Koran Jakarta | July 18 2019
No Comments
Kebijakan Bank Sentral - BI Sudah Injeksi Likuiditas Cukup Besar melalui Operasi Moneter Terbuka

Ketidakpastian Global Masih Tinggi

Ketidakpastian Global Masih Tinggi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Ketidakpastian global yang relatif tinggi menuntut Bank Indonesia (BI) berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan suku bunganya, sekalipun ruang untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7 DRRR) terbuka.

JAKARTA – BI dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), hari ini (19/6). Pengumuman tersebut berselang beberapa jam setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menyampaikan pandangannya terkait kondisi perekonomian setempat dan pendekatan yang diambilnya.

Berkenaan dengan RDG BI, Ekonom Senior Standard Caharter Bank, Aldian Taloputra, memperkirakan BI 7 DRRR akan tetap ditahan di level enam persen. Sebagai pertimbangannya, menurut Aldian, ketidakpastian global masih tinggi seiring dengan peningkatan tensi perang dagang, terutama antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

Selain itu, defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) saat ini masih melebar. Data terbaru BI menunjukkan defisit neraca transaksi berjalan tercatat sebesar tujuh miliar dollar AS pada triwulan I-2019 atau sebesar 2,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit itu meningkat dibandingkan periode sama 2018 sebesar 5,5 miliar dollar.

Namun, capaian tersebut di bawah catatan CAD pada triwulan IV-2018 sebesar 9,2 miliar dollar AS atau sebesar 3,6 persen dari PDB. “Kami melihat mungkin BI akan menunggu tren perbaikan neraca pembayaran dan berakhirnya musim pembayaran dividen yang biasanya peak (puncaknya) terjadi pada triwulan kedua,” ujar Aldian saat dihubungi Koran Jakarta, Rabu (19/6).

Terkait stimulus moneter bagi perekonomian saat ini, Aldian menilai memang perlu. Namun untuk melakukan itu, lanjutnya, BI tak harus mengambil kebijakan menurunkan suku bunga acuannya.

Menurutnya, saat ini, BI sudah melakukan injeksi likuiditas cukup besar melalui operasi moneter terbuka. Kalau dilihat dari inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari yang diperkirakan stimulus moneter memang dibutuhkan, tapi untuk melakukan itu, BI tidak hanya dengan menurunkan suku bunga kebijakan.

Saat ini, BI sudah melakukan injeksi likuditas melalui operasi moneter terbuka. “Ketidakpastian global yang relatif tinggi menuntut BI berhati-hati melonggarkan suku bunganya,” ujarnya.

 

Keringanan Pembiayaan

 

Di sisi lain, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai kecil kemungkinan BI mempertahankan suku bunga acuan sebesar enam persen karena mendesaknya kebutuhan sektor riil untuk mendapat keringanan pembiayaan, guna melakukan ekspansi dalam menggerakkan roda perekonomian.

Selain itu, kata Bhima, The Fed juga kemungkinan besar akan memangkas suku bunga acuannya pada Rabu malam waktu AS untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi Paman Sam yang sejauh ini belum sesuai ekspektasi. “Selama satu tahun terakhir BI sudah prostabilitas dengan naikkan bunga acuan.

Sekarang saatnya prosektor riil. Dengan bunga yg lebih rendah, biaya peminjaman sektor usaha akan lebih ringan karena nyatanya masih mahal,” ujarnya. Selama satu tahun terakhir, BI memang bersikap hawkish atau cenderung ke pengetatan, dengan menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate hingga 1,75 persen ke level enam persen saat ini.

Hal itu dilakukan untuk membendung pembalikan arus modal asing karena ketidakpastian pasar keuangan global meningkat sepanjang 2018, yang membuat investor cenderung memilih instrumen keuangan di negara yang risikonya lebih kecil.

 

mad/Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment