Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments
Kondisi Negara

Ketua MPR: Persatuan Harus Terus Dipelihara

Ketua MPR: Persatuan Harus Terus Dipelihara

Foto : koran jakarta /rama agusta
Tutup Kongres I Ketua MPR, Zulkifli Hasan ketika memberikan sambutan penutupan Kongres I Pemuda Agama Konghucu Indonesia (PAKIN), di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Timur, Selasa (11/9).
A   A   A   Pengaturan Font

Jakarta – Bhineka Tunggal Ika, suatu semboyan yang sering menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia atas beraneka ragamnya budaya, suku, agama dan ras. Keberagaman ini merupakan ciri khas bangsa Indonesia, sehingga tak heran para pendiri/ proklamator bangsa sepakat untuk menggusung Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Bangsa Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Zulkifli Hasan dalam penutupan Kongres I Pemuda Agama Konghucu Indonesia (PAKIN), yang digelar di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Timur, Selasa (11/9). Zulkifli mengatakan, persatuan Indonesia harus terus dijaga seluruh anak bangsa, terlebih Indonesia akan memasuki tahun politik Pemilu Serentak 2019.

Menurutnya, bangsa ini didirikan oleh kaum muda terdidik. Disebut kaum muda terdidik itu mulai bergerak dari tahun 1908, 1928, dan 1945. Dipaparkan tahun 1945 pendiri bangsa sudah membicangkan dasar-dasar negara. Pada masa itu ungkap Zulkifli Hasan, para pendiri bangsa sudah berbicara demokrasi, kesetaraan, dan keadilan.

Apa yang dipikirkan itu tercermin dalam nilainilai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Jadi kalau kita mempermasalahkan perbedaan dan asal-usul berarti kita kembali ke masa lalu,” katanya. Apalagi tegas Ketua MPR itu, Indonesia akan menghadapi tahun politik yakni, Pemilu Serentak 2019.

Zulhasan panggilan akrabnya itu mengingaktkan bahwa sebagai tanggungjawabnya sebagai warga negara, masyarakat harus menggunakan hak pilihnya. Masyarakat tidak boleh pasif dalam menentukan pilihannya. Pasalnya baik buruknya calon anggota legislatif dan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan dipilih nanti bergantung pada ketelitian masyarakat menimbang latar belakang wakil rakyatnya kelak.

“Jadi perilaku warga negara untuk bertanggungjawab menentukan wakil rakyatnya itu penting. Kalau masyarakatnya masa bodoh, ya negeri ini akan menjadi negeri masa bodoh juga,” kata Zulhasan. Dalam situasi politik yang dinamis cenderung memanas ini, Zulhasan mengajak PAKIN untuk ikut menjadi pelopor persatuan. Dirinya yakin PAKIN mampu menjaga Indonesia dari perpecahan sebab PAKIN terdiri atas sekumpulan anak muda-muda yang penuh optimisme untuk membangun bangsa. rag/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment