Koran Jakarta | November 18 2017
No Comments
Neraca Perdagangan I Kinerja Ekspor pada Juni 2017 Turun 18,82 Persen dari Bulan Sebelumnya

Kinerja Ekspor-Impor Turun

Kinerja Ekspor-Impor Turun
A   A   A   Pengaturan Font

Tiga negara penyumbang defisit terbesar perdagangan dengan Indonesia meliputi Tiongkok yang mencapai 6,62 miliar dollar AS, Thailand sebesar 1,83 miliar dollar AS, dan Australia sebesar 1,57 miliar dollar AS.

Jakarta – Kinerja ekspor dan impor Indonesia sepanjang Juni lalu turun dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, neraca perdagangan pada Juni lalu tetap naik dan bahkan tercatat tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (17/7), nilai impor Indonesia pada Juni 2017 sebesar 10,01 miliar dollar Amerika Serikat (AS), turun sebesar 27,26 persen dibandingkan bulan sebelumnya atau month-to-month (mtm). Penurunan tersebut disebabkan turunnya nilai impor minyak dan gas (migas) sebesar 175,4 juta dollar AS atau 9,79 persen secara mtm dan nonmigas sebesar 3,57 miliar dollar AS atau 29,88 persen secara mtm.

“Penurunan impor migas dipicu oleh turunnya semua komponen seperti minyak mentah, hasil minyak dan gas. Nonmigas juga turun,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, dalam jumpa pers, di Jakarta.

Secara kumulatif untuk periode Januari–Juni 2017, impor tercatat mencapai 72,33 miliar dollar AS, turun 9,60 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya atau year-on-year (yoy).

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Juni 2017 ditempati Tiongkok 25,96 persen, diikuti Jepang 11,15 persen, dan Thailand 7,28 persen. Sementara untuk impor nonmigas dari ASEAN sebesar 20,75 persen, sedangkan dari Uni Eropa (UE) mencapai 9,23 persen.

Pada saat bersamaan, kinerja ekspor Indonesia juga turun 18,82 persen secara mtm menjadi 11,64 miliar dollar AS. Secara yoy, kinerja ekspor pada Juni 2017 turun sebesar 11,82 persen.

Siklus Lebaran

Menurut BPS, penurunan kinerja ekspor tersebut disebabkan adanya pengaruh siklus masuknya bulan Ramadan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada Juni 2017. “Ini pengaruh siklus Idul Fitri, jika dibandingkan dengan tahun lalu siklusnya sama, tapi beda bulan. Diharapkan akan bergerak naik lagi pada bulan berikutnya,” kata Suhariyanto.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada periode Januari–Juni 2017 mencapai 79,96 miliar, meningkat 14,03 persen yoy. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari–Juni 2017 mencapai 7,63 miliar dollar AS. Kinerja ekspor pada periode tersebut mencapai 79,96 miliar dollar AS dan impor sebesar 72,33 miliar dollar AS.

“Secara kumulatif neraca perdagangan surplus, yang tertinggi sejak 2012. Ini merupakan perkembangan yang baik,” kata Suhariyanto.

Pada periode tersebut, negara penyumbang surplus meliputi India yang mencapai 5,04 miliar dollar AS, Amerika Serikat (AS) 4,7 milliar dollar AS dan Belanda sebesar 1,56 miliar dollar AS. Sementara tiga negara penyumbang defisit terbesar adalah Tiongkok yang mencapai 6,62 miliar dollar AS, Thailand sebesar 1,83 miliar dollar AS dan Australia sebesar 1,57 miliar dollar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memandang kinerja neraca perdagangan pada Juni 2017 positif dalam mendukung kinerja transaksi berjalan.

“Bank Indonesia terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik yang dapat memengaruhi kinerja neraca perdagangan, serta secara konsisten menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan agar kegiatan ekonomi domestik terus berjalan dengan baik,” jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI,Tirta Segara.

mad/Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment