Kembangan Industri Hijau Berkelanjutan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Teknologi Pengolahan

Kembangan Industri Hijau Berkelanjutan

Kembangan Industri Hijau Berkelanjutan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Pemerintah akan mengembangkan teknologi pengolah besi bekas dengan mengikuti ketentuan pembangunan berkelanjutan. Teknologi harus menerapkan konsep From Cradle to Grave (C2G) atau konsep pembangunan industri hijau berkelanjutan dan sejalan dengan Suistainable Development Goals. Hal ini dikatakan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza, kepada Koran Jakarta, Kamis (13/2).

Menurut Hammam, industri besi baja Indonesia saat ini masih mengandalkan bahan besi bekas atau scrap sebagai bahan baku. Scrap tersebut umumnya mengandung limbah kategori sebagai bahan berbaya dan beracum (B3). Maka, pemanfaatannya harus mengacu pada aturan B3. Meski begitu, pada praktik di lapangan industri besi baja kerap menggunakannya sebagai bahan baku karena kesulitan bahan baku.

“Solusinya harus menggunakan teknologi untuk melakukan pengolahan awal terhadap scrap, sehingga memenuhi kriteria bahan baku industri besi baja,” ujar Hammam. Menurutnya,

pengelolaan dan pengembangan besi bekas tidak hanya dilakukan untuk besi dalam negeri. Besi bekas luar negeri juga perlu dilakukan pengecekan secara cepat, sehingga dapat dikategorikan sebagai B3 atau tidak.

Saat ini BPPT mengelola fasilitas laboratorium untuk mengecek scrap layak atau tidak untuk bahan baku industri baja. BPPT siap kerja sama dengan institusi lain guna menjaga ketersediaan bahan baku industri besi baja nasional, tanpa mengorbankan kepentingan lingkungan hidup,” ucapnya.

Untuk mengelola bahan baku industri perlu membangun Life Cycle Inventory (LCI)

Sebagai pendukung output industri revolution 4.0. LCI nantinya juga bisa mendukung program-program kementerian teknis lain.  ruf/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment