Koran Jakarta | July 22 2018
No Comments

Keteladanan Hidup Menjadi Warisan yang Tak Ternilai

Keteladanan Hidup Menjadi Warisan yang Tak Ternilai
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Live Simply Leave Legacy

Penulis : Andi O Santoso

Penerbit : CV Sarana Gracia

Tebal : 283 Halaman

No ISBN : 978-602-61916-0-1

Terbit : 2017

 

Ketika berbicara tentang warisan biasanya yang terlintas dalam pikiran mengarah pada aset atau harta dalam bentuk materi. Akibatnya, kata warisan lebih banyak identik dengan kekayaan. Padahal, teladan hidup juga sebuah warisan sejati. Buku Live Simply Leave Legacy hendak merangkum panggilan Tuhan untuk menjalani sebuah kehidupan yang sangat efektif, dan meninggalkan aneka keteladanan sebagai sebuah warisan yang tidak lekang oleh waktu.

Kisah-kisah inspiratif sederhana menjadi media untuk menuturkan menu utama buku. Live Simply Leave Legacy menguraikan cara menjalani hidup dan mewariskan sesuatu lewat akronim SIMPLY dan LEGACY. SIMPLY kependekan dari Starting Well Finishing Well. Intimate Relationship Matters. Meaningful Life. Passion and Mission. Live, Laugh, Love. Sedangkan LEGACY singkatan dari You Are Here for a Reason. Lead Yourself Lead Others. Eternal Perspectives. Grace Upon Grace. Authentically. Concern to People. You Are Here for Seasons.

Ada saja manusia yang suka mempersulit hidup karunia Tuhan. Seseorang yang hidup sangat complicated dan rumit biasanya menunjukkan adanya ketidakberesan dalam hidup. Itulah mengapa, dibutuhkan pengenalan yang benar akan Tuhan.

Dalam bab Starting Well Finishing Well, buku mengungkapkan bahwa pernikahan yang sehat akan terbentuk jika ada kesehatian antarpasangan untuk menyenangkan hati Tuhan. Pernikahan  adalah ide Allah, bukan orangtua maupun wedding organizer. Sebagai
ide Sang Pencipta pernikahan untuk mempersiapkan menuju kekekalan dan keintiman sejati bersama-Nya (halaman 5).

Mendidik anak sama sekali bukan hal sepele. Ternyata, mendidik anak adalah sebuah pekerjaan terbesar, termulia, bahkan mungkin tersulit dari yang pernah dipercayakan Tuhan kepada manusia (halaman 54). Lebih jauh lagi, suami-istri harus memahami, mendidik adalah tugas bersama, bukan hanya milik kaum ibu. Hubungan seorang ayah dengan anak adalah penentu kesehatan, perkembangan, dan kebahagiaan seseorang.
Pembaca diajak memahami, pernikahan bukanlah untuk membuat manusia hanya bahagia, tetapi agar menjadi kudus. Dengan memiliki-Nya dalam hidup pernikahan, manusia akan terus terkoneksi dengan Pencipta yang membuat hidup menjadi lebih bermakna. Mewariskan keteladanan dari sebuah pernikahan yang bahagia adalah sebuah penugasan mulia dari Tuhan.

Hubungan ini begitu penting dan tak tergantikan oleh siapa pun dan apa pun.  Hubungan yang baik ayah dan putra-putrinya akan menolong anak memahami Allah sebagai Bapa dengan lebih baik (Halaman 124). Hidup orang percaya pun tidaklah luput dari sapaan tantangan dan krisis. Buku memberi pandangan, krisis tidak harus dihindari. Para pemimpin sejati dilahirkan dari situasi krisis yang menjadi kesempatan Tuhan untuk melipatgandakan kompetensi seseorang sebagai calon pemimpin (halaman 132).

Sebuah sub bab "Teologi Martabak" membuka pemahaman, hidup tidak hanya luas, namun harus dalam dan memberi dampak. Hidup akan menjadi lebih indah jika manusia melakukan sesuatu,  meskipun kecil, namun bermakna. Bergantung pada Tuhan dan kerinduan untuk senantiasa mendekat kepada-Nya menjadi kunci utama mencapai hidup lebih berkualitas. Hidup sederhana bukan berarti dalam kemiskinan, tapi membangun kehidupan berdasarkan kebenaran, sehingga orang dapat fokus menyelesaikan penugasan Tuhan di dunia.

Buku Live Simply Leave Legacy menuturkan kepingan-kepingan peristiwa sederhana yang akan menjadi berharga manakala orang memungut, mengumpulkan, dan berkaca bersamanya lewat sebuah ruang nilai. Buku dilengkapi berbagai kutipan dalam setiap bab yang dapat menjadi reminder berharga. Buku Live Simple Leave Legacy menjadi sebuah bacaan penuntun untuk menjadi saksi Kristus atau alter Christus dalam keberagaman bangsa yang semakin tercabik-cabik.

Diresensi Jessica  Valentina, S1 Psikologi Unika Soegijapranata Semarang

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment