Koran Jakarta | June 27 2019
1 Comment
GAGASAN

Kinerja Industri Manufaktur

Kinerja Industri Manufaktur

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Beberapa waktu lalu, Nikkei Indonesia Manufacturing dan IHS Markit, Purchasing Managers’ Index merilis indeks manufaktur Indonesia (IMI). Tepatnya, rilis dikeluarkan pada bulan November 2018 Senin (3/12/2018). Isinya, IMI berada di angka 50,4 atau turun tipis dari bulan Oktober (50,5). Penurunan terjadi sejak September ketika indeks berada di angka 50,7.

Ini turun dari bulan Agustus. IMI mencapai titik tertinggi selama 26 bulan terakhir sebesar 51,9. Dengan indeks sebesar 50,4, di negara-negara ASEAN, Indonesia menduduki peringkat ke-4 di atas Thailand (49,8), Malaysia (48,2), dan Singapura (47,4). Data indeks di atas 50 menunjukkan peningkatan. Sedangkan di bawah 50 mengindikasikan penurunan.

Dengan demikian, IMI menunjukkan adanya pelambatan karena permintaan yang lemah. Saat produksi meningkat, permintaan baru secara umum stagnan. Kenaikan harga sebagai dampak volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS disebut-sebut menjadi salah satu faktor penurunan daya beli dan permintaan konsumen.

Belum lagi semakin panjangnya rantai pasokan karena gangguan cuaca dan kekurangan bahan baku. Penurunan IMI juga sejalan dengan penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sepanjang kuartal I/2018, kontribusi manufaktur sebesar 20,27 persen. Ada pertumbuhan 4,50 persen atau sedikit lebih tinggi dari periode sama tahun 2017 (4,28).

Pada kuartal II/2018, sektor industri manufaktur berkontribusi 19,83 persen terhadap total PDB. Ini masih menunjukkan kinerja positif, dengan indikator pertumbuhan 4,41persen . Kuartal III/2018 tumbuh 5,15 persen dengan kontribusi 19,66 persen. Angka pertumbuhan terjadi pada sektor industri tekstil dan pakaian 10,17 persen.

Industri makanan dan minuman berada di level 8,10 persen. Sedang industri alat angkutan tembus 5,37 persen. Meskipun menurun kecil, posisi sektor manufaktur yang menjadi salah satu andalan penopang perekonomian nasional, perlu diperhatikan. Sebab dia berdampak langsung terhadap kinerja dan perbaikan ekonomi nasional seperti penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, investasi, dan distribusi pendapatan.

Pertumbuhan ekspor harus dijadikan pendorong kinerja manufaktur dan memperbaiki IMI. Misalnya, dengan dengan memperbaiki produktivitas, kualitas, efisiensi, dan daya saing global. Dalam tata kelola dunia baik secara geo-ekonomi maupun geo-politik yang semakin terbuka, tekhnologi telah mendorong peningkatan mobilitas secara vertikal dan horisoltal.

Ini termasuk gerakan bahan baku, tenaga kerja, dan pasar bebas. Dampaknya, digitalisasi industri di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dalam konteks demikian, metodologi produktivitas dan efisiensi industry, lean manufacturing dan six sigma (pendekatan umum yang sudah banyak diimplementasikan industri dunia) harus dikombinasikan dengan revolusi industri 4.0.

Pemerintah sendiri sudah melaunching Making Indonesia 4.0 sebagai road map menuju revolusi industri 4.0. Dengan 5 (lima) sektor prioritas industri makanan dan minuman, kemikal, elektronik, automotif, serta tekstil dan pakaian jadi. Revolusi industri 4.0 menghendaki perbaikan daya saing melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi mengunakan teknologi sebagai kunci sukses.

Key success tersebut di antara Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D printing. Transformasi industri 4.0 dalam sebuah industri menjadi wajib, di tengah pasar bebas yang berlaku secara masif. Jika tidak, produk dan industri nasional akan kalah saing di pasar dalam negeri maupun global.

Di tengah tren defisit neraca perdagangan tahun 2018 yang secara komulatif (Januari- November) mencapai 7,52 miliar dollar AS, makin penting untuk memperbaiki kinerja industri manufaktur dan mengurangi impor. Pilihan ini harus menjadi prioritas tahun 2019.

 

Sinergi

 

Salah satu strategi untuk mendorong kinerja industri manufaktur melalui akselerasi dan sinergitas kebijakan standar nasional Indonesia (SNI) dan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Ini penting di tengahtengah kendala-kendala terkait penerapan SNI. Di antaranya kesadaran perusahaan akan pentingnya standardisasi bagi produk-produk industri yang telah dihasilkan masih rendah.

Kemudian jumlah laboratorium uji produk masih sedikit. Lihat pentingnya kebijakan TKDN untuk industri smartphone dalam Permenperin No 65 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam, dan Komputer Tablet.

Ini lalu direvisi menjadi Permenperin Nomor 29 Tahun 2017. Pertumbuhan industri smartphone dalam negeri terus bergerak secara positif. Tahun 2013, sebelum ada kebijakan TKDN, impor smartphone mencapai 62 juta unit dengan nilai 3 miliar dollar AS. Sedangkan produksi dalam negeri masih 105 ribu untuk dua merek lokal. Hasilnya, pada 2014, impor ponsel menurun menjadi 60 juta unit.

Sementara itu, produksi ponsel dalam negeri tumbuh signifikan menjadi 5,7 juta unit. Kemudian, tahun 2015, produk impor merosot hingga 40 persen menjadi 37 juta unit dengan nilai 2,3 miliar dollar AS. Sedangkan, produksi ponsel di dalam negeri semakin meningkat 700 persen dari tahun 2014 menjadi 50 juta unit untuk 23 merek lokal dan internasional.

Pada 2016 produk impor ponsel menurun kembali sekitar 36 persen menjadi 18,5 juta unit senilai 775 juta dollar AS. Untuk ponsel produksi dalam negeri meningkat 36 persen dari tahun 2015 menjadi 68 juta unit. Tahun 2017, impor ponsel turun menjadi 11,4 juta unit. Sedangkan produksi ponsel dalam negeri 60,5 juta unit untuk 34 merek.

Sebelas di antaranya adalah merek lokal SPC, Evercoss, Elevate, Advan, Luna, Andromax, Polytron, Mito, Aldo, Axioo, dan Zyrex. Data ini menunjukkan, kebijakan TKDN berdampak secara langsung terhadap pertumbuhan sektor industri manufaktur dalam negeri. Ini tentunya akan berkorelasi positif terhadap kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional.

Maka, akselerasi dan sinergitas SNITKDN menjadi salah satu langkah strategis untuk diterapkan secara simultan. Perlindungan terhadap konsumen, produk serta industri lokal akan jauh lebih komperhensif. Standarisasi sebagai jaminan mutu dan kualitas dalam perspektir perlindungan konsumen, sekaligus mendorong tumbuhnya industri-industri nasional. 

 

Eko Setiobudi, SE, ME, Factory Manager PT Tridharma Kencana

View Comments

Nugroho SBM
Sabtu 12/1/2019 | 06:31
Yg juga penting adalah membangun industri hulu substitusi ompir antara lain industri bahan baku.

Submit a Comment