Koran Jakarta | June 25 2017
No Comments
Konflik Marawi I Kondisi Pengungsi Warga Marawi Kian Memprihatinkan

Kelompok Maute Diduga Terlibat Perdagangan Narkoba

Kelompok Maute Diduga Terlibat Perdagangan Narkoba

Foto : REUTERS/Romeo Ranoco
Personel pasukan khusus Polisi Nasional Filipina diterjunkan untuk membantu pasukan militer dalam operasi penumpasan kelompok pemberontak Maute di wilayah konflik Kota Marawi, Senin (29/6). Pasukan khusus ini diikutsertakan dan diterjunkan untuk menyusuri tempat-tempat persembunyian pemberontak Maute.
A   A   A   Pengaturan Font

Pemberantasan pemberontakan kelompok Maute memasuki babak baru setelah militer Filipina menemukan narkoba di Marawi dan diduga obat-obat terlarang ini untuk mendanai operasi mereka.

MARAWI – Pasukan militer Filipina menemukan narkoba jenis methamphetamine senilai 2 juta dollar AS sampai 5 juta dollar AS saat menggerebek titik-titik persembunyian para militan garis keras di Marawi. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa operasional para militan, yang diyakini terlibat dalam kelompok Islamic State (ISIS), didanai dari perdagangan narkoba.

Menurut Carlito Galvez, komandan militer Filipina untuk wilayah barat Mindanao, pihaknya menemukan 11 kantung shabu-shabu dan 4 senapan di sebuah dapur dalam rumah dua lantai pada hari Minggu (18/6). Rumah itu diyakini ditinggali oleh para militan dari kelompok Maute.

“Temuan ini memperkuat dugaan bahwa para teroris ini menggunakan obat-obatan ilegal,” kata Galvez, dalam sebuah pernyataannya, Senin (19/6).

Sebelumnya, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengatakan para militan bersenjata di Marawi didanai oleh bandar-bandar narkoba di Mindanao, sebuah kepulauan yang sudah berpuluh tahun dalam kekacauan karena aksi pemberontakan dan kejahatan. Oleh karena itu, Presiden Duterte telah menyatakan darurat bagi wilayah Mindanao.

Sementara itu dalam 4 pekan konflik bersenjata di Marawi, Angkatan Bersenjata Filipina menyebut hampir 350 orang tewas, dimana dari jumlah tersebut terdapat korban 257 orang dari anggota militan, 62 tentara, dan 26 warga sipil.

Kondisi Pengungsian

Sementara itu Menteri Kesehatan Filipina, Paulyn Ubial, mengatakan setelah 4 pekan pecahnya konflik bersenjata di Marawi, sejumlah pengungsi dalam kondisi sekarat karena tempat penampungan yang sudah penuh sesak dan kondisi sanitasi yang tidak bersih. Saat ini sebagian besar penduduk Kota Marawi berlindung di pusat-pusat evakuasi sejak merebak aksi baku tembak.

Dilaporkan Menkes Ubial, kondisi yang memprihatinkan di pengungsian setidaknya telah membuat 24 warga tewas sejak meletupnya konflik bersenjata antara pasukan militer Filipina dan militan garis keras. Dari 24 jumlah korban tewas sebagian besar manula.

Menurut keterangan Alinader Minalang, direktur kesehatan Provinsi Lanao del Sur, yang meliputi Kota Marawi, mengatakan ada sekitar 300 kasus diare, yang terjadi di tengah populasi hampir 40.000 pengungsi Marawi yang berlindung di tempat-tempat darurat. Ditempat-tempat tersebut, puluhan bahkan ratusan orang tidur dilantai dengan satu toilet. Kamp-kamp pengungsi didirikan di aula, tempat olah raga dan sekolah-sekolah.

“Penyebab naiknya kasus-kasus diare adalah karena masalah sanitasi dan kurangnya air bersih,” kata Minalang.

Tarhata Mostare, warga Maute, yang mengungsi di sebuah gedung SMA di Kota Iligan, yang terletak 40 kilometer dari Marawi, menceritakan anak-anaknya mulai jatuh sakit. Di tempat pengungsian tersebut, Mostare tinggal bersama lebih dari 800 orang yang mengungsi dari Marawi.

Terkait kondisi pengungsian yang amat memprihatinkan ini, sebagian besar penduduk Marawi beragama Islam dan mereka saat ini sangat ingin segera kembali pulang agar bisa merayakan Idul Fitri. Akan tetapi, banyak dari rumah-rumah mereka hancur setelah pertempuran berminggu-minggu yang menggunakan bom-bom.

Sementara itu dalam perebutan kembali Kota Marawi dari kelompok Maute, pihak militer Filipina pada Senin kemarin menyatakan mereka hampir meraih kemenangan. uci/Rtr/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment