Koran Jakarta | July 19 2019
No Comments
Strategi Pembangunan - Fokus Lahirkan Tenaga Kerja Bernilai Tambah

Ketertinggalan Modal Manusia Mesti Segera Dikejar

Ketertinggalan Modal Manusia Mesti Segera Dikejar

Foto : Sumber: World Bank – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>> Pembenahan modal manusia bermanfaat tingkatkan kualitas SDM.

>> Mutu pendidikan yang relatif rendah jadi hulu semua persoalan bangsa.

JAKARTA - Indonesia mesti segera mengejar ketertinggalan dari mayoritas negara ASEAN dalam pengembangan modal manusia melalui upaya yang luar biasa. Sebab, apabila pemerintah ha­nya melakukan upaya seperti biasanya atau business as usual maka Indonesia terancam masuk dalam perangkap ne­gara berpenghasilan menengah (middle income trap).

Ketertinggalan modal manusia itu ditandai oleh relatif rendahnya pering­kat Indeks Modal Manusia atau Human Capital Index (HCI) Indonesia diban­dingkan dengan sebagian besar negara di Asia Tenggara lainnya. (Lihat infografis)

Direktur Pusat Studi Masyarakat (PSM) Yogyakarta, Irsad Ade Irawan, mengemukakan tantangan besar Indo­nesia saat ini antara lain meningkatkan produktivitas dan mendorong daya sa­ing guna menghadapi tantangan dunia yang makin beragam di era ekonomi digital.

“Salah satu pilihannya adalah dengan mendorong pembenahan modal manu­sia atau human capital yang bermanfaat guna meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM). PR terbesar kita saat ini adalah kualitas SDM yang rendah,” papar dia, ketika dihubungi, Minggu (7/4).

Irsad menambahkan transformasi ekonomi melalui penguatan modal ma­nusia dapat memberikan keunggulan ka­rena bisa melahirkan SDM yang inovatif dan kreatif dalam era revolusi 4.0. Selain itu, pembenahan sektor ini menjadi pen­ting karena berdasarkan Indeks Modal Manusia yang diluncurkan Bank Dunia pada Oktober 2018, Indonesia masih ber­ada peringkat 87 dari 157 negara.

Indeks itu menyatakan kualitas indi­kator kesejahteraan sosial Indonesia se­perti pendidikan dan kesehatan masih kalah bersaing dengan negara-negara di Asia seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Indonesia pun kalah bersaing dengan negara tetangga, seperti Malay­sia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Bah­kan, hanya unggul dari Kamboja.

Menurut Irsad, pemerintah sudah memberikan perhatian khusus guna mengatasi persoalan isu modal manu­sia melalui pemberian alokasi 20 per­sen anggaran dalam APBN untuk sektor pendidikan dan lima persen anggaran guna sektor kesehatan.

“Pengembangan infrastruktur soft untuk melahirkan kompetensi ini juga memiliki manfaat agar Indonesia ti­dak terperangkap dalam middle income trap,” tukas dia.

Selama ini, Indonesia belum mampu menjadi negara berpenghasilan tinggi atau negara maju karena belum mem­punyai produktivitas atau daya saing yang mumpuni.

Investasi modal manusia juga dilaku­kan pemerintah di 2019, bahkan men­jadi fokus utama untuk melahirkan figur tenaga kerja yang berkualitas dan mem­punyai nilai tambah tinggi.

Irsad juga mengatakan Revolusi Industri 4.0 menuntut semua negara ha­rus menerapkan teknologi secara mas­sal dalam berbagai sektor kehidupan. Tanpa mengadopsi teknologi terkini (digital), dipastikan peradaban sebuah bangsa terkucilkan dan tersingkirkan.

Padahal, investasi bidang teknologi sangat membutuhkan kapital besar dan SDM terampil serta profesional.

“Kehadiran SDM bermutu tinggi menjadi kebutuhan zaman. Sektor pendidikan memegang kendali dalam menciptakan SDM unggul, tangguh, ter­ampil, dan profesional,” jelas dia.

Kualitas Pendidikan

Pengamat pendidikan, Indra Charis­miaji, mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan HCI Indonesia ter­tinggal, antara lain kualitas pendidikan, kesehatan, dan kondisi perekonomian.

“Kalau bicara pendidikan, Indonesia masuk dalam kategori rendah di dunia. Mutu pendidikan yang rendah jadi hulu semua persoalan bangsa ini,” papar dia.

Menurut Indra, menaikkan anggaran pendidikan belum tentu dapat mening­katkan HCI dan daya saing. “Problem kita itu bukan soal anggaran, tapi kita kurang cermat, tidak ada planning kita itu mau ke mana, hasilnya mau seperti apa,” ujar dia.

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Mardiasmo, menuturkan pemerintah mendukung upaya memiliki SDM berkualitas tinggi, produktif, serta memiliki daya saing yang tinggi. Hal ini diwujudkan pemerintah melalui alokasi anggran pendidikan di APBN 2019 yang mencapai 492,5 triliun rupiah.

“Kita ingin bagaimana membangun SDM yang berkualitas, punya tingkat produktivitas tinggi, punya daya saing yang tinggi. Untuk itu, pemerintah men­dukungnya di APBN 2019,” jelas dia, be­lum lama ini. ahm/YK/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment