Kembangkan Diri dengan “Workshop” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 7 2020
No Comments
Crafter Jakarta

Kembangkan Diri dengan “Workshop”

Kembangkan Diri dengan “Workshop”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Workshop menjadi amunisi untuk meningkatkan kemampuan anggota Komunitas Crafter Jakarta. Dengan workshop, anggota terdorong untuk membuat beragam craft atau kerajinan.

Kemampuan membuat beragam craft tanpa disadari kini telah menjadi tuntutan pasar. Pasar menginginkan craft beraneka ragam untuk memenuhi permintaan konsumen. Seperti saat ini, banyak perusahaan yang membutuhkan masker untuk karyawannya di tengah terjangan wabah virus korona. Untuk para, crafter atau perajin yang lebih senang berkutat dengan kemampuan diri tanpa mau membuka wawasan akan kerepotan untuk memenuhi permintaan pasar.

“Craft banyak sekali, kita harus menggali terus,” ujar pendiri Komunitas Crafter Jakarta, Dewiani yang dihubungi Koran Jakarta, Kamis (26/3).

Hal ini, jelas dia, lantaran craft telah menjadi produk niaga dan tidak lagi sekedar kegiatan hobi yang jika sudah selesai membuat barang kerajinan lalu digeletakkan begitu saja.

Craft sudah barang tentu dapat menambah sumber penghasilan rumah tangga bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi sumber utama penghasilan. Sehingga, dengan kondisi seperti itu kemampuan membuat beragam kerajinan menjadi kebutuhan supaya karya yang dihasilkan selalu memiliki nilai jual.

Untuk itulah, workshop menjadi kegiatan utama Komunitas Craft Jakarta. Kurang lebih sebulan dua kali, mereka menggelar workshop untuk meningkatkan kemampuan para crafter yang berlangsung di PKK Jakata Pusat yang terletak di Jalan Percetakan Negara dan Jakarta Creative Hub, Gedung Graha Niaga di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Workshop yang dibanderol dengan harga 50 ribu rupiah hingga 250 ribu rupiah itu bukan semata-mata hanya untuk anggota Craft Jakarta, tetapi dapat pula diikuti oleh kalangan umum.

Berbagai materi diberikan pada workshop, seperti berbagai materi craft, promosi hingga pemotretan produk. Ragam materi yang diberikan itu dimaksudkan untuk menjangkau pasar dan tidak sebatas produk melainkan juga pemasarannya. Selain itu, materi-materi craft yang dipilih sesuai dengan perkembangan pasar yang banyak tersebar di pinterest maupun instagram.

Wabah Korona

Sayangnya, saat terjadi wabah korona seperti saat ini, beberapa workshop terpaksa ditunda, seperti workshop pemotretan produk. Workshop tersebut dipandang penting terutama untuk menjual produk melalui media social (medsos), seperti instagram. Foto produk akan mempengaruhi ketertarikkan konsumen untuk membeli sebuah produk.

Selain itu, materi tersebut untuk mengakomodasi anggota yang kebanyakan ibu-ibu yang tidak terbiasanya mengadopsi teknologi. Produk-produk hasil pelatihan akan diikutikan dalam pameran maupun bazaar yang diselenggarakan di pusat perbelanjaan maupun yang diadakan di dinas-dinas pemerintahan. Dewiani selalu memberikan semangat anggotanya untuk membuat produk sebanyak-banyak. Sehingga saat ada pameran maupun bazaar, mereka memiliki produk yang dapat diperlihatkan dan dipasarkan pada khalayak luas.

“Ada kalanya, para perajin juga langsung mendapatkan pesanan,” ujar Dewiani yang akrab disapa Anoy ini.

Hingga saat ini, pemasaran produk masih dalam lingkup Industri Kecil Menengah (IKM). Mereka belum masuk skala industri karena keterbatasan produksi maupun sumber daya manusia. Kebanyakan, pesanan yang datang langsung kepada pengrajinnya. Namun beberapa produk telah memiliki pasar hingga luar negeri, seperti Malaysia.

Pasar negeri jiran tersebut tertarik dengan produk-produk craft. Saat ini, komunitas juga sedang membuat kerajinan Sospeso, hiasan tiga dimensi untuk menjangkau pasar Jepang. Namun, pelatihan membuat produk belum dapat dilakukan karena terkendala wabah korona.

Komunitas Craft Jakarta berdiri dua tahun yang lalu. Awalnya, komunitas ini merupakan sekumpulan para pengrajin yang tergabung melalui WhatsApp (WA) Group.

Setelah bergabung dengan Yayasan Joko Tinurut yang bergerak dalam bidang pendidikan terhadap anak-anak kebutuhan khusus, komunitas yang berperan memberikan materi pendidikan lalu mendirikan Komunitas Crafter Jakarta.

Hingga saat ini, anggotanya terbatas 260 orang. Jumlah tersebut tidak lain mengikuti jumlah maksimal anggota dalam WA sebagai media interaksi secara online. Anggota yang telah tergabung tidak terikat, mereka bebas datang dan pergi.

“Kalau ada yang mau jadi anggota, nunggu ada anggota yang keluar dulu,” ujar Anoy tergelak.

Para IKM Ragu Masuk Pasar Retail

Pasar retail merupakan pasar yang belum mampu ditembus para perajin. Keterbatasan modal hingga produksi menjadi tantangan besar bagi para pengrajin di tingkat Industri Kecil Menengah (IKM).

Hal tersebutlah yang dirasakan Martha Wongso, 58, anggota Komunitas Crafter Jakarta. Hingga saat ini, ia masih mengandalkan bazaar gratis kenalan untuk memasarkan produk kerajinannya.

“Karena keterbatasan modal,” ujar wanita yang mulai membuat kerajinan secara otodidak dengan membuat clay ini. Bagi Martha, retail membutuhkan modal serta SDM yang cukup kuat. Sedangkan sampai saat ini, dia membuat kerajinan tanpa bantuan orang lain. Boneka clay, tote bag, bunga clay merupakan produk yang telah dihasilkannya selama ini.

Meskipun belum masuk pasar retail, ia cukup beruntung karyanya sudah dapat dipasarkan. Pasalnya pada 2019, dia sempat kebingungan untuk memasarkan karyanya lantaran belum memiliki jejaringan pemasaran. Jadi Ganjalan Anggota Komunitas Crafter Jakarta lainnya, Kanadianty mengatakan bahwa produksi masih menjadi ganjalan untuk masuk pasar retail. Pasalnya pada rantai pasar tersebut produsen dituntut memiliki kontinuitas produksi.

“Mesti punya stok barang banyak,” ujar dia yang menyukai kerajinan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas pada 1993 ini.

Bagi dia, penjualan secara online masih tergolong bersahabat untuk pelaku industri di tingkat IKM. Ia tidak perlu keluar ongkos untuk biaya tempat maupun pekerja. Keuntungan lainnya, harga jual dapat ditekan lebih hemat.

Namun, perajin yang sudah bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dari hasil penjualan karyanya inipun tertarik untuk menjajal pasar retail. Ia tidak membuka toko melainkan menyetorkan barang pada beberapa toko.

“Rencananya tahun ini saya baru mau memulai, mensub produk ke beberapa toko,” ujar dia. Saat ini, dia tengah memproduksi tas dan kerudung untuk barang yang akan dilempar ke pasar retail.

Masker Membuat Para Perajin Masih Produktif

Wabah Korona mulai melemahkan sendi-sendi ekonomi Tanah Air. Beberapa pusat perbelanjaan tutup, sedangkan pasar tradisional memiliki jam buka yang dibatasi. Di tengah situasi yang secara ekonomi kurang menguntungkan itu, Komunitas Crafter Jakarta masih memiliki peluang untuk menjual produk-produknya.

Masker merupakan produk yang banyak dipesan sejumlah pihak lantaran produk tersebut menjadi barang yang lagi dibutuhkan di saat wabah korona merebak di tengah masyarakat. Anoy menyebarkan informasi kebutuhan masker secara online pada anggota komunitas.

“Kemarin ada informasi kebutuhan membuat masker, yang membutuhkan tidak hanya satu dua namuna ada yang pesan secara ribuan,” ujar dia. Orderan masker menjadi pemasukan untuk para anggota.

Pasalnya saat terjadi wabah seperti ini, ruang gerak masyarakat lebih terbatas tak terkecuali untuk melakukan kegiatan ekonomi. Orderan masker tersebut dibagi ke sejumlah anggota komunitas. Anoy mengerjakan orderan masker sebanyak 300 buah. Rata-rata, anggota lainnya membuat masker sebanyak 100 buah. Masker dibanderol dengan harga mula 5 ribu rupiah hingga 9 ribu rupiah.

Perbedaan harga tersebut tergantung dengan bentuk masker. Masker yang berdesain polos biasanya dibanderol dengan harga 5 ribu rupiah, sedangkan masker yang memiliki kerutan dibanderol dengan harga 9 ribu rupiah.

Selain itu, waktu pengerjaan juga menantukan harga jual. Anoy mendapatkan orderan maskes polos tanpa kerutan yang menutup hampir setengah wajah. Masker yang terbuat dari kain tersebut merupakan orderan sebuah perusahaan yang akan dibagikan kepada karyawannya.

Sengaja Dibagikan Seperti halnya dengan Anoy, Kanadianty, 44, turut serta membuat masker. Bedanya, dia tidak membuat masker untuk kebutuhan produksi konsumennya.

Melainkan, dia membuat masker yang sengaja dibagikan untuk para tukang sayur, tukang becak maupun tukang sampah. “Mungkin, kalau teman-teman lain banyak yang digunakan untuk jualan,” ujar dia. Dalam membuat masker, perempuan yang akrab disapa Kana ini menggunakan kain mori yang biasa digunakan untuk membuat batik atau pembungkus mayat.

“Saya buat dua lapis, di tengahnya bisa dikasih tissue yang bisa diganti-ganti,” kata Kana yang terpaksa menghentikan workshop-nya di sejumlah tempat selama wabah korona.

Selain mori, masker dapat terbuat dari bahan katun. Yang utama dalam membuat masker, jelas Kana, kain yang digunakan merupakan kain dengan pori-pori rapat supaya virus tidak masuk ke dalam tubuh.

Menurutnya, untuk memilih kain yang tepat dapat dites dengan menggunakan korek api. “Kalau mulut kita ditutup dengan kain itu lalu kita tiup korek api dan apinya tidak padam, artinya pori-porinya sangat kecil,” ujar dia.

Saat ini, masker menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk menghindari virus korona. Masyarakat bahkan kesulitan untuk mendapatkan masker seiring dengan tingginya permintaan.  din/S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment