Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Jelang Pilpres

Keluarga Korban Penculikan Tolak Capres Pelanggar HAM

Keluarga Korban Penculikan Tolak Capres Pelanggar HAM

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Sejumlah kerabat aktivis korban penculikan 1998 yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) menyatakan memilih calon presiden (capres) yang tidak punya beban masa lalu, khususnya kasus penculikan aktivis 1998.

“Keluarga korban penculikan dan penghilangan paksa 1998 menyatakan menolak capres penculik, capres pelang­gar HAM (hak asasi manusia). Itu ekspresi konkret dari kita semua,” kata Ketua Dewan Penasihat IKOHI, Mugiyanto, saat konferensi pers bersama keluarga dan aktivis korban penculikan di Jakarta, Rabu (13/3). Mugiyanto adalah akti­vis 1997–1998 yang menjadi salah satu korban penculikan Tim Mawar.

Mugiyanto menduga capres Prabowo bertang­gung jawab atas peng­hilangan dan penyiksaan terhadap para aktivis pada 1998. Karena itu, IKOHI tak mau ada pelang­gar HAM menjadi pre­siden. “Kami tak punya bayangan bahwa pelaku pelanggaran HAM yang belummempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum itu dipilih sebagai presiden,” katanya.

Salah satu anggota IKOHI, Damaris Hutabarat, mengharapkan masyarakat mendukung capres Joko Widodo (Jokowi). Ibunda aktivis Ucok Munandar Siahaan itu menuturkan, Jokowi se­lain tak punya beban masa lalu, juga figur yang santun.

“Saya berharap kepada adik-adik, saya minta supaya adik-adik pilih Jokowi, jangan siapa-siapa. Jangan monster itu yang dipilih,” katanya.

Salah satu keluarga korban, Budiarti, mengisahkan ba­gaimana anaknya menjadi korban penculikan tahun 1998. Anaknya yang bernama Leonardus Nugroho alias Gilang, ditemukan tewas mengenaskan di hutan kawasan Maget­an, Jawa Timur.

“Anak saya korban penculikan 98, diperlakukan oleh penculik sungguh tidak manusiawi. Diculik, dibunuh, dan jasadnya dibuang di tengah hutan dengan luka tembak. Ditemukan dalam posisi telentang, tangan ditali di bawah pohon, sobekan di dada, ulu hati dikeluarkan. Saya waktu itu mendengar berita anak saya seperti itu saya syok. Pa­dahal, Gilang hanya seorang pengamen, tidak pernah tawuran seperti anak muda lain,” tuturnya.

Budiarti percaya bahwa Jokowi dapat memberikan ha­rapan bagi pengungkapan kasus anaknya dan rekan-rekan seperjuangannya, terutama yang masih hilang dan be­lum ditemukan sampai saat ini. Ia juga mengeklaim telah mengenal Jokowi semenjak menjadi Wali Kota Surakarta. “Saya sering aktif ketemu Pak Jokowi sewaktu masih di Surakarta, dan saya merasakan kasih sayang Pak Jokowi dengan masyarakat,” terangnya.

Salah satu keluarga korban yang lain, Marufah, menceri­takan bagaimana anaknya, Faisol Riza, dapat selamat dari penculikan tahun 1998. Faisol yang kini menjadi anggota DPR di Fraksi PKB, diculik di sekitar RSCM usai keluar dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jakarta.

Meski anaknya selamat, Marufah tetap ikut memperjuang­kan keadilan bagi korban-korban penculikan yang lain, khu­susnya yang masih hilang. “Saya berharap semoga Jokowi yang terpilih lagi,” tegasnya. tri/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment