Koran Jakarta | September 25 2018
No Comments
Pembelajaran Jarak Jauh | Tingkat APK Pendidikan Tinggi Diharapkan Naik

Kemristek Petakan Dosen Daring

Kemristek Petakan Dosen Daring

Foto : ISTIMEWA
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kem­ristekdikti, Prof Ali Ghufron Mukti.
A   A   A   Pengaturan Font
Dosen milenial atau berusia 18 hingga 36 tahun diprioritaskan menjadi pengajar daring. Mereka dinilai telah akrab dengan dunia digital.

 

JAKARTA - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidik­an Tinggi (Kemristekdikti) me­lakukan pemetaan terhadap te­naga dosen untuk menghadapi pembelajaran jarak jauh me­lalui sistem online atau dalam jaringan (daring). Pemetaan ini salah satunya didasarkan pada usia dosen.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kem­ristekdikti, Prof Ali Ghufron Mukti, di Jakarta, Selasa (27/2), mengatakan, saat ini jumlah dosen yang berusia 53 tahun hingga 71 tahun sebanyak 24.381 dosen, kemudian yang berusia 37 tahun hingga 52 ta­hun sebanyak 142.020 dosen, dan tenaga dosen milenial yang berumur 18 tahun hingga 36 ta­hun sebanyak 113.965 dosen.

“Dosen yang kami petakan ini merupakan dosen yang ada di semua kementerian, seper­ti Kemristekdikti maupun Ke­menterian Agama,” jelas dia.

Melalui pemetaan berdasar­kan usia tersebut, kata Ghu­fron, Kemristekdikti dalam melakukan pembinaan dan bimbingan agar para dosen tersebut siap melakukan peng­ajaran daring. Untuk dosen yang kategori milenial lebih mudah, karena akrab dengan dunia digital. “Nantinya, dosen tak hanya sekadar mengajar saja, tetapi lebih dari sekadar fasilitator yang membimbing mahasiswanya.”

Selain itu, Kemristekdikti juga akan membentuk univer­sitas siber (Cyber University) yang tugasnya memastikan kualitas dari pembelajaran daring. Universitas siber ter­sebut akan memastikan apa­kah perguruan tinggi yang me­nyelenggarakan pembelajaran daring sesuai dengan yang ditetapkan mulai dari tutor, tatap muka hingga tugas yang diberikan. Begitu juga dengan praktik laboratorium, nantinya apakah hanya model tiga di­mensi atau jika perlu fisik kerja sama dengan laboratorium.

Seperti diberitakan sebe­lumnya bahwa Menristekdikti, Mohamad Nasir, menargetkan ada sekitar 400 perguruan tinggi yang menyelenggarakan pem­belajaran daring pada tahun ini.

Saat ini sudah ada 51 perguruan tinggi yang me­nyelenggarakan pembelajaran daring tersebut. Dari 51 pergu­ruan tinggi tersebut, ada 32 per­guruan tinggi swasta yang me­nyelenggarakan pembelajaran daring campuran yakni kombi­nasi tatap muka dan daring.

Tingkatkan APK

Secara terpisah, Rektor Uni­versitas Al Azhar Indonesia (UAI), Profesor Asep Saefuddin, meyakini pembelajaran dar­ing dapat meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendi­dikan tinggi. “APK pendidikan tinggi kita masih sekitar 29 per­sen, sementara yang lulus ma­sih dibawah 10 persen dan yang sarjana dan diploma hanya de­lapan persen,” ujarnya.

Menurut Asep, angka ter­sebut masih jauh dibanding­kan lulusan sarjana di Singa­pura yang mencapai 32 persen dan juga Malaysia 19 persen.

Karena itu, dengan adanya pembelajaran daring tersebut, pi­haknya akan memberikan kontribusi terhadap mutu pendidikan dan APK mahasiswa melalui pro­gram pembelajaran daring cam­puran atau hybrid learning.

Metode pembelajaran cam­puran tersebut mengombinasi­kan pembelajaran tatap muka dan juga daring. Untuk porsi­nya lebih banyak tatap muka yakni 51 persen dan 49 persen pembelajaran daring.

“Tujuan program ini mem­berikan kontribusi seban­yaknya generasi muda dan kemampuan berpikir dengan iptek yang bermanfaat pada pengambilan keputusan, pro­ses berpikir dan kesejahtera­an,” tandasnya.

Untuk program prioritas pembelajaran daring campuran yakni manajemen, akuntansi dan ilmu hukum. “Kami me­nargetkan tahun ini diterapkan dan berharap semakin banyak mahasiswa yang ikut pembela­jaran daring ini,” harap Asep.

Sementara itu pendiri por­tal pendidikan HarukaEdu, Dr Gerald Ariff, mengatakan proses pembelajarannya tatap muka di kampus 51 persen, ke­mudian pembelajaran daring 49 persen. Untuk Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Ak­hir Semester (UAS) tetap harus hadir di kampus.

“Pembelajaran daring ini sa­ngat membantu teman-teman belajar dimana saja dan tak perlu macet-macetan untuk kuliah. Bahkan, ada mahasiswa yang diinfus dan bisa belajar meski lagi di rumah sakit,” pa­par Gerald. cit/E-3

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment