Ketika Lapisan Es Raksasa di Antartika Patah | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments

Ketika Lapisan Es Raksasa di Antartika Patah

Ketika Lapisan Es Raksasa di Antartika Patah

Penampakan salah satu sisi permukaan Gunung Es Larsen C yang patah dari Antartika. Diperkirakan Larsen C yang berbobot satu triliun ton ini merupakan bongkahan es terbesar keempat yang memisahkan diri dari Antartika.
A   A   A   Pengaturan Font

Permukaan Gunung Es Larsen C, sebesar 12 persen dari luas 2.240 mil persegi (5.800 kilometer persegi) akhirnya patah dan memisahkan diri dari Antartika. Hal itu terjadi antara 10 hingga 12 Juli. Hal ini dilaporkan sebuah kelompok peneliti asal Inggris, MIDAS Project.

Salah satu gunung es terbesar yang pernah tercatat oleh para peneliti di Antartika, dengan ukuran sekitar satu triliun ton es atau sebesar dua kali lipat Danau Erie, sebuah danau terbesar ke empat di Amerika Serikat, dan urutan ke 13 sebagai danau terbesar secara global, baru-baru ini terpecah dan memisahkan diri dari Antartika.

Para peneliti mendapati fenomena alam pecahnya gunung es raksasa yang merupakan bagian dari lapisan es Larsen C dengan luas 5.800 kilometer persegi ini, melalui pengumpulan data dari instrumen satelit Aqua milik NASA, yang disebut MODIS, yang secara teknologi memiliki kemampuan pengambilan gambar dengan mekanisme inframerah termal.

Melalui pemantauan ini, para peneliti belum mengetahui pasti kapan celah bongkahan gunung es “baru” yang pecah itu melepaskan diri dan terapung.

“Hanya saja, keretakan di lapisan es Larsen C, yang juga merupakan lapisan es terbesar keempat di Antartika ini sudah terendus sejak beberapa dekade terakhir. Dan baru diteliti lebih mendalam pada November 2016,” kata kelompok peneliti MIDAS Project, seperti dikutip dari livescience.com.

Berdasarkan pantauan melalui metode pengukuran satelit, menunjukan lebar retakan sebelumnya hanya sekitar 300 kaki (91 m) dan panjang 70 mil (112 km). Kemudian berdasarkan pengukuran terbaru pada musim panas ini, mencatat keretakan kian meluas yaitu mencapai 124 mil (200 km), dan terhubung dengan lapisan es seukuran 3 mil (5 km).

 

Meski demikian para peneliti melihat fenomena bergesernya gunung es seberat triliun ton (1 triliun metrik ton), tidak akan berdampak langsung pada kenaikan permukaan air laut. Karena es yang terpecah dan memisahkan diri ini akan mengambang di wilayah sekitar. Namun hal ini bisa mempercepat jatuhnya sisa lapisan es sebelumnya, dan gunung es baru ini secara signifikan mengurangi area es Larsen C sebesar 12 persen.

Sebelumnya, kawasan es Larsen B runtuh pada 2002. Masalah ini menjadi penting karena patahan es yang mengambang biasanya menjadi penopang untuk gletser yang mengalir dari lapisan es di belakangnya.

Dalam kasus Larsen B, gletser-gletser berpindah cepat karena tidak ada patahan. Dan itu adalah dataran es mengambang yang dapat menambah peningkatan permukaan laut. Jika hal itu terjadi pada kawasan es Larsen C maka tren seperti ini akan berlanjut di Semenanjung Antartika.

Dalam beberapa dekade terakhir memang belasan patahan es besar lenyap secara signifikan, di antaranya Prince Gustav Channel, Larsen Inlet, Larsen A, Larsen B, Wordie, Muller, Jones Channel, dan Wilkins. Rtr/ima/R-1

Bagaimana Dampaknya?

Terlepasnya gunung es yang kemudian diberi nama A68 itu mengakibatkan lempengan Larsen C kehilangan 12 persen luas permukaannya. Pecahnya gunung es di Antartika merupakan hal yang kerap terjadi, tetapi dengan ukuran yang sedemikian besar maka gunung es ini mendapatkan perhatian khusus.

Dalam hal ini timbul pertanyaan apakah dampak dari pecahnya lapisan es Larsen C karena ulah manusia? Periset dalam hal ini menegaskan, pecahnya lapisan es Larsen C merupakan fenomena alam.

“Dan kami tidak mengetahui adanya kaitan dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Yang jelas ini menempatkan lapisan es dalam posisi yang sangat rentan,” jelas Martin O’Leary, seorang ahli glasiologi Swansea University dan anggota MIDAS Project. Kemudian tim MIDAS Project ini juga menambahkan, apa yang terjadi saat ini merupakan pecahan terjauh lapisan es yang pernah tercatat dalam sejarah. “Kami akan terus memperhatikan dengan saksama tanda-tanda apakah sisa lapisan es menjadi tidak stabil atau tidak,” sambungnya. Hanyutnya gunung es ini adalah proses alami meski pemanasan global diyakini mempercepat proses itu. Pada 1995, lempeng Larsen A runtuh disusul lempeng Larsen B tujuh tahun kemudian.

Tim peneliti lain menambahkan, lepasnya 12 persen wilayah Larsen C sebagai bongkahan atau gunung es besar ini ke depan sulit di prediksi kelanjutannya. “Kami tidak tidak tahu ke depan nasib gunung es ini, sangat sulit diprediksi,” tutur Adrian Luckman dari Swansea University, sekaligus pemimpin penyelidikan MIDAS Project. Ke depan mungkin bisa saja pecahan gunung es ini tetap menjadi satu bagian. “Tapi lebih mungkin pecah menjadi beberapa fragmen. Beberapa es mungkin tertinggal di daerah ini selama beberapa dekade, sementara sebagian gunung es bisa melayang ke utara ke perairan yang lebih hangat,” tandasnya.

Tim peneliti menambahkan, terlepasnya gunung es besar ini memperbesar peluang pecahnya lempengan es yang tersisa. Lempengan es yang mengapung dari pantai hingga ke tengah lautan terbentuk dari aliran gletser yang lambat dari daratan.

Lempengan es ini berperan seperti kontrol yang mampu mencegah aliran gletser langsung masuk ke laut. Jika gletser dari daratan tak ditahan lempengan es Larsen C dan langsung masuk ke Samudera Antartika maka akan mengakibatkan permukaan air naik hingga 10 sentimeter. Rtr/ima/R-1

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment