Koran Jakarta | June 26 2017
No Comments
Neuroscience

Ketika Video “Streaming” Picu Stres

Ketika Video “Streaming” Picu Stres

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Delay saat menonton video streaming ternyata dapat memicu tingkat stres lebih tinggi, jika dibandingkan stres karena terjebak kemacetan di Jakarta.

Pemandangan orang yang sibuk menunduk sembari asyik bermain gadgetnya adalah hal yang lumrah. Hampir setiap kesempatan dalam keseharian hidup kita pasti bakal menemukan orang sepeti ini, di manapun itu. Apalagi dalam suasana menunggu atau bahkan terjebak dalam peliknya kemacetan ibukota Jakarta? Gadget dalam situasi ini seolah menjadi pelipur lara yang efektif bagi kebanyakan orang.

Kendati demikian, ada fakta menarik yang diungkap dalam Neuroscience Report. Dalam laporan yang dibuat oleh Ericsson ConsumerLab menunjukan, menunggu video yang lambat di smartphone ternyata bisa menyebabkan tingkat stres yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan berkendara di tengah kemacetan kota Jakarta.

“Masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan tinggi terhadap konten digital, dengan Youtube berada pada ranking pertama di antara aplikasi smartphone berdasarkan pengguna aktif bulanan,” jelas Afrizal Abdul Rahim, Head of Ericsson ConsumerLab South East Asia & Oceania, di Jakarta belum lama ini.

Untuk memperoleh kesimpulan tersebut, Ericsson ConsumerLab dalam studinya meneliti sekitar 170 pengguna smartphone di Jakarta dengan rentang usia 18-50 tahun, untuk menganalisis hubungan antara waktu yang dibutuhkan ketika seseorang mengakses konten (time-to-content) pada telepon genggamnya.

Studi ini menemukan bahwa generasi milenial berumur 18-35 tahun, yang mewakili generasi muda pengguna telepon seluler dan data, adalah kelompok yang paling sensitif. Terutama dengan generasi milenial yang berusia lebih muda, yaitu antara 18-24 tahun. Temuan ini mengungkap hanya 2 detik delay pada loading video di Youtube dapat menyebabkan kenaikan level stres sebanyak 16 persen pada tingkat stres kognitif, sedangkan rentang usia 25-34 tahun akan kehilangan minat sepenuhnya, apabila sebuah video delay berlangsung lebih dari 4 detik.

“Sebanyak 30 detik dari pengguna menghadapi masalah ini sehari-hari. Seiring dengan semakin canggihnya pengguna smartphone. Mereka pun akan mengharapkan lebih banyak dari penyedia jaringan termasuk konten yang bisa diakses secara cepat dan tanpa gangguan. Keinginan ini diperkirakan akan meningkat apabila Virtual Reality dan Augmented Reality menjadi lebih umum,” jelas Afrizal. ima/R-1

Kesalahan Menyeluruh

Di samping mengukur level stres dikarenakan delay pada loading video, studi ini juga membahas stres yang disebabkan oleh lemot jaringan saat mengunggah sesuatu pada media sosial. Studi ini menyebut bahwa masyarakat Indonesia kerap merasakan selfie stress apabila mengalami delay saat mengunggah gambar di jaringan media sosial.

Sama halnya dengan loading video, titik puncak stres diantara pengguna Indonesia saat mengunggah gambar di media sosial lewat smartphone adalah 4 detik, di mana 47 persen dari pengguna akhirnya kehilangan motivasi atau mengurungkan niat mempublikasi photo, seperti selfie.

Apa yang dilakukan oleh Ericsson ConsumerLab bukan sekedar studi belaka, mereka melakukan ini karena lambatnya jaringan dapat berpengaruh langsung pada seluruh ekosistem mobile. Studi ini mengungkapkan bahwa kepuasan pengguna turun secara signifikan ketika mereka mengalami delay.

Buruknya, baik produsen handset maupun penyedia konten melihat brand engagement mereka menurun jika waktu delay tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna secara otomatis akan menyalahkan semua pemain ekosistem saat layanan memburuk.

“Penurunan ini berhubungan dengan delay web atau video yang tidak hanya memengaruhi operator seluler, tetapi seluruh ekosistem. Penyedia layanan seluler di Indonesia dapat memanfaatkan laporan ini untuk menyesuaikan tolok ukur performa jaringan mereka sesuai dengan yang diharapkan pengguna,” jelas Ronni Nurmal, Head of Network Products, Ericsson Indonesia and Timor Leste.

Selain itu, dia juga menambahkan mengoptimalkan jaringan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin tinggi, untuk saat ini merupakan jalan keluar terbaik. “Seperti merencanakan teknologi masa depan 5G dan Internet of Things (IoT),” tandas Ronni. ima/R-1

Keterikatan Psikologis

Jika diamati dari penurunan loyalitas terhadap ekosistem mobile akibat delay-nya jaringan, menggambarkan betapa dekatnya hubungan teknologi dan manusia saat ini.

Hubungan ini seolah sudah tidak bisa terlepaskan, jika kita berbicara soal smartphone saja, mungkin hampir diseluruh keseharian kita pasti selalu dibantu oleh kemajuan tekologi tersebut.

Bahkan menurut studi terbaru dari Physiological Society, kehilangan smarphone sebanding stresnya dengan ancaman teroris. Mereka mengkaji 2.000 orang di Inggris terkait stres dan efeknya pada tubuh, dengan cara tiap peserta diminta menunjukkan tekanan dari peristiwa yang dihadirkan dalam studi ini, dari nilai 0 hingga 10.

Dari hasil penelitian tersebut menunjukan kebanyakan orang akan berada di tingkat stres besar ketika mengalami kehilangan smartphone, melebihi stres akibat acaman teroris.

“Dunia modern menghadirkan faktor penyebab stres yang tidak kita bayangkan 50 tahun lalu, seperti media sosial dan smartphone,” ujar Dr. Lucy Donaldson (Ketua Komisi Kebijakan, The Physiological Society) seperti dilansir The Telegraph.

Sedangkan untuk delapan faktor penyebab stres paling tinggi adalah kematian pasangan, saudara, atau teman. Hukuman penjara, bencana banjir atau kebakaran. Terkena penyakit, dipecat, bercerai, pencurian identitas dan masalah finansial. Hasil studi juga menemukan bahwa kaum perempuan cenderung lebih rentan terkena stres akibat faktor-faktor ini, daripada laki-laki. ima/R-1

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment