Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments
Hari Pers Nasional - Pers Harus Menjadi Sumber Informasi yang Akurat

Kepercayaan Publik pada Medsos Semakin Menurun

Kepercayaan Publik pada Medsos Semakin Menurun

Foto : ANTARA/ZABUR KARURU
PUKUL TONGTONG - Presiden Joko Widodo didampingi Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo (kedua dari kanan), Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (kanan), Gubernur Jawa Timur Soekarwo (ketiga dari kiri) dan Ketua PWI Atal Sembiring Depari (kedua dari kiri) serta Penanggung Jawab HPN 2019 Margiono (kiri), memukul tongtong alat musik Madura saat puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (9/2).
A   A   A   Pengaturan Font
Media arus utama sangat dibutuhkan untuk menjadi rumah penjernih informasi.

 

SURABAYA - Presiden Joko Widodo mengatakan, saat ini perkembangan media sosial telah melompat sangat tinggi. Pengguna internet di Indone­sia saat ini mencapai 143,26 juta jiwa atu sekitar 54,68 persen dari total populasi nasion­al. Sebanyak 87,13 persen dari jumlah itu menggunakan in­ternet untuk mengakses media social (medsos).

“Masyarakat banyak menja­dikan konten medsos yang viral sebagai rujukan suatu masalah. Namun, media konvensional atau media arus utama tetap lebih dipercaya dibanding medsos,” kata Presiden saat memberikan sambutan pada acara puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Grand City Convex, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (9/2).

Tema HPN tahun ini “Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital”. Dalam kesempatan itu, Presiden, se­jumlah pejabat negara, dan wartawan berhasil meraih penghargaan atas peran dalam mendukung kemajuan pers nasional, dan karya jurnalistik mereka. Presiden Joko Widodo menerima penghargaan Ke­merdekaan Pers. Penghargaan tersebut diberikan untuk mengapresiasi pejabat terting­gi di negeri ini yang dinilai tidak pernah mencederai ke­merdekaan pers yang sehat dan positif, serta memberikan masa depan yang baik.

Presiden memaparkan, dari laporan Edelman Trust Barometer, pada 2016 tingkat kepercayaan terhadap media konvensional 59 persen dan 45 persen untuk media sosial, kemudian pada 2017 menca­pai 58 persen terhadap media konvensional dan 42 persen ke media sosial. Sedangkan pada 2018, kepercayaan masyarakat terhadap media konvensional meningkat menjadi 63 persen dibandingkan media sosial se­banyak 40 persen.

“Semakin ke sini, makin ti­dak percaya terhadap medsos. Saya sungguh gembira terha­dap situasi ini. Selamat insan pers dan media arus utama atas kepercayaan masyarakat ini,” ujar Kepala Negara

Jokowi melanjutkan, era digital yang diikuti perkem­bangan masif medsos telah mendorong setiap orang bisa menjadi wartawan atau bah­kan pemimpin redaksi. Ter­kadang, keadaan itu men­ciptakan sebuah kegaduhan, ketakutan, dan pesimisme. Dia mencontohkan, ketika pemer­intah menyampaikan satu in­formasi yang berisi kabar baik dan fakta, namun yang muncul di ruang publik hal tersebut di­simpulkan sebagai upaya kam­panye atau pencitraan semata.

Menurutnya, di tengah situasi seperti itu, media arus utama sangat dibutuhkan untuk menjadi rumah pen­jernih informasi, menyajikan informasi yang terverifikasi, menjalankan peran sebagai communication of hope untuk memberikan harapan besar pada bangsa Indonesia.

“Untuk itu, saya mengajak pers meneguhkan jati dirinya untuk menjadi sumber infor­masi yang akurat, mengeduka­si masyarakat, tetap melakukan kontrol sosial dan memberikan kritik konstruktif,” terangnya.

Jadi Rujukan

Sebelumnya, dalam sebuah diskusi, Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, mengatakan pentingnya ma­syarakat menjadikan media arus utama sebagai rujukan.

“Untuk itu, penting pula insan pers arus utama terus membenahi diri, bekerja sesuai koridor hukum UU dan etika pers, yakni UU Pers dan Kode Etik Pers,” kata Rudiantara.

Sementara itu, Dekan Fisi­pol Universitas Gadjah Mada, Erwan Agus Purwanto, menjelaskan makin menurunnya kepercayaan publik terhadap informasi yang banyak disebar­kan via media sosial, menun­jukkan ada kejenuhan dari khalayak terhadap akurasi informasi dari media sosial itu. Publik pun beralih ke media arus utama dalam mendapatkan referensi informasi. “Ini, kabar gembira tentunya,” kata Erwan.

Menurut Erwan, informasi di medsos sulit diverifikasi, bah­kan kebanyakan menyesatkan. Tentu, ketika kepercayaan pub­lik terhadap medsos menurun dan beralih ke media arus uta­ma, ini tren yang menggembi­rakan, sekaligus tantangan bagi media arus utama agar terus di­percaya publik sebagai pemberi informasi tepercaya.

“Sinyalemen Presiden terse­but ada benarnya, terutama setelah media sosial kita, paling tidak dalam beberapa tahun terakhir ini, boleh di­katakan menjadi sumber pe­nyebaran hoaks,” kata Erwan. SB/ags/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment