Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Kesehatan Mental Belum Prioritas

Kesehatan Mental Belum Prioritas

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

oleh Sivana Khamdi Syukria


Setiap tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day). Kesehatan mental salah satu isu penting dalam konteks pembangunan manusia. Ironisnya, isu ini tidak terlalu mendapat perhatian dibanding masalah kesehatan jasmani lainnya.


Pandangan holistik tentang manusia menempatkan kesehatan jasmani dan mental sama pentingnya, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manusia membutuhkan kesehatan jasmani untuk mendukung aktivitas dan mobilitasnya dalam keseharian. Dia juga harus memiliki kesehatan mental agar tenang, nyaman, dan bahagia.


Kesehatan mental dapat diartikan sebagai suatu keadaan jiwa manusia berada dalam kondisi harmonis. Dia mampu menghadapi problem, selalu berorientasi pada kemajuan, serta positif lainnya. Merujuk pada World Health Organisation (WHO), kriteria kesehatan mental, antara lain mampu beradaptasi, bersosialisasi, berintrospeksi, mengelola konflik, dan memiliki sikap welas asih.


Menurut WHO, saat ini setidaknya ada 350 juta warga dunia mengalami gangguan kesehatan mental (GKM) dengan berbagai bentuk. Jika dirata-rata, setidaknya 5 persen penduduk dari semua negara di dunia mengalaminya karena beragam faktor mulai dari genetis, psikologis, sampai sosiologis.


Puncak GKM mewujud ke dalam maraknya praktik bunuh diri. Menurut WHO, setiap tahun tidak kurang dari 800. 000 orang bunuh diri. Jumlah itu setara dengan 1,4 persen total kematian dunia. Bunuh diri telah menjadi penyebab kematian kedua terbanyak di dunia, setelah kecelakaan lalu lintas.
Maka, sangat relevan Hari Kesehatan Mental Dunia tahun ini mengangkat tema “Mental Health Promotion and Suicide Prevention” (Promosi Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri). Tidak sepenuhnya benar, anggapan bahwa GKM problem khas masyarakat negara maju.


Kenyataannya, dia merupakan problem global yang terjadi di hampir seluruh negara entah negara miskin, berkembang, atau maju, tidak terkecuali Indonesia. Di sini, isu kesehatan mental bukan prioritas. Padahal jumlah penderita GKM terus bertambah. Data Kementerian Kesehatan tahun 2018 menunjukkan, prevalensi gangguan mental emosional di usia 15 mencapai 14 juta. Angka ini setara dengan 6 persen total populasi Indonesia.


Gangguan mental emosional umumnya ditandai dengan gejala kecemasan dan depresi ringan. Sedangkan prevalensi gangguan mental berat seperti skizofrenia mencapai 400 ribu. Tingginya angka GKM berbanding lurus jumlah kasus bunuh diri di Indonesia. WHO menyebut, tahun 2018 setiap jam satu orang bunuh diri di Indonesia.
Angka itu menempatkan Indonesia pada posisi 103 dari 183 negara dan kesembilan ASEAN dalam jumlah kasus bunuh diri. Tahun ini saja (sampai September) Badan Pusat Statistik mencatat telah terjadi 302 bunuh diri. Sebagian besar karena gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.


Perbincangan kesehatan mental semakin perlu, terkait rencana Presiden Joko Widodo untuk fokus pada pembangunan manusia di periode kedua kepemimpinannya. Membangun manusia tentu harus dilakukan secara komprehensif dan holistik. Ini artinya, harus menyentuh seluruh aspek meliputi peningkatan kualitas intelektual, keterampilan, daya saing, kesehatan jasmani dan mental.


Manusia Utuh
Dibutuhkan kerja sama dan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, keluarga, lembaga swadaya masyarakat (LSM), para ahli dan stakeholders terkait untuk mengatasi problem GKM. Perlu segera mencegah masyarakat terkena gangguan mental. Salah satunya dengan menciptakan suasana kehidupan sosial yang harmonis antarindividu.
Hal ini penting mengingat salah satu pemicu utama gangguan mental adalah merenggangnya relasi dan integrasi sosial di tengah masyarakat. Berbagai riset menemukan fakta bahwa di negara-negara yang dilanda konflik, perang, bencana alam atau kemiskinan, tingkat gangguan mental penduduk selalu tinggi.


Selain itu, kita perlu memastikan anak-anak memiliki lingkungan tumbuh kembang yang kondusif, cukup limpahan kasih sayang, dan jauh dari kultur kekerasan. Secara psikologis, seseorang yang masa kecilnya mengalami pengalaman traumatis seperti kekerasan atau perundungan (bullying) berkecenderungan lebih besar mengalami GKM. Maka, orang tua dan sekolah perlu memastikan anak-anak bebas dari tindakan kekerasan dan perundungan.


Selain mengupayakan pencegahan, warga juga perlu memikirkan cara menangani para penderita GKM. Pemerintah harus memastikan ketersediaan fasilitas dan layanan kesehatan mental yang dapat diakses masyarakat di seluruh wilayah. Hal ini menjadi penting digarisbawahi lantaran ketersediaan fasilitas dan layanan kesehatan mental masih minim.


Saat ini Indonesia hanya memiliki 450 psikolog klinis, 773 psikiater dan 6. 500 perawat kesehatan mental per 100 ribu penduduk. Data itu tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa. WHO memberi standar, jumlah psikolog klinis dan psikiater idealnya satu orang untuk 30 ribu penduduk. Ke depan, idealnya setiap Puskesmas memiliki layanan kesehatan mental dengan menyediakan minimal satu psikolog klinis dan satu psikiater.
Tidak kalah penting, perlu mengubah perlakuan tidak manusiawi pada penderita GKM. Para penderita kerap diperlakukan semena-mena seperti diikat, dipasung, dikurung, atau tindakan buruk lainnya. Diperlukan gerakan bersama untuk memperlakukan anggota keluarga penderita secara baik.


Upaya mewujudkan kesehatan mental sangat urgen dilakukan sebagai bagian dari agenda besar pembangunan manusia. Semua berharap, visi pembangunan manusia periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi juga berorientasi pada kesehatan mental. Menghadapi tantangan masa depan, rakyat membutuhkan generasi sehat secara fisik dan stabil secara mental.


Apalagi, pada tahun 2040 akan ada bonus demografi di mana jumlah penduduk usia produktif (15-60 tahun) lebih banyak ketimbang anak-anak dan orang lanjut. Tahun 2040 jumlah penduduk usia produktif diprediksi mencapai 198 juta atau 60 persen total populasi.
Jumlah yang fantastis itu tentu memiliki bisa jadi peluang tapi juga tantangan. Kondisi kesehatan mental yang stabil dan tanpa gangguan akan menjadi modal penting penduduk usia produktif untuk menghadapi tantangan nasional dan global yang semakin berat.


Penulis Pegawai
Kementerian Sosial

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment