Koran Jakarta | January 21 2018
No Comments

Kerusakan “Mangrove” di Belitung dan Bangka Barat

Kerusakan “Mangrove” di Belitung dan Bangka Barat
A   A   A   Pengaturan Font

Judul       : Konservasi Mangrove dan Kesejahteraan Masyarakat
Penulis    : Robert Siburian dan John Haba
Penerbit  : Obor Indonesia
Cetakan  : 2016
Tebal      : xxiii + 284 halaman
ISBN      : 978–979- 461-993-3

Indonesia memiliki hutan mangrove seluas 4,25 juta hektare membentang sepanjang 95.181 kilometer garis pantai. Sebenarnya, masih ada 7,8 juta hektare potensial yang masih bisa ditanami pohon tersebut. Namun, jangankan menambah, menjaga dan melestarikan yang sudah ada saja sangat sulit. Ada 58,82 persen hutan mangrove yang masih baik. Sisanya rusak parah. Padahal tanpa kelestarian hutan mangrove, masyarakat pesisir bisa jadi korban pertama paling menderita.

Konversi lahan pasir dan penggusuran hutan mangrove di Situbondo karena berbagai kepentingan, berakibat negatif terhadap kawasangan lingkungan sekitar. Pembangunan PLTU Paiton di Probolinggo yang juga harus menggusur tanaman mangrove dikeluhkan para nelayan. Mereka kesulitan menangkap ikan di sekitar kawasan itu sehingga tangkapan berkurang. Mereka harus ke tempat lebih jauh dengan bahan bakar lebih banyak.

Buku ini memaparkan hasil penelitian tiga tahun tentang kondisi hutan mangrove di Kabupaten Belitung dan Bangka Barat. Keduanya berada dalam satu wilayah Provinsi Bangka Belitung. Parahnya, kerusakan mangrove di Indonesia memang layak dijadikan riset karena telah menjadi perhatian dunia. “Kerusakan hutan mangrove dan ekosistemnya di wilayah pesisir dewasa ini merupakan isu lingkungan sangat penting dan menjadi perhatian negara-negara Asia Tenggara,” kata penulis buku ini (hlm 4).

Kondisi hutan mangrove di dua daerah tersebut sangat kontras. Di Kabupaten Belitung, 75 persen hutan mangrove-nya masih lestari. Sebaliknya, di Kabupaten Bangka Barat, 69 persen rusak parah. Kerusakan mangrove di kedua daerah tersebut, kendatipun dengan intensitas berbeda, sebabnya sama, yakni kemiskinan.

Berdasarkan Poverty Headcount Index, 32 persen populasi pesisir 5,25 juta jiwa berada di bawah kemiskinan. Di Provinsi Bangka Belitung, dengan kekayaan timah yang sudah dikenal sejak 200 tahun lalu, masyarakat pesisir kemudian mengeksploitasi timah. Sayang, tempatnya berada di sepanjang pesisir. Timah di pulau tersebut menjadi barang ekspor sehingga menjadi barang yang menjanjikan daripada ikan. Akibatnya, mereka tidak hirau dengan kelestarian hutan mangrove. Apalagi tahun 2006 ketika pemerintah daerah melegalkan eksploitasi timah level kecil dan menengah (hlm 37).

Kabupaten Belitung diuntungkan tradisi dan kepercayaan lokal tentang peranan dukun kampung, kelekak, dan hutan larangan. Ini tidak dimiliki Kabupaten Bangka Barat. Dukun kampung yang masih terikat kuat dengan alam sangat terasa peranannya menjaga hutan mangrove. Larangan yang dia ucapkan bertuah sehingga tidak ada seorang pun berani melanggar.

Sedangkan kelekak adalah kepercayaan bahwa tanaman buah-buahan untuk generasi selanjutnya. Jika rusak, mereka yakin keturunan akan sengsara. “Pemaknaannya diperluas menjadi kelekak seluruh desa dan tidak lagi terbatan pada tanaman buah-buahan, tetapi mencakup mangrove,” katanya (hlm 9).

Buku ini juga menjelaskan, pengetahuan masyarakat pesisir tentang kegunaan mangrove hanya sebatas pengadang banjir, tsunami, abrasi, tempat ikan, udang dan kepiting. Padahal buah mangrove merupahan bahan sirup dan bisa dibuat kerupuk. Jika penelitian tentang manfaat mangrove ditingkatkan serta disosilisasikan secara sistematis, akan ditemukan banyak manfaat guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.  Diresensi Asnawi Susasto, Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment