Koran Jakarta | August 23 2019
No Comments

Kelezatan Abadi Nasi Pecel Madiun

Kelezatan Abadi Nasi Pecel Madiun

Foto : koran jakarta/selocahyo
A   A   A   Pengaturan Font

Jika sedang berkunjung ke Madiun, tentu bagi pemburu kuliner wajib hukumnya mencicipi nasi pecel asli Madiun.

Kota Madiun terletak yang dekat dengan perbatasan antara wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kota ini adalah salah satu kota terbesar di kawasan Mataraman, (bagian barat Jawa Timur yang meliputi Ngawi, Madiun, Ponorogo, Jombang, dan Kediri).

Madiun dikenal memiliki berbagai julukan, mulai Kota Sepur, Kota Gadis, Kota Karismatik, Kota Brem, dan Kota Pecel. Julukan Kota Pecel disematkan karena pecel adalah menu yang melegenda.

Sebagai makanan khas Jawa Timur, julukan Kota Pecel diberikan juga karena Madiun adalah salah kiblat kuliner nasi pecel Jatim, selain pecel Ponorogo, Blitar, Banyuwangi, dan Surabaya, dan Malang.

Saking tenarnya kuliner nasi pecel Madiun, pemerintah setempat membangun patung penjual pecel yang sedang melayani pembeli. Patungnya terletak di pintu masuk kota bagian utara, dekat PG Rejoagung.

Jika anda sedang berkunjung ke Madiun, tentu bagi pemburu kuliner wajib hukumnya mencicipi nasi pecel asli Madiun. Dengan mudah kita akan menemukan warung nasi pecel bertebaran di Madiun.

Sebut saja deretan penjual yang telah populer di Jalan Cokroaminoto seperti Nasi Pecel Pojok, Depot Nasi Pecel 99, Nasi Pecel Bu Wir Kabul, Nasi Pecel Bu Mandung, Nasi Pecel Sri Tanjung, atau Nasi Pecel Yu Gembrot di Jalan Imam Bonjol. Namun bagi anda yang ingin merasakan racikan nasi pecel ‘kuno’ khas pedesaan Madiun, patut mencoba yang satu ini.

Bumbu Khas

Dalam bahasa Jawa, pecel dapat diartikan sebagai ‘tumbuk’ atau ‘dilumatkan, untuk menggambarkan bumbu pecel yang terbuat dari sambal kacang yang ditumbuk. Itu sebagai bahan utama sekaligus sebagai identitas pembeda antara beragam jenis pecel yang ada.

Oleh karena itu, bagi penyuka kuliner, bumbu pecel menjadi tolak ukur layak tidaknya sebuah warung pecel menjadi tujuan. Nah, bila anda ingin merasakan sensasi berbeda nasi pecel ala pedesaan, coba datang Warung Bu (Mbah) Hadi di Dusun Jogobayan, Desa Tiron, Kecamatan Madiun.

Sejak 1950, Mbah Hadi telah berjualan nasi pecel untuk membantu perekonomian keluarga. Tak dinyana, bumbu pecel racikannya banyak disukai warga sekitar hingga makin hari pengunjung warungnya bertambah.

Bermula hanya dikunjungi penduduk desa Tiron, kini pelanggan warung Mbah Hadi datang dari kota, bahkan luar daerah. Terutama pagi hari, pengunjung yang ingin sarapan pecel legendaris ini harus rela antri untuk dilayani.

Seperti halnya penjual nasi pecel lain, pengunjung bisa memilih sendiri isi kelengkapan nasi pecel pesanan mereka seperti jenis lalapan, kerupuk, lauk telur, daging, tahu, kering tempe dan lainnya.

Bahan dasar pembuatan bumbu pecel Mbah Hadi seperti pada umumnya, kacang tanah, gula merah, daun jeruk purut, garam, asam dan bawang putih.

Untuk proses pematangan kacang tanah disangrai. Setelah semua bumbu pecel tersebut lengkap selanjutnya di tumbuk.

Meskipun bahan dasar pembuatan bumbu pecel hampir sama dengan pecel-pecel lain, namun bumbu pecel. Mbah Hadi terasa berbeda.

Sambal kacangnya tidak terlalu lembut, dengan tekstur biji kacang yang sesekali masih terasa di tambah cabainya yang kadang masih utuh, bisa menambah sensasi bersantap. Rasa pedas bumbu pecel terasa pas, dengan aroma jeruk pecel yang juga pas.

Manis gula merah bercampur gurihnya kacang tanah yang digoreng sangrai, disajikan bersama aneka lalapan lengkap seperti lamtoro, daun kemangi, daun pepaya, daun mlinjo, toge, bunga pisang, daun kunci.

Untuk lauk pengunjung tersedia beragam pilihan seperti telur mata sapi, telur dadar, dadar jagung, ikan lele goreng, tahu, kering tempe, dan lainnya. Begitu juga dengan kerupuk, kita biss memilih kerupuk peyek atau kerupuk putih (kerupuk kampung).

Selain sayur lalapan yang direbus berasal dari bahan yang masih segar, ciri khas nasi pecel Mbah Hadi lainnya adalah seluruh proses pembuatan mulai menggoreng lauk dan merebus sayur masih menggunakan kayu bakar dari dahan pohon jati, yang berasal diambil dari hutan Gunung Bedah, di sekitar lereng Gunung Wilis. Hal itu tampak dari aktivitas memasak di dapur kuno Mbah Hadi yang telah berusia lebih dari setengah abad.

Nasi Jotos

Selain nasi pecel, pengunjung juga bisa mencoba menu khas Madiun lain, yakni Nasi Jotos, buatan rumah makan sederhana, yang terletak di ujung persimpangan jalan Dusun Jogobayan itu.

Nasi Jotos adalah sajian sederhana berupa nasi lengkap dengan lauk seperti telur, tempe, lele, tahu dan mie, dengan racikan sambal trasi istimewa.

 

Disebut nasi jotos karena bentuk bungkusannya yang memggunakan daun pisang, menyerupai kepalan tangan yang akan digunakan untuk menjotos (memukul) orang, mirip dengan nasi kucing dari Jogja atau nasi Jinggo dari Bali. Nasi jotos biasanya disantap bersama kopi atau teh hangat, dan paling nikmat disantap malam hari.

Meski tidak sepopuler nasi pecel, sego jotos atau nasi jotos ini sangat disukai warga Madiun. Kita bisa menemukan Nasi Jotos di warung atau angkringan di berbagai sudut Kota Madiun. SB/E-6

 

Dawet Suronatan

 

Setelah puas menyantap hidangan berat, kini saatnya mencoba minuman segar khas dari Madiun. Dawet merupakan minuman khas Jawa yang terbuat dari tepung beras ataupun tepung beras ketan, disajikan dengan es parut serta gula merah cair dan santan.

Es Dawet Suronatan merupakan salah satu kuliner legendaris di kota Madiun. Resep dari es dawet Suronatan ini sudah secara turun temurun sehingga citarasa dari es dawet ini memiliki ciri khas yang tetap terjaga.

Nama Dawet Suronatan diberikan, lantaran minuman tradisional ini pertama kali dijual di Kampung Suronatan oleh almarhumah Maunah, pada 1962.

Seiring bertambahnya pembeli, bersama sang suami, Maunah pada 1970 memilih pindah lokasi depotnya di sebelah barat alun- alun, tepatnya di Jalan Merbabu.

Kini, depot yang juga menyediakan aneka hidangan makanan dan minuman itu dikelola oleh generasi ketiga. Namun kenikmatan Dawet Suronatan tak pernah pudar.

Bubur sumsum, tape ketan hitam, tape kuning dan mutiara merah dengan sensasi manis gurih itu tetap bertahan hingga kini dan menjadi salah satu ikon Madiun.

Tercatat, sejumlah tokoh negeri pernah mencicipi minuman khas Madiun itu, mulai dari orang tua Presiden ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, hingga mantan Panglima TNI Djoko Suyanto.

Dawet Suronatan disajikan dengan mangkuk kecil, beiris paduan gula, santan dan aneka isian membuat dawet ini menggugah selera.

Campuran dawet yang banyak digemari adalah cendol dari tepung beras, bubur sum-sum, ketan hitam dan tape singkong. Sebagian besar bahan-bahan menu minuman ini dibuat sendiri oleh karyawan yang telah mengabdi puluhan tahun di depot itu, sehingga rasanya tetap terjaga.

Ciri khas lain dari depot Dawet Suronatan adalah pemandangan dalam tempat santap itu. Dindingnya dipenuhi oleh kalender klasik dari berbagai tempat usaha di Madiun, yang dipasang berjajar memenuhi hampir setiap sisi depot.

Menurut pengelola depot, Udhi Meilano, pemasangan tanggalan milik berbagai jenis usaha seperto toko baju, bengkel, hingga hotel itu merupakan tradisi yang dilakukan oleh sang pendiri Almarhumah Maunah sejak awal. “Sejak dulu sudah ada, hitung-hitung ikut membantu mengenalkan usaha rekan-rekan yang lain,” ujar cucu Maunah itu.

Selain dawet, pengunjung juga bisa menyantap berbagai hidangan khas rumahan seperti Nasi Sayur Asem dengan isian botok, tempe tepung goreng, dan empal, atau Nasi Garang Asem Ayam Kampung yang disajikan bersama selada, mentimun dan tomat segar.

Selain itu ada jugarawon dan gado-gado, yang menjadi menu favorit pengunjung. Sementara untuk minuman khas tradisional lain yang tak kalah segar adalah es kacang hijau, es kolak, dan es blewah.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment