Koran Jakarta | June 25 2018
No Comments
Ekonomi Kawasan - Trump dan Kim Bakal Gelar Negosiasi Lanjutan

Kesepakatan AS-Korut akan Kurangi Risiko Geopolitik

Kesepakatan AS-Korut akan Kurangi Risiko Geopolitik

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

>>Indonesia berpeluang dijadikan economic proxy war oleh Tiongkok dan Jepang.

>>Ketegangan politik mereda, kegiatan perdagangan Indonesia diharapkan meningkat.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai kesepakatan antara Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan Pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-un, setidaknya menurunkan risiko geopolitik yang muncul terkait dengan uji coba nuklir di Semenanjung Korea.

Hal itu diharapkan akan lebih meningkatkan kegiatan ekonomi dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara.

Pakar Hubungan Internasional dari Unair Surabaya, Joko Susanto, mengemukakan kemajuan hubungan bilateral yang tercapai dari penandatanganan dokumen kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-Korut itu akan membawa dampak positif bagi kegiatan perdagangan Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Meskipun kesepakatannya masih prematur, lanjut dia, secara simbolik dapat meredakan ketegangan di Semenanjung Korea, dan Asia Tenggara pada umumnya.

“Segala sesuatu yang membuat ketegangan mereda di suatu kawasan akan menguntungkan untuk kegiatan perdagangan. Selama ini pasar Indonesia masih didominasi dari kawasan Asia Pasifik, sehingga hal ini sedikit banyak akan membantu,” papar Joko, ketika dihubungi, Rabu (13/4).

Sebelumnya dikabarkan, Presiden Trump dan Kim Jongun di Singapura, Selasa (12/6), menandatangani sebuah perjanjian untuk bekerja sama terkait denuklirisasi seutuhnya dan “rezim perdamaian” abadi di Semenanjung Korea.

Dokumen yang disebut Trump “sangat komprehensif” itu menyatakan kedua belah pihak berkomitmen untuk menyelenggarakan negosiasi lanjutan dan bekerja sama untuk membangun relasi bilateral.

Ketika ditanya apakah kesepakatan itu berarti denuklirisasi Korut, Trump berkata “kami memulai proses itu sangat cepat, sangat-sangat cepat.”

Peneliti Indef, Achmad Heri Firdaus, menambahkan pertemuan bersejarah antara dua pemimpin negara yang selama ini terlibat perang dingin itu memiliki makna yang mendalam bagi perekonomian global, yakni sebuah optimisme dan kepastian.

RI Dimanfaatkan

Meski demikian, Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya Malang, Muhaimin Zulkhair, memiliki pandangan berbeda. Menurut dia, kemajuan hubungan bilateral AS-Korut tidak banyak berpengaruh bagi Indonesia.

Muhaimin justru mengingatkan bahwa membaiknya situasi di Semenanjung Korea dan Asia Tenggara akan dimanfaatkan negara-negara maju, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, untuk semakin menancapkan pengaruhnya di pasar Indonesia.

Dalam peta konflik ekonomi di antara mereka, negara-negara itu tidak terlalu berhadapan langsung.

“Mereka lebih memilih bersaing di negara-negara yang menjadi pasar ekspornya, semacam economic proxy war,” ungkap dia.

Contohnya, Tiongkok banyak memberikan utang dengan bunga rendah, bahkan tanpa bunga tapi dengan imbalan lain seperti proyek atau penjualan produknya.

Begitu juga dengan Jepang. “Selain bersaing untuk mendapatkan proyek, kedua negara ini mengincar kelas menengah Indonesia yang semakin tumbuh, untuk menjadi sasaran pasar produk,” papar Muhaimin. SB/ahm/ils/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment