Koran Jakarta | April 19 2019
No Comments

Keterbatasan Fisik tak Menghalangi untuk Sukses

Keterbatasan Fisik tak Menghalangi untuk Sukses

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Membuka Pintu Harapan

Penulis : Prito Windiarto

Penerbit : Quanta

Cetakan : I, 2018

Tebal : 227 hal

ISBN : 978-602-04-580-8-3

Tidak ada seorang pun yang lahir sempurna. Semua memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu. Namun, orang yang senantiasa memelihara harapan, kekurangan dan keterbatasan tak menghalangi untuk tetap tumbuh. Buku berbentuk self motivation ini berisi true stories kisah-kisah orang yang pantang menyerah. Mereka senantiasa berpikir positif dan penuh optimisme.

Salah satunya Heleen Keller. Dengan bantuan pengasuh, terutama gurunya, gadis difabel yang hanya bisa belajar lewat sensitivitas rabaan tangan kini berhasil menjadi sosok luar biasa yang sangat inspiratif. Ia menjadi pembicara di berbagai forum, menulis banyak buku motivasi, dan lainnya.

Hal sama juga ditunjukkan Nick Vujicik. Lahir tanpa tangan dan kaki, tak membuatnya putus harapan. Kekurangan itu malah membuatnya termotivasi untuk menunjukkan, bisa melakukan seperti orang ‘normal.’ Dengan keyakinan dan usaha keras, Nick mampu hidup mandiri. Bahkan dia juga terkenal sebagai pembicara andal dan penulis gemilang. Buku terkenalnya berjudul Life Without Limited (hal 19-20).

Hirotada Ototake senasib dengan Nick Vujicik. Oto, begitu ia disapa, sejak lahir sudah tidak memiliki tangan dan kaki. Meski demikian, ibunya tetap berbesar hati dan memiliki harapan besar untuknya. Ibu membesarkan Oto dengan penuh cinta. Kendala pertama ketika Oto memasuki masa sekolah. Banyak sekolah menolak. Namun, orangtua dan Oto tak putus asa, sampai kemudian menemukan sekolah yang mau menerima.

Oto pun sempat mengenyam pendidikan sampai bangku kuliah dengan prestasi baik. Setelah lulus, Oto mengajar di sekolah dasar dengan penuh dedikasi. Salah satu kunci keberhasilannya, tidak pernah menunda pekerjaan, tugas, dan latihan. Namanya melambung setelah buku inspiratif karyanya No One’s Prefect diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibaca jutaan orang (57-59).

Hee Ah Lee, pianis muda asal Korea ini, juga berhasil membuktikan, selama memiliki harapan, keterbatasan fisik benar-benar bukan rintangan untuk sukses. Yang spesial darinya, mampu bermain piano hanya dengan empat jari. Meski demikian, Hee berhasil menyabet segudang prestasi tingkat dunia.

Sejak lahir Hee Ah Lee hanya memiliki dua jari yang membentuk huruf V seperti capit kepiting. Kedua kakinya pun hanya sebatas lutut, sehingga kesulitan menginjak pedal piano. Hee juga didiagnosis menderita keterbelakangan mental. Beruntung ibunya menyimpan harapan besar untuk Hee.

Pada usia 6, atas saran seorang psikiater, Hee mulai dikenalkan piano. Guru piano pertamanya, Cho Mi Kyong melatihnya dengan keras. Hee berlatih secara rutin 5-10 jam. Pada gilirannya kerja keras itu melunasi janjinya. Hee berhasil menjadi pianis internasional. Amerika, Inggris, Tiongkok, Singapura, dan Indonesia contoh beberapa negara yang pernah menghelat konser gadis penuh inspiratif ini (hal 63-65).

Arini Ainun Haq senasib dengan Oto, Nick Vujicik, dan Hee yang cacat kaki sejak lahir. Ketika akan masuk SD, mayoritas sekolah umum menolak. Sang ayah yang mengantar Arini tidak putus harapan sampai akhirnya diterima di SD Al-Amin Solo. Arini mulai menunjukkan talentanya di bidang tulis-menulis. Dia berhasil merampungkan beberapa buku.

Meski, naskah-naskahnya ditawarkan berbagai penerbit dan ditolak sampai 30 kali, tak membuatnya putus asa. Dia terus menulis sampai akhirnya novel perdananya terbit. Kini sudah puluhan novel berhasil terbit dan laris di pasaran. Ia juga merupakan CEO sebuah penerbit indie, Arsha Teen. Ia mengajari pembaca untuk memaksimalkan diri dan tidak menyerah pada keterbatasan. Keterbatasann diri tak seharusnya menghalagi untuk berkreasi (hal 68).

Masih banyak kisah orang-orang luar biasa dalam buku ini. Secara keseluruhan kisah tersebut menegaskan, harapan adalah energi dahsyat yang memampukan seseorang melewati beragam kekurangan dan keterbatasan. Harapan adalah fondasi kuat untuk meraih kesuksesan. 

Diresensi Moh Romadlon, Pengurus TBM Sumber Ilmu Kebumen Jateng

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment