Koran Jakarta | February 22 2019
No Comments
Prospek Bisnis

Kinerja Perusahaan Multinasional Tergerus Gejolak Ekonomi Global

Kinerja Perusahaan Multinasional Tergerus Gejolak Ekonomi Global

Foto : DANIEL SLIM/AFP
KINERJA MENURUN - Armada maskapai American Airlines parkir di Bandara Internasional Miami, beberapa waktu lalu. Kinerja maskapai penerbangan Amerika menurun akibat terkena efek gejolak ekonomi dunia, terutama perang dagang AS-Tiongkok.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Prospek perusaha­an-perusahaan di seluruh dunia se­makin suram akibat beberapa feno­mena ekonomi global, seperti perang dagang, perlambatan ekonomi di Tiongkok, dan gejolak pasar saham yang tidak menentu. Hal itu tecermin dari sejumlah perusahaan multina­sional yang menurunkan perkiraan laba, mengumumkan pemutusan hu­bungan kerja (PHK) besar-besaran atau membatalkan rencana akibat volatilitas pasar.

Menurut laporan Bloomberg, Jumat (11/1), maskapai penerbangan kelas dunia, American Airlines Group, Jaguar Land Rover, Macy’s dan BlackRock, kini senasib dengan perusahaan-perusaha­an raksasa yang telah menjadi korban, seperti Apple dan FedEx.

Sementara itu, perusahaan ritel Indonesia, PT Hero Supermarket Tbk mengaku dalam tiga tahun terakhir merugi dan terpaksa melakukan PHK sebanyak 532 karyawan di seluruh In­donesia hingga kuartal ketiga 2018.

Disebutkan, akibat ketidakpastian ekonomi, maskapai-maskapai pener­bangan AS mesti menghadapi penu­runan permintaan. Itu sebab, Ame­rican Airlines mengikuti langkah Delta Air Lines pada awal tahun Perusahaan itu juga telah memprediksi akan ter­jadi penutupan sebagian pemerintah Federal AS (government shutdwon).

Sedangkan FedEx juga memberi­kan pandangan yang lebih suram un­tuk 2019. Beberapa minggu yang lalu, perusahaan jasa pengiriman itu telah memangkas prospek pendapatan, hanya tiga bulan setelah menaik­kannya. Perubahan itu mencermin­kan perubahan mendadak dalam menghadapi gejolak ekonomi global. CEO FedEx, Fred Smith, mengata­kan ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok, sebagai salah satu penyebab. Menurutnya, sebagian be­sar masalah yang muncul disebabkan oleh pilihan politik yang buruk.

Setelah sempat menengguk laba besar, industri otomotif Eropa dan AS juga dilaporkan tengah menuju kemerosotan. Beberapa jam setelah menggambarkan prospek pasar yang cerah, Jaguar dan Ford Motor langsung mengumumkan program pemotong­an anggaran besar-besaran, mencakup penutupan pabrik Ford. Hal itu dilaku­kan setelah melakukan evaluasi bisnis di Eropa. Sementara Jaguar yang men­jadi produsen mobil terbesar di Inggris, akan mem-PHK sekitar 4.500 karyawan atau 10 persen dari tenaga kerja secara global. Ini dilakukan karena Brexit, per­mintaan kendaraan disel yang turun, dan keadaan pasar di Tiongkok.

Sedangkan industri ritel di selu­ruh benua juga menunjukkan tanda-tanda penurunan. Selain berbagai masalah lokal, kendala yang dialami bersama adalah perlambatan eko­nomi di Tiongkok tengah memba­yangi merek-merek besar terbesar, seperti Tiffany & Co, dan Louis Vuit­ton. Pekan lalu, pihak Tiffany menga­takan bahwa penjualannya melemah dari perkiraan karena konsumen dari Tiongkok tengah mengurangi penge­luaran saat belanja di luar negeri. AFP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment