Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

Kemolekan Panorama Merapi

Kemolekan Panorama Merapi

Foto : koran jakarta/ALOYSIUS WIDIYATMAKA
A   A   A   Pengaturan Font

Letusan Gunung Merapi sudah terjadi berkali-kali. Salah satu yang amat dahsyat terjadi tahun 2010. Namun di balik kedahsyatan gunung yang terletak di Jateng dan DIY ini, tetap menyimpan keindahan panorama yang amat menawan.

Gunung Merapi yang ting­ginya hampir 3.000 meter di atas permukaan laut (dpl) ini memang sangat istimewa. Kehebatannya memun­culkan banyak kisah mistis. Konon dikatakan memiliki hubungan is­timewa dengan Keraton Yogyakarta di bagian utara (di bagian selatan ada Samudera Indonesia). Maka, Kerajaan Yogyakarta (Mataram) selalu menempatkan seorang juru kunci di Gunung Merapi. Yang paling fenomenal adalah Mbah Marijan, gugur dalam kesetiaan menjaga Merapi. Dia dilalap letus­an tahun 2010.

Keindahan Gunung Merapi an­tara lain dapat dinikmati dari Ketep Pass yang terletak di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jateng. Untuk dapat menikmati keindahan “maksimal” datanglah ke Ketep Pass pada pagi-pagi benar guna menyambut sinar matahari yang muncul dari balik Gunung Merapi dan Merbabu. Jangan lupa mengenakan jaket karena udara pada pagi hari sangat dingin. Hampir sepanjang hari udaranya sangat segar dan sejuk. Walau di bawah, di Kota/Kab Magelang sangat panas, udara Puncak Ketep sangat sejuk, sehingga dalam waktu lama kawasan ini menjadi tujuan rekreasi warga Magelang, Solotigo, dan Boyolali.

Ketep ini makin populer setelah diresmikan Presiden Megawati tanggal 17 Oktober 2002 sebagai Kawasan Wisata Jalur SSB (Solo– Selo–Borobudur). Suguhan utama wisata Ketep adalah panorama Gu­nung Merapi. Dari Ketep, puncak Merapi benar-benar terasa dekat, sehingga guratan-guratan bekas jalur-jalur lava begitu jelas.

Dari Ketep pula, masyarakat dapat mengamati Merapi, tanpa terhalang apa pun. Karena posisi Ketep lumayan tinggi, maka dari sini wisatawan dapat menyapu pandang keindahan alam sekelil­ing yang menghijau. “Pemandan­gannya bagus. Saya dari Yogya, tetapi baru kali ini berkunjung ke Ketep,” ujar Vivi, warga sekampung mendiang Soeharto, Kemusuk, Yogyakarta. Menurut putri cantik yang datang bersama Ayah-Ibunya ini, sudah lama mendengar Ketep, namun baru sempat berkunjung, beberapa waktu lalu itu.

Luas area Ketep sekitar 8.000 meter persegi. Udaranya sejuk karena tingginya mencapai 1.200 dpl. Namun seluruh kendaraan, termasuk bus, bisa mencapai Ketep Pass. Posisi Ketep Pass berada di perbukitan Sawangan dan berada di antara Gunung Merbabu dan Merapi. Bila waktunya cukup, turis bisa menyambangi juga destinasi air terjun Kedung Kayang, tanaman stroberi, dan hutan pinus Kragilan. Titik tertinggi kawasan wisata Ketep Pass bernama Pelataran Panca Arga (lima gunung). Mengapa dinama­kan Panca Arga? Sebab dari pelat­aran ini masyarakat dapat menyapu pandang lima gunung: Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Gunung Slamet.

Pengunjung yang membawa mobil sebagai sampingan juga dapat berbelanja sayur-mayur dan buah-buahan. Sebab sekitar Ketep merupakan lahan subur yang banyak ditanami sayuran. Tentu saja sayurannya segar karena baru dipetik di sawah. Bahkan tak perlu jauh, di gerbang masuk Ketep juga terdapat pedagang sayuran, sehing­ga bisa langsung belanja. Sedang­kan camilan yang bisa dinikmati di kesejukan adalah jagung bakar yang bisa dinikmati sambil minum teh manis atau kopi.

Penting memburu fajar agar memperoleh keindahan sesung­guhnya. Sebab setelah agak siang, puncak keindahan bisa sedikit berkurang. Akan tetapi, pesona alam Ketet dan sekelilingnya tetap mengagumkan. Dalam perjalan­an di kiri-kanan terdapat sawah. Untuk Agustus ini, wisatawan dapat menikmati kehijauan tananaman tembakau yang hampir siap panen. Untuk anak-anak kota besar ini pe­mandangan yang menarik karena bisa saja mereka belum tahu pohon tembakau, sehingga bisa melihat langsung dari dekat. wid/G-1

Mengenang Dentuman “Kemarahan” Merapi

Sajian wisata Ketep Pass tak sekadar keindahan panorama alam nan hijau. Pengunjung juga dapat menonton bioskop. Mungkin ini bioskop terunik di Indonesia karena berada di ke­tinggian 1.200 di atas permukaan laut. Namun, di bioskop ini bukan sembarang film yang diputar. Film yang disajikan adalah dokumentasi keganasan saat Merapi “marah” alias meletus.

Selain tiket masuk kawasan seharga 10.000 rupiah, pengunjung juga harus membayar 9.000 rupiah untuk menikmati bioskop. Film ini termasuk “wajib” ditonton ter­utama para wisatawan yang tidak sempat melihat langsung kengerian letusan besar Merapi tahun 2010 yang meluluhlantakkan kawasan sekitar. Dari film dapat dilihat ke­ganasan lava, sekaligus keindahan gulungan debu yang membubung tinggi.

Deburan lava dari kawah Merapi begitu tampak menyala karena diambil dari Ketep Pass yang tak begitu jauh dari Merapi. “Meski­pun Ketep Pass dekat, tidak terkena lava Merapi,” ujar warga setempat, Herman (35). Menurutnya, Ketep hanya menjadi sasaran abu, tetapi tidak sampai terkenal lava. Me­mang kondisi topografisnya mem­buat aman Ketep Pass dari lava, setiap Merapi meletus.

Film ini juga mendokumentasi kepanikan warga pada malam gelap campur siraman abu Merapi untuk dievakuasi. Suasananya begitu mencekam. Rasa kecil sebagai ciptaan Tuhan di tengah kedahsyatan setiap dentuman keras Merapi disertai semburan api di bagian puncak. Film ini membuat betapa manusia tak bisa sombong lagi di tengah alam.

Flim ini mungkin perlu ditonton para koruptor dan calon korup­tor agar tersadarkan bahwa hidup harus ada cukupnya. Jangan terus menumpuk kekayaan sebab yang korup biasanya orang kaya, orang yang telah lebih dari cukup hidup­nya. Seluruh harta tak ada nilainya bila diterjang alam yang marah karena kesalahan manusia. wid/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment