Kenaikan Upah Riil Buruh Tani Dipicu Deflasi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments
Kesejahteraan Masyarakat

Kenaikan Upah Riil Buruh Tani Dipicu Deflasi

Kenaikan Upah Riil Buruh Tani Dipicu Deflasi

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Pemerintah perlu membantu petani dan buruh tani di tengah pandemi Covid-19 dengan mendistri­busikan insentif yang bisa me­naikkan taraf hidup mereka. Sebab, kenaikan upah riil para buruh tani relatif kecil dan le­bih banyak dipicu karena ter­jadi penurunan harga atau de­flasi dalam dua bulan terakhir.

Sementara itu, sektor perta­nian menjadi salah satu dari be­berapa sektor yang mampu tum­buh positif dan berkontribusi menahan perekonomian nasio­nal tidak terkoreksi lebih dalam pada triwulan II-2020 lalu.

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB), Sahara, di Jakar­ta, Selasa (15/9), mengatakan pendapatan riil buruh tani sa­ngat bergantung pada fluktu­asi harga. Jika terjadi kenaikan harga atau inflasi, upah riil me­reka akan turun. Demikian juga sebaliknya, kalau deflasi maka upah riil buruh tani naik.

“Kenaikan upah riil buruh tani pada Agustus 2020 teruta­ma disebabkan karena deflasi di bulan tersebut,” kata Sahara.

Lebih lanjut, Sahara menje­laskan upah riil buruh tani di­peroleh dengan membanding­kan antara upah nominal buruh tani dengan indeks konsumsi rumah tangga pedesaan. De­ngan demikian, kenaikan upah rill buruh tani menunjukkan ke­naikan daya beli dari buruh tani.

Dengan pendapatan nomi­nal sangat bergantung dengan fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh pekerja atau buruh tersebut maka sa­ngat penting menjaga laju in­flasi tidak tinggi terutama ke­lompok komoditas pangan.

Infrastruktur Perdesaan

Penasihat Senior Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS), Gunawan, dalam kesempatan terpisah me­ngatakan kenaikan upah nomi­nal harian buruh tani nasional pada Agustus 2020 sangatlah kecil hanya 0,12 persen diban­ding upah buruh tani Juli 2020. “Mestinya persentasenya berasal dari kenaikan harga produk pertanian jadi harus di atas 1 persen. Kenaikan 0,12 persen belum cukup,” kata Gunawan.

Menurut dia, kenaikan ter­sebut kurang berarti karena le­bih dipacu oleh turunnya kon­sumsi dan peredaran uang di perdesaan. “Ini harusnya men­jadi sinyal bagi pemerintah untuk menggerakkan sektor pertanian dan pembangunan perdesaan,” katanya.

Pembangunan infrastruk­tur perdesaan harus dilaku­kan untuk menghadapi keke­ringan. Demikian juga perlu memberi insentif untuk inovasi pertanian di luar padi, jagung dan kedelai, insentif bagi pe­tani pemulia benih serta tetap menjaga produksi dan distri­busi produk pertanian.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir upah nominal harian buruh tani na­sional pada Agustus 2020 naik sebesar 0,12 persen dibanding upah buruh tani Juli 2020, yaitu menjadi 55.677 rupiah per hari dari 55.613 rupiah per hari.

Kepala BPS, Suhariyanto, saat menggelar konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (15/9), mengatakan karena indeks konsumsi di pedesaan mengalami deflasi 0,28 persen maka upah riil buruh tani mengalami ke­naikan sebesar 0,40 persen.

“Jadi, upah buruh tani baik nominal maupun riil sama-sa­ma mengalami peningkatan,” kata Suhariyanto.

Hal yang sama terjadi pada upah nominal harian buruh bangunan pada Agustus 2020 yang naik 0,08 persen diban­ding upah Juli 2020, yaitu men­jadi 89.872 rupiah per hari dari 89.800 rupiah. n ers/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment