Koran Jakarta | October 22 2018
No Comments

Kidal yang Masih Dianggap Tabu

Kidal yang Masih Dianggap Tabu

Foto : dok Jakarta Left Handed Community
A   A   A   Pengaturan Font

Menggunakan tangan kiri dianggap tabu bahkan tidak sopan. Padahal, beraktifitas dengan tangan kiri terjadi secara normal bagi sebagian orang.

 

Aktifitas yang terbiasa dilakukan tubuh bagian kanan membuat para left handed (kidal) kerap mendapatkan tanggapan miring dari masyarakat. Jakarta Left Handed Community bermaksud menggaungkan left handed sebagai varian normal gerakan tubuh. Teguran akan cepat mampir ketika menggunakan tangan kiri untuk melakukan aktifitas, terlebih jika makan menggunakan tangan kiri. Masyarakat menggangap beraktifitas menggunakan tangan kiri tabu bahkan tidak sopan.

Padahal bukan bermaksud kurang ngajar, namun beraktifitas dengan tangan kiri terjadi secara normal. Itulah yang dialami para pemilik tubuh kidal.

Mereka lebih sering berakfitas menggunakan tubuh bagian kiri, baik tangan maupun kaki. Karena otak kanan yang menggerakkan tubuh bagian kiri lebih dominan ketimbang otak kiri yang menggerakkan tubuh sebelah kanan. “Tapi bukan berarti tangan kanan tidak digunakan,” ujar Ericson Arthur Siahaan, pendiri Jakarta Left Handed Community yang ditemui di pusat perbelanjaan dibilangan Jakarta Selatan, Selasa (21/8).

Kadang-kadang untuk bersalaman, mereka masing menggunakan tangan kanan sesuai budaya yang berkembang. Hanya untuk menulis atau menggenggam, mereka lebih banyak menggunakan tangan kiri. Tangan atau kaki kidal dapat diperoleh dari bawaan lahir.

“Bayi yang memegang botol susu menggunakan tangan kiri sudah memiliki kecenderungan,” ujar laki-laki yang berprofesi sebagai dokter tersebut. Bahkan ada perkiraan, ibu yang selama hamil mengalami gangguan stres cenderung memiliki anak kidal. “Ada orang-orang tertentu, tetapi jumlahnya sedikit sekali,” ujar dia.

Bagi para pemilik tubuh ini, kidal tidak mengganggu aktifitas keseharian. Hanya karena, aktifitas dilakukan menggunakan anggota tubuh yang tidak lumrah, mereka kerap mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. Baik berupa, teguran langsung maupun candaan yang dilakukan berulang-ulang.

Tanggapan yang kurang membangun tersebutlah yang kerap mengganggu para pemilik tubuh kidal. Hal tersebut yang menjadi salah satu alasan berdirinya Jakarta Left Handed. Mereka ingin berkumpul dan berdiskusi tentang kidal, khususnya untuk wilayah Jabodetabek.

”Supaya, kita bisa berbagi perasaan, berbagi pengalaman maupun berbagi apa saja,” ujar laki-laki yang tengah mengambil dokter spesialis kejiwaan ini.

Selain itu, komunitas yang berdiri pada 1 April 2018 ingin mengkampanyekan bahwa kidal bukan sesuatu yang tabu maupun buruk. Banyak, orang sukses karena memiliki tubuh kidal, seperti Barack Obama, Bill Gates maupun Oprah Winfrey. Untuk itu, laki-laki yang biasa disapa Eric ini kerap bekerja sama dengan komunitas lain khususnya komunitas yang berfokus pada kesehatan mental.

Saat ini, anggota tercatat sebanyak 100 orang yang berasal dari beragam usia mulai 18 tahun hingga 50 tahun.

Mereka memiliki beragam latar belakang dari pelajar SMA, mahasiswa, dosen maupun psikiater. Selama ini, anggota komunitas kerap melakukan diskusi di ruang-ruang publik untuk saling tukar pikiran.

Termasuk, kegiatan bersama memperingati Hari Kidal Internasional. Kegiatan lainnya berupa olah raga bersama maupun latihan band bersama. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan komunitas tidak lain untuk meningkatkan kreatifitas anggota maupun orang kidal pada umumnya.

Seperti pada Desember yang akan datang, komunitas akan mengadakan lomba melukis untuk anak-anak kidal. Karena, kidal merupakan aktifitas tubuh yang natural. Biarkan, tubuh bergerak sesuai alurnya supaya mudah menggapai prestasi. din/E-6

Antara Keterbatasan dan Kemampuan Berinovasi

Seringkali anak-anak kidal dipaksa menggunakan tangan kanan oleh orang tuannya karena tuntutan budaya. Padahal, anggota tubuh yang tidak dimanfaatkan secara maksimal justru akan menghambat prestasi.

Kidal yang bukan merupakan keterbatasan masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Hal tersebut tidak lain, karena aktifitas tubuh tidak bekerja seperti yang lazimnya. Masyarakat masih menganggap tangan dan kaki sebelah kanan yang lebih istimewa, sedangkan jika kegiatan dilakukan dengan tangan maupun kaki kiri dianggap kurang patut.

Alhasil, kadang-kadang mereka dipaksa beraktifitas menggunakan tangan ataupun kaki kanan. “Orang yang tangan kirinya dihambat potensinya maka tidak akan maksimal dibandinngkan kalau dibiarkan bebas,” ujar Eric.

Orang-orang kidal memiliki beberapa keuntungan dibandingkan orang yang tidak kidal. Mereka terbiasa berpikir secara holistik atau menyeluruh.

Melihat permasalahan dari segala sudut pandang. Keuntungan lainnya, mereka menyukai hal-hal yang out of the boxyang bisa dikembangkan menjadi inovasi-inovasi yang baru. Di sisi lain, orang kidal memiliki keterbatasan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris yang dilakukan pada beberapa ratus orang kidal dan tidak kidal, orang kidal lebih sering mengalami gangguan mood.

“Hanya tidak semuanya,” ujar laki-laki yang gemar berorganisasi ini. Orang kidal telah menjadi bagian dari penduduk dunia. Eric mengatakan jumlah orang kidal diseluruh dunia kurang lebih 10 persen dari penduduk dunia. “Jadi setiap satu juta penduduk ada sekitar 100 orang kidal,” ujar dia memperkirakan.

Jumlah yang tergolong banyak tersebut akan berkembang lebih potensial jika dibiarkan untuk aktifitas sehari-hari. din/E-6

Beruntung Menjadi Orang Kidal

Memiliki tangan kidal tidak selalu ditanggapi dengan kacamata postif. Karunia tersebut malah dapat dimaknai positif. Pasalnya, mereka dapat melatih kedua tangan untuk melakukan aktifitas seharihari. Hal tersebut yang dialami Julianti, 29, importir bawang putih, sebagai orang kidal, ia justru merasa lebih diuntungkan.

“Untung sekali malah, jadi otak kanan dan otak kiri menjadi aktif,” ujar Julianti, Kamis (23/8). Terlahir sebagai orang kidal, dia bisa melatih dirinya menjadi ambidextrous.

Yaitu, kemampuan seseorang dalam menggunakan kedua tangan dengan kapasitas yang sama baiknya. Wanita yang biasa disapa Juli mengaku walupun kidal, ia dibiasakan untuk menggunakan tangan kanan oleh kedua orang tuanya. Kebiasaan (salah satunya menulis) yang telah dimulai sekitar SMP sempat membuat proses belajarnya menjadi terhambat. “Misalnya, saya menjadi gagap,” ujar dia tentang pengalamannya masa remaja. Hanya seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut malah menjadikannya sebagai ambidextrous.

“Intinya mau jadi left handed atau right handed itu sama saja,” ujar dia. Sebagai orang kidal, Juli tidak terlepas dari cibiran masyarakat tentang kebiasaannya menggunakan tangan kiri tersebut. “Sudah pasti,” ujar dia. Terutama, saat makan dengan menggunakan tangan kiri yang dianggap sebagai tangan kotor.

“Saya hanya bisa menjawab mau makan pakai tangan apa pun, sama saja. Karena ini, karunia Tuhan,” ujar dia yang tidak pernah tersinggung dengan cibiran masyarakat. Karena dia menganggap makan dengan tangan kanan sebatas budaya. Di sisi lain, kemampuannya menggunakan otak kanan secara maksimal malah mengasahnya bidang kreatif. Saat ini, Juli tengah menggeluti dunia fotografi selain menjalankan usahanya di bidang holtikultura.

Dia beralasan gambar dapat menceritakan sebuah kisah. Juli yang mengaku bukan fotografer profesional tidak pernah lelah berlatif fotografi. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment