Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments
Koleksi Karya Ilmiah

Kembalikan 121.912 Judul Karya Ilmiah yang Raib

Kembalikan 121.912 Judul Karya Ilmiah yang Raib

Foto : KORAN JAKARTA/ARDEN MA’RUF
RAK KOSONG - Kondisi terkini rak tempat menyimpan karya-karya ilmiah, Jumat (15/3). Setelah karya-karya ilmiah hilang, rak-rak tersebut jadi sekat pegawai di lantai 5 Pusat Data dan Dokumen Ilmiah (PPDI) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jakarta.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Sebanyak 121.912 judul karya Ilmiah raib dari Lembaga Ilmu Pengeta­huan Indonesia (LIPI). Dengan adanya kasus tersebut, Ketua LIPI, Laksana Tri Handoko di­minta untuk mengembalikan karya-karya ilmiah yang hilang entah ke mana. “Kami seka­rang menuntut itu dikemba­likan. Kalau alasan penghilan­gan tersebut karena sudah ada di universitas asal, kami tidak bisa menerima alasan itu,” ujar Profesor Peneliti di LIPI, Asvi Warman Adam, Jumat (15/3).

Asvi menambahkan ada be­berapa karya ilmiah khususnya Tesis dan Disertasi berasal dari universitas luar negeri sehing­ga jika tidak di LIPI cukup su­lit untuk mengaksesnya. Selain itu, banyak karya-karya ilmiah yang tidak bisa diaksea secara online dan sebagian kecil yang baru didigitalisasi oleh lipi.

Masih menurut Asvi hilang­nya karya-karya ilmiah tersebut terjadi pada tanggal 9-10 Feb­ruari 2019. Sebanyak dua truk mengangkut buku-buku yang dihapuskan dari perpustakaan Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah (PDDI) LIPI Jakarta.

Asvi menambahkan hilan­gnya karya-karya ilmiah ini karena reorganisasi lembaga di LIPI dan PDDI. Maka dari itu, ia meminta peninjauan ulang terhadap reorganisasi tersebut. “Pustakawan, humas, dan arsi­paris perlu diberikan penghar­gaan yang layak. Ini yg direor­ganisasi tidak diberikan. Mereka tidak dianggap sebagai sistem dalam pendokumentasian ilmi­ah di PDDI ini,” jelas Asvi.

Asvi khawatir jika karya-karya itu tidak dilembalikan, pandangan masyarakat terha­dap kredibilitas LIPI sebagai lembaga ilmiah jadi menurun. Parahnya lagi, hal tersebut bisa membuat para peneliti tidak lagi mengirimkan karyanya ke LIPI.

“Padahal Kementerian Ri­set Teknologi dan Pendidikan Tinggi sudah mengatur semua tesis disertasi harus dikirim ke­pada perpustakaan nasional, kemenristek dikti, dan LIPI yang dalam konteks ini asalah PPDI. Jadi di sini salah satu penyimpa­nannya juga,” terang Asvi.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Ilmu Per­pustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya Univer­sitas Indonesia, Sulistyo Ba­suki menjelaskan penghilan­gan yang terjadi di LIPI karena kurangnya pemahaman buku sebagai sumber informasi. Menurutnya, bahkan di per­pustakaan buku hanya diang­gap sebagai inventaris saja.

Selain itu, Sulistyo menyay­angkan kehilangan yang ter­jadi di PDDI LIPI. Ia menyebut PDDI LIPI memiliki koleksi karya ilmiah lebih banyak dari Perpustakaan Nasional.

“Perpustakaan Nasional se­bagai pusat dokumentasi saja tidak terlalu berhasil. Sebagai contoh majalah tentang sum­ber informasi PDDI justru lebih banyak,” jelas Sulistyo.

Sampai saat ini, Asvi masih menunggu karya-karya ilmiah itu dikembalikan oleh ketua LIPI. Adapun Asvi dan seba­gian pekerja LIPI sudah mem­buat mosi tidak percaya ke­pada Ketua LIPI. den/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment