Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Hasil Pemilu - Masyarakat Diimbau Tidak Unjuk Rasa Saat Pengumuman Hasil

KH Ma’ruf Ingin 22 Mei Kondusif

KH Ma’ruf Ingin 22 Mei Kondusif

Foto : Koran Jakarta /Trisno Juliantoro
BERIKAN TAUSYIAH - Cawapres 01, KH Ma’ruf Amin saat memberikan tausyiah sebelum buka puasa bersama media, di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (17/5).
A   A   A   Pengaturan Font
Kedewasaan seluruh elemen masyarakat perlu ditunjukkan ketika KPU mengumumkan hasil resmi Pemilu serentak pada 22 mei mendatang.

JAKARTA – Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin, menginginkan situasi pengumuman hasil Pemilu pada 22 Mei 2019 nanti berjalan kondusif. Seperti yang diketahui, ada potensi mobilisasi massa pada saat KPU mengumumkan hasil rekapitulasi suara Pemilu 2019 nanti.

“Harapannya semua kondusif, berjalan dengan baik, kembali ke pangkal kepada yang sudah diatur. Kalau kita ada perbedaan, maka yang ditempuh asalah kalan yang sudah disediakan, jangan jalan yang keluar jalur,” ujar Kiai Ma’ruf usai acara buka puasa bersama media di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Jumat (17/5).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) non aktif tersebut mengimbau kepada elite politik untuk bisa mengikuti aturan main yang telah disepakati bersama. Dengan mengikuti aturan dari penyelenggara Pemilu, Ma’ruf yakin bahwa situasinya nanti akan kondusif dan berjalan dengan normal dan lancar. “Kepada para tokoh, tokoh agama maupun negarawan, kita ajak supaya kita bersamasama mengawal ini dan meredam supaya tidak terjadi gejolak di masyarakat,” imbuhnya.

Selanjutnya, Kiai Ma’ruf mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk menjaga keutuhan, keamanan, ketenteraman bangsa dan negara. Menurut Kiai Ma’ruf, masyarakat harus berpikir bahwa menjaga negara, mengutamakan negara dan bangsa, adalah hal yang harus diutamakan dan didahulukan daripada kepentingan kelompok dan sesaat.

“Mudah-mudahan, setelah nanti diumumkan berjalan dengan aman dan kita kembali merajut apa yang kemarin terbelah menjadi utuh kembali,” terangnya. Mustasyar PBNU tersebut menerangkan, bahwa negara Indonesia merupakan kesepakatan dari para pendiri bangsa.

Oleh karena itu, Kiai Ma’ruf mengimbau agar stabilitas negara dijaga dan jangan sampai di cederai, begitu pun dengan hasil Pemilu yang juga merupakan sebuah kesepakatan. “Kalau kita semua taat pada asas kesepakatan itu, semuanya akan berjalan dengan baik. Tetapi ketika kesepakatan itu kita cederai, maka itu akan menjadi disharmoni,” tandasnya.

 

Manfaatkan Situasi

 

Sementara itu, Ketua Harian TKN Jokowi-Ma’ruf, Moeldoko, menduga bahwa ada upaya sistematis yang akan memanfaatkan situasi jika terjadi pengumpulan massa.

Menurut Moeldoko, ancaman ini harus dipahami betul oleh semua pihak, sebab hal tersebut merupakan rencana serius yang disinyalir didalangi oleh kelompok tertentu. “Untuk itu saya mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak perlu berbondongbondong ke sebuah tempat titik berkumpul, yang pada akhirnya digunakan sebagai tempat yang dimanfaatkan oleh kelompok tertentu itu,” jelasnya.

Moeldoko mengaku, pada level politik pihaknya sudah mencoba membangun komunikasi politik agar ada pertemuan level elite politik dari kedua kubu.

Ia pun mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi sudah sangat terbuka dan ingin agar terjadi komunikasi yang sehat, sehingga dapat menetralisir situasi yang seolah kacau balau. “Nanti kalau ada pertemuan antara dua pimpinan itu, kita berharap situasi makin cair,” pungkasnya. 

 

tri/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment