Koran Jakarta | July 19 2018
No Comments
Keselamatan Kerja l Hingga Agustus 2017, Jumlah Kecelakaan Kerja Sebanyak 80.392 Kasus

Kesadaran K3 Masih Rendah

Kesadaran K3 Masih Rendah

Foto : koran jakarta/selo cahyo basuki
Perin gatan Bul an K3 Nasional l Menteri Ketenagakerjaan, M Hanif Dakhiri (kiri) didampingi Gubernur Jawa Timur Soekarwo (dua dari kiri), melihat salah satu stan perusahaan penyedia alat keselamatan kerja, usai upacara Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/11).
A   A   A   Pengaturan Font

Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja bukan hanya menimbulkan kerugian material maupun korban jiwa serta gangguan kesehatan bagi pekerja, tapi dapat mengganggu proses produksi.

SURABAYA – Kesadaran terhadap prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di masyarakat masih rendah. Indikasi tersebut terlihat dari masih adanya sejumlah kasus kecelakaan kerja meski jumlahnya relatif turun.

Berdasarkan data dari BPJS Ketenagakerjaan, jumlah kasus kecelakaan kerja terus turun. Hingga Agustus 2017, jumlah kecelakaan kerja tercatat sebanyak 80.392 kasus. Sebagai perbandingan, pada 2016, jumlah kecelakaan terdapat 105.182 kasus, turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 110.285 kasus.

Menteri Ketenagakerjaan, M Hanif Dakhiri, menyampaikan, saat ini pemerintah masih memprioritaskan pembangunan infrastruktur, di antaranya jalan tol, fasilitas kereta api, jembatan dan fasilitas transportasi lain baik udara, darat maupun laut. Program pembangunan tersebut harus didukung penerapan K3 agar dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

“Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja bukan hanya menimbulkan kerugian material maupun korban jiwa serta gangguan kesehatan bagi pekerja, tapi dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh bahkan merusak lingkungan yang akhirnya berdampak kepada masyarakat luas,” kata Menaker dalam upacara Peringatan Bulan K3 Nasional di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/1).

Menurutnya, hal-hal terkait K3 harus terus ditingkatkan karena manajemen K3 yang baik akan meningkatkan kesejahteraan pekerja, perusahaan, keluarga, dan lingkungan. Namun, dia mengakui penerapan K3 menghadapi sejumlah kendala, terutama kesadaran, baik dari pihak pekerja, maupun dunia usahnya.

“Masih banyak pekerja yang malas menggunakan alat pelindung diri yang disediakan perusahaan. Ini tentunya membahayakan diri sendiri dan orang lain di lingkungan kerja. Untuk itu, K3 jangan dianggap beban, melainkan investasi untuk menciptakan kenyamanan bekerja,” tuturnya.

Hanif melanjutkan Kementerian Ketenagakerjaan sebagai leading sector atau pemegang kebijakan nasional tentang K3, mengharapkan dukungan semua pihak untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan K3. Pemerintah pusat dan daerah, lembaga, masyarakat industri berkewajiban mesti berperan aktif sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing untuk terus melakukan berbagai upaya di bidang K3.

Tanggung Jawab Bersama

Gubernur Jatim, Soekarwo, menambahkan K3 menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah dalam hal ini mendorong dan memfasilitasi berbagai pihak mulai dari Asosiasi Pengusaha Indonesia/ APINDO, serikat pekerja, pemilik industri maupun buruh untuk bersama-sama membahas masalah K3. Dia berharap, pelaksanaan K3 tak hanya dilakukan di industri besar, tapi juga industri kecil dan menengah.

“Terutama pada sektor UMKM. Hal ini penting dilakukan mengingat 92 persen tenaga kerja di Jatim bekerja di sektor tersebut,” pungkasnya.
Peringatan Hari K3 tahun 2018 ini merupakan tahun keempat secara nasional dengan mengusung tema pokok bulan K3 pada 2018, yakni Melalui Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kita Bentuk Bangsa yang Berkarakter.
SB/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment