingkan posisi tahun lalu. “Tahun ini justru menurun karena perbedaan suku bunga acuan dimana tahun 2017 lebih rendah dari tahun 2016,” tutupnya.

Sementara itu, data Infovesta Utama menunjukkan kinerja reksadana pasar uang secara year to date (ytd) periode 30 Desember 2016 sampai 31 Januari 2017, dari 93 produk reksadana pasar uang terdapat tiga produk reksadana pasar uang yang membukukan kinerja minus (-), yakni Mandiri Kapital Syariah (-0,02 persen), Quant Federal Pasar Uang (-0,11 persen), dan BNI-AM Dana Pasar Uang Likuid Prioritas (-0,12 persen). Sisanya 90 produk reksadana pasar uang mencatatkan kinerja positif (+) meskipun masih di bawah 1 persen.

 

Relatif Stabil

 

Dihubungi terpisah, analis Pasardana, Beben Feri Wibowo, menuturkan kinerja reksadana pasar uang dapat dikatakan relatif stabil dengan kecenderungan uptrend, terlebih jika portofolio reksadana pasar uang didominasi oleh deposito yang low risk.

“Kurs rupiah akan berpengaruh terhadap kinerja reksadana jika reksadana tersebut berdominasi dollar AS, seiring dengan adanya currency risk,” tuturnya.

Menurut Beben, pada tahun sentimen The Fed berpeluang mendongkrak kinerja reksadana pasar uang khusus portofolio deposito. Alasannya adalah ketika The Fed benar-benar menaikan suku bunga acuan sebanyak 3 kali, di tengah tantangan pemerintah mengendalikan nilai tukar rupiah dan laju inflasi tidak menutup kemungkinan suku bunga acuan dalam negeri mengalami penyesuaian yang berujung pada suku bunga deposito.

“Tahun ini sentimen The Fed berpeluang mendongkrak kinerja pasar uang khususnya deposito. Kebijakan The Fed ini yang lebih mendominasi kinerja oasar uang,” jelasnya.

Beben menjelaskan, kelebihan dalam berinvestasi pada reksadana pasar uang adalah memiliki risiko lebih rendah dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya terutam saham, campuran, dan pendapatan tetap.

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment