Koran Jakarta | December 15 2018
No Comments
Harmoni Keberagaman I Kemajemukan Harus Dijaga Seluruh Elemen Masyarakat

Kerukunan Jadi Fondasi Bangsa

Kerukunan Jadi Fondasi Bangsa

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia bisa datang dari dalam negeri mengingat secara faktual kita sangat beragam. Karena itu kerukunan menjadi kunci bagi keberlangsungan bangsa.

Jaka akartata - Kerukunan dan persatuan merupakan pondasi bagi keberlangsungan bangsa Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Bangsa yang memiliki keberagaman. Keberagaman itu selain harus dijaga, juga mesti dikelola dengan baik. “Keberagaman yang kita miliki jika dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan sebaliknya jika tidak dikelola akan menjadi sebuah ancaman sebagaimana slogan Bineka Tunggal Ika,” kata Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto, saat memberi sambutan di acara Rapat Koordinasi Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (Rakornas FKUB) Provinsi dan Kabupaten/Kota di Jakarta, Rabu (18/4).

Acara Rakornas FKUB itu sendiri menurut Wiranto sangat penting. Karena peran dan fungsi FKUB sudah tergambar dalam istilah kerukunan itu sendiri. Dan hal tersebut sejalan dengan tujuan negara yang dirumuskan para founding father bangsa, seperti tercantum dalam Alinea 4 UUD 1945. “Maka untuk mencapai tujuan tersebut seluruh elemen bangsa Indonessia harus bersatu,” katanya.

Wiranto menambahkan, bangsa Indonesia harus optimistis, jangan pesimis. Sebab bangsa Indonesia, punya prospek yang baik di masa depan. Saat ini saja, Indonesia bersama Swiss merupakan negara yang memiliki kepercayaan paling tinggi dari masyarakatnya. Prestasi lainnya Indonesia merupakan negara peringkat kedua tujuan investasi.

Progres yang positif ini tentu harus dijaga. Jangan sampai kemudian dirusak, hanya karena antar sesama anak bangsa tak rukun. Selain Menkopolhukam, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo juga hadir memberikan sambutan di acara tersebut. Dalam sambutannya, Tjahjo juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan.

Dan, itu bukan semata tanggung jawab pemerintah. Tapi juga tangung jawab seluruh elemen bangsa. Pemerintah dan masyarakat harus saling membantu. Saling mendukung dalam menjaga kerukunan. “Maka dalam pengambilan kebijakan harus melibatkan tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat.

Inilah satu kesatuan Pemerintahan Daerah yang harus bersinergi dalam melakukan deteksi dini dan cegah dini,” katanya. Dan, bicara keragaman, Indonesia memang kata Tjahjo, bangsa yang majemuk. Di Indonesia, ada enam agama resmi. Di tambah aliran kepercayaan. Khusus untuk penganut aliran kepercayaan, aspirasi akan diakomodir dalam dokumen kependudukan seperti keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Belum lagi, kalau bicara organisasi kemasyarakatan. Tercatat ada 371.757 ormas.

Menurut Tjahjo juga bukti Indonesia bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu yang harus dijaga. Sehingga masyarakat bisa hidup rukun. “Kerukunan agama merupakan tanggung jawab kita bersama yang harus kita jaga dan kita pelihara bersama,” katanya. Hilangkan Sekat Pembicara lainnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin menyorot peran FKUB terutama dalam menyambut Pilkada serentak 2018 dan Pemilu serentak 2019.

Menurut Lukman, FKUB memiliki tingkat urgensi dan relevansi yang tinggi khususnya dalam pelaksanaan Pilkada serentak 2018 dan persiapan Pemilu tahun 2019. Ia berharap, FKUB bisa berperan menjaga kerukunan dan jadi perekat bangsa. “Aspirasi yang sangat beragam dalam tahun politik berpotensi menimbulkan gesekan dalam masyarakat, marilah kita gunakan agama untuk menghantarkan bangsa Indonesia menuju kesejahteraan bukan menggunakan agama untuk membuat sekat diantara eleman bangsa,” kata Lukman.

Menurut Lukman, agama bisa dilihat dari dua sisi. Sisi luar, agama secara formalistik kelembagaan, institusional, dan peribadatan. Maka akan ditemukan berbagai perbedaan antar ajaran agama tersebut. Tapi pada sisi dalam yaitu pada esensi agamanya atau substansi serta inti ajarannya, jangankan dalam satu agama dalam tujuh agama pun kita tidak akan menemukan perbedaan. Lukman mencontohkan dalam menegakkan keadilan, menjujung tinggi martabat dan hak asasi manusi. “Maka dalam kontek tahun politik menyikapi agama harus menggunakan sisi dalam dari agama,” katanya. ags/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment