Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
KLB Difteri

Kemenkes Gelar Imunisasi di 12 Kabupaten/Kota

Kemenkes Gelar Imunisasi di 12 Kabupaten/Kota

Foto : KORAN JAKARTA/Muhaimin A. Untung
VAKSINASI DIFTERI - Seorang balita menangis saat imunisasi difteri di Puskesmas Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/12). Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk semakin masif menyosialisasikan program vaksinasi di Ibu Kota.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA — Pemerintah akan menggelar outbreak response immunization (ORI) yakni imunisasi tahap awal untuk mengatasi kejadian luar biasa (KLB) difteri. Imunisasi tahap awal itu akan digelar serentak di 12 kabupaten/kota pada Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

“Kami berharap, tidak ada lagi penolakan terhadap imunisasi untuk menurunkan risiko penularan difteri yang mematikan ini,” tegas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan, Muhammad Subuh, dalam keterangan presnya, di Jakarta, Rabu (6/7). Subuh kembali menjelaskan bahwa definisi kejadian luar biasa yang mungkin belum diketahui masyarakat.

Suatu daerah disebut mengalami KLB, kata dia, jika ditemukan kasus baru di mana sebelumnya tidak ada kasus penyakit tertentu di daerah itu. “Selain itu ada peningkatan dua kali lipat dalam periode sebelumnya atau ada peningkatan kematian. Jadi, ketika sebelumnya suatu daerah tidak pernah ada kasus difteri dan tiba-tiba dilaporkan satu kasus, itu sudah digolongkan kejadian luar biasa,” tutup Subuh.

Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan kuman corynebacterium diphtheriae. Kasus infeksi ini mudah menular dan berbahaya, serta dapat menyebabkan kematian. Meski sudah ada vaksin DPT untuk mencegah terjadinya difteri, 95 kabupaten/ kota di Indonesia dilaporkan terjadi kejadian luar biasa (KLB) difteri.

Subuh mengungkapkan penyebab utama mewabahnya difteri diduga karena aksi penolakan imunisasi dari masyarakat. Berdasarkan laporan yang diterimanya, 66 persen kasus difteri disebabkan tidak diimunisasi. “Sekitar 31 persen karena imunisasi tidak lengkap, dan hanya tiga persen imunisasi lengkap,” ujar Subuh. 

 

cit/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment